Cinta Untuk Hana

Cinta Untuk Hana
BAB 25


__ADS_3

Beberapa hari yang lalu..


"Daaah Ayah... hati\-hati dijalan yaaa..." ucap Hana saat mobil Effendi melaju meninggalkan rumahnya. Ia baru saja kembali kembali kerumah setelah seharian ini menghabiskan waktu bersama ayahnya.



Hana lalu memasuki rumah. Rupanya ada Bi Siti yang sedang menonton televisi. Biasanya sore begini Bi Siti sedang duduk menonton acara masak\-masak favorit mereka.



"Wah Non, belanjaannya banyak banget," kata Bi Siti melihat Hana memasukkan banyak sekali kantong belanjaan.



Seharian itu memang ia dan Effendi habiskan dengan mengelilingi seisi mall yang mereka datangi. Ah tidak, lebih tepatnya Effendi yang menarik\-narik tangan Hana agar Hana mau ikut masuk ke setiap toko yang Effendi tuju.



"Gak tahu nih Bi, Ayah semua yang minta aku buat beli. Aku aja sampe bingung mau beli apa lagi," ujar Hana lalu ikut duduk bersama Bi Siti di sofa.



Bi Siti tertawa kecil. Ia merasa senang bahwa Hana bisa merasakan kembali dimanja oleh ayahnya. "Non Hana mau Bibi bikinin teh?" tanya Bi Siti ingin beranjak dari tempat duduknya.



Hana menggeleng. Ia menunjuk perutnya dengan memberi tanda bahwa ia sudah sangat kenyang. Pasalnya selain berbelanja, Hana dan Effendi juga mencoba beberapa jajanan yang ada di dalam mall sebagai balasan karena Hana menuruti semua keinginan Effendi untuk membeli barang\-barang yang Effendi inginkan Hana miliki.



Awalnya Hana enggan menuruti keinginan Effendi karena sejak dulu ibunya selalu mengajarkan untuk tidak boros dan membeli barang\-barang yang hanya dia butuhkan. Dan apa yang Effendi lakukan ini menurutnya adalah pemborosan.



Semua barang yang Effendi tawarkan masih Hana miliki, meskipun dengan merk atau model yang berbeda. Tetapi ia tidak ingin membuat ayahnya bersedih dengan menolak permintaannya. Akhirnya Hana menuruti keinginan ayahnya dengan syarat ia hanya akan membeli satu barang disetiap toko yang mereka masuki.



Hana mulai merasakan lelah pada tubuhnya. Ia kemudian meletakkan sebuah bantal kursi dibagian lengan kursi hendak berbaring sejenak.



"Bi, aku izin lurusin kaki ya? Pegel banget soalnya," izin Hana kepada Bi Siti. Rasanya tidaklah sopan jika ia langsung menaikkan kakinya berbaring disofa itu padahal ada Bi Siti juga duduk disana.


__ADS_1


"Iya Non gak apa\-apa. Sini biar Bibi pijitin kakinya sekalian ya," jawab Bi Siti. Hana tersenyum dan menangkat kedua tangannya diatas kepala membuat gerakan berbentuk hati untuk Bi Siti.



Saat Hana sedang menikmati pijatan Bi Siti pada kakinya, tiba\-tiba ponselnya berbunyi. Ada sebuah pesan singkat yang masuk dari nomor yang tidak ia kenali. Hana membuka pesan tersebut dan membaca isinya.



"Selamat Sore Nn. Ashana E. B., kami dari RD Construction ingin mengabarkan kalau besok Anda akan dijadwalkan untuk wawancara terkait dengan lamaran yang Anda kirimkan kepada perusahaan kami. Untuk detailnya akan kami kirimkan melalui email setelah Anda menerima pesan ini."



Hana membaca sekali lagi pesan itu. Ia kembali mengingat\-ingat kemana saja ia pernah mengirimkan surat lamaran. Sayangnya ia benar\-benar lupa pernah mengirimkan surat lamaran kepada perusahaan ini.



Hana lalu mengecek emailnya. Ah benar, ada satu email baru masuk ke ponselnya beberapa menit yang lalu. Dan pengirimnya benar dari RD Construction. Isi dari email tersebut adalah detail jam, tempat, serta beberapa informasi lainnya yang harus ia ketahui mengenai wawancaranya besok.



Hana lalu bergoyang\-goyang masih dalam posisi berbaring membuat Bi Siti sedikit terkejut. "Non Hana kenapa?" tanya Bi Siti heran.



"Aku dapet panggilan wawancara kerja besok pagi, Bi. Seneng deh!"




Hana tersenyum mendengar ucapan Bi Siti. Ia merasa sangat beruntung ada Bi Siti yang selalu menemaninya dan menyayanginya dengan tulus seperti keluarga sendiri.



"Makasih ya, Bi. Bibi selalu doain aku yang baik\-baik," ucap Hana tulus menatap Bi Siti.



"Sama\-sama Non. Sini Bibi pijat lagi kakinya."


...*****...


Effendi memasuki rumah dengan penuh senyuman diwajahnya. Ia sangat senang hari ini bisa menghabiskan waktu bersama dengan putri tersayangnya. Melissa yang melihat raut wajah Effendi yang sangat senang pun bertanya, "Lagi seneng banget ya, Mas?"


__ADS_1


Effendi menoleh mencari sumber suara Melissa, rupanya ia tidak melihat Melissa sedang duduk diteras samping rumah mereka sedang menikmati teh kesukaannya. Effendi pun menghampiri Melissa.


"Aku habis jalan\-jalan sama Hana, Sa."



"Oh ya? Pantas saja kamu senang banget, Mas. Aku ikut senang dengarnya," Melissa tersenyum. Ia benar\-benar tulus mengatakan senang saat mengetahui suaminya itu menghabiskan waktu hari ini bersama putrinya.



Tidak ada alasan untuk Melissa membenci Hana. Bagi Melissa selama Effendi bahagia, ia pun juga ikut bahagia. Itu semua karena Melissa mencintai Effendi sejak awal mereka menikah. Melissa jatuh cinta dengan perlakuan yang ia dapatkan dari Effendi. Effendi memperlakukannya sangat baik dan sangat menghormatinya sebagai seorang wanita.



Namun sayang, meskipun Effendi memperlakukannya sangat baik, tetapi dihatinya hanya ada Kanaya seorang. Melissa pun akhirnya hanya bisa menunggu dengan sabar kapan hati Effendi bisa terbuka untuknya.



"Sa, aku mau nanya sama kamu. Kalau aku ajak Hana tinggal bareng sama kita disini gimana?"



"Gimana apanya Mas? Malah bagus kan kalau Hana ikut tinggal disini sama kamu. Kalau kamu mikirin soal Maya, aku yakin kok dia bakal ngerti," jawab Melissa.



Effendi menatap kagum pada Melissa. Sejak dulu Melissa selalu mendukungnya. Effendi menjadi merasa bersalah karena belum bisa membuka hatinya kepada Melissa. Ia selalu berharap agar Melissa dan juga Maya kelak akan mendapatkan kehidupan yang bahagia seperti yang mereka inginkan.



"Oh iya Mas, sebentar lagi kan Maya dan Hana wisuda. Gimana kalau nanti kita kasih hadiah ya ke mereka berdua," saran Melissa.



"Oh ya? Aku gak tahu kalau mereka sebentar lagi mereka akan wisuda. Kalau gitu kamu bantu cari hadiahnya ya," jawab Effendi, "aku ke kamar dulu ya mau bersih\-bersih."



Melissa mengangguk setuju. Ia bahagia bisa membuat Effendi senang seperti ini. Lagi pula cepat atau lambat akan tiba waktunya ia akan bertemu dengan Hana. Oleh karena itu Melissa akan berusaha membuat kesan yang baik saat bertemu dengan Hana nanti.



Sama seperti Effendi yang memperlakukan Maya dengan penuh kasih sayang, Melissa juga akan memperlakukan Hana dengan sama. Seperti apa yang ia katakan kepada Maya, ia akan mendapat tambahan kasih sayang dari keluarga baru.


__ADS_1


Namun tiba\-tiba sore itu Melissa merasakan ada yang tidak enak dihatinya. Entah mengapa ia merasa khawatir dengan Maya yang saat itu sedang tidak berada dirumah. Seperti sesuatu yang buruk akan terjadi kepada putrinya itu.


__ADS_2