
Evan berbaring pada kasurnya dan menatap langit-langit kamarnya. Ia terus memikirkan perkataan Maya kepadanya saat dirumah sakit.
"*Kalau lo tanya kenapa gue terus berjalan sampai ke tengah lautan, karena diujung lautan yang gue lihat, ada lo berdiri disana. Tapi gue sadar kalau gue gak akan pernah sampe ditempat lo berdiri, jadi gue nyerah.*
Hidup gue udah gak ada apa-apanya lagi, Van. Hanya lo yang gue harap, tapi gue sadar posisi gue. Jadi lebih baik gue mati aja*."
Kalimat-kalimat itu terus terngiang-ngiang dikepala Evan. Ia tidak akan bisa memaafkan dirinya jika hal buruk kembali terjadi kepada Maya. Namun yang membuat dirinya marah adalah mengapa harus dia yang bertanggung jawab atas hidup Maya.
Evan menyadari kebodohannya karena tidak berpikir panjang memberikan Maya selama ini perhatian sehingga Maya menaruh seluruh hidupnya kepada Evan.
"Evan goblok!!! Harusnya lo mikirin Hana juga!" Evan marah pada dirinya sendiri. Kini ia terjebak dengan perkataan yang ia ucapkan sendiri.
Saat sedang merenungi kesalahannya, Evan samar-samar mendengar ada suara mobil yang berhenti didepan rumahnya. Meskipun begitu, ia tidak peduli.
Evan masih menyelam dalam pikirannya sendiri mencari solusi atas apa yang sedang terjadi. Meski sangat kecil, tetapi Evan turut andil dalam hal itu.
Evan memejamkan mata, kepalanya terasa sangat berat. Tiba-tiba suara ketukan terdengar dari pintu kamarnya. Ternyata Carissa yang mengetuk pintunya.
"Evan, kamu bisa ikut Mama sebentar? Ada Om Effendi ingin bertemu kamu dibawah." Evan mengusap wajahnya dengan kasar. Ada apa lagi kali ini, batinya.
Dengan langkah yang berat Evan berjalan mengikuti Carissa menuju ke ruang tamu bertemu dengan Effendi. Ia melihat raut wajah kedua orang tuanya dan Effendi sangats serius.
"Evan, Om Effendi datang kesini ingin membicarakan mengenai masalah Maya sama kamu," jelas Liam menatap Evan.
Evan tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Ia sangat lelah dan muak dengan masalah ini. Disatu sisi ia, sebagai seorang teman ia sangat khawatir dengan keadaan Maya.
Meski tidak bisa ia pungkiri, hatinya sempat terusik ketika melihat Maya malam itu diacara reuni. Tetapi disisi lain, ia juga harus memikirkan perasaan Hana, kekasih yang ia sayangi.
Dua jam mereka habiskan untuk membahas mengenai solusi dari apa yang Maya alami saat ini. Evan maupun Effendi tidak menemukan jalan keluar yang bisa menenangkan semua pihak. Sampai akhirnya Liam ikut berpendapat.
"Endi, bisa gue ikut ngomong? Sebelumnya maafkan gue atas apa nanti yang akan gue katakan, tetapi menurut gue ini adalah jalan tengah yang paling minim resikonya. Saat ini kita membahas kesehatan mental Maya, yang jika terganggu akan bisa membuatnya bertindak nekat.
Saran gue adalah bagaimana jika Evan menikahi Maya? Dengan begitu perlahan mental Maya bisa pulih dan sehat seperti dulu."
Semua orang yang ada didalam ruangan itu menatap Liam dengan ekspresi berbeda.
__ADS_1
Carissa menjadi orang pertama yang menentang hal itu. "Mas, kamu apa-apaan sih ngomong kayak gitu? Kamu gak mikirin Hana apa?"
Evan berusaha menahan emosinya. "Aku kecewa dengan Papa!" Evan beranjak dari tempat duduknya dan hendak pergi sebelum tangannya ditahan oleh Effendi.
"Evan, tunggu." Effendi ikut beranjak dari tempat duduknya tanpa melepas genggaman tangannya dari tangan Evan. Dan hal mengejutkan terjadi, Effendi berlutut dihadapan Evan.
"Om, apa-apaan ini? Berdiri Om!"
"Tidak Evan. Om tidak akan berdiri sampai kamu menyetujui apa yang Papa kamu katakan. Menurut Om, itu juga jalan yang paling minim resiko." Effendi tetap berlutut dan menundukkan kepalanya.
Ia berusaha menahan tangisnya karena mengingat Hana. Hana pasti akan sangat terluka jika mengetahui ini semua.
"Om tidak mikirin gimana Hana nanti? Hana itu anak kandung Om!" Evan berbicara dengan nada setengah berteriak. Ia sungguh tidak mengerti dengan apa yang ayahnya dan Effendi pikirkan.
Carissa memilih diam. Meski ia tidak menyetujui saran Liam, tetapi nyatanya memang tidak ada jalan keluar lain. Untuk saat ini, menikahkan Maya dan Evan adalah jalan yang paling tepat. Mengingat ketidakpastian kejadian yang Maya alami saat itu.
"Biar Om yang menjelaskan semuanya kepada Hana. Om yakin Hana akan mengerti. Hati Hana sangat luas dan kuat. Kita semua tahu itu." Sesaat semua orang terdiam.
Carissa sudah menggigit bibir bawahnya menahan tangis. Liam menatap lurus kearah tembok dihadapannya. Sementara Effendi masih berlutut dihadapan Evan.
"Baiklah. Aku setuju," jawa Evan lirih, "tetapi tolong, jangan beritahu Hana yang sebenarnya. Katakan kepada Hana, ini semua adalah salahku. Biar dia hanya membenciku saja."
Hana baru menyelesaikan makan malamnya bersama Bi Siti dirumah. Ia lalu membantu Bi Siti membereskan meja makan dan mencuci piring. Hana tengah asik bersenandung ketika tiba\-tiba sebuah gelas terjatuh dan pecah.
Ia buru\-buru membereskan pecahan gelas itu. "Aw!" teriak Hana. Ujung jari manisnya mengeluarkan darah. Rupanya jari Hana terkena pecahan kaca hingga membuatnya luka.
Bi Siti yang mendengar teriakan Hana langsung bergegas menghampiri Hana. "Non Hana gak apa\-apa?" Hana hanya mengangguk dan membersihkan darah dari tangannya.
Hana kemudian mengambil selembar plaster dan membalut luka pada jarinya. Namun betapa terkejutnya ia ketika melihat ayahnya sudah berada di hadapannya.
__ADS_1
"Astaga Ayah! Aku kira gak ada orang. Ayah kapan datang?"
"Baru aja. Ayah ketuk\-ketuk pintu tapi gak ada yang jawab. Jadi Ayah masuk aja. Kamu kenapa? Luka ya?" Effendi melihat Hana sedang membalut jarinya.
"Kena pecahan gelas yang pecah tadi, aku gak apa\-apa kok," jawab Hana santai.
Effendi lalu menuju ke sofa yang terletak diruang tengah rumah Hana. Ia merebahkan tubuhnya disana. Hana melihat ayahnya seperti sangat lelah, tidak.. lebih tepatnya sangat sedih.
Hana ingin bertanya kepada ayahnya tetapi ia ragu. Ia takut membuat ayahnya semakin sedih. Akhirnya Hana hanya duduk di sambil memangku kaki ayahnya.
"Ayah, kakinya aku pijitin ya?" Hana mulai memijat kaki ayahnya. Effendi tidak berkata apapun. Ia hanya memejamkan kedua matanya.
Hening. Tidak ada satupun dari mereka yang mengeluarkan kata\-kata. Sesekali Hana melirik ke arah ayahnya, namun ayahnya tetap memejamkan mata seperti sedang tertidur. Tetapi Hana tahu bahwa ayahnya tidak sedang tidur.
"Hana, apapun masalah yang nanti kamu hadapi kedepannya, Ayah berjanji tidak akan pernah meninggalkan kamu sendirian," kata Effendi.
Hana terdiam sejenak. Ia semakin yakin bahwa ada sesuatu yang sedang terjadi, sesuatu yang membuat ayahnya sangat sedih seperti ini. Hana hanya bisa menebak\-nebak dalam kepalanya apa yang sebenarnya terjadi.
Apakah masalah ini ada hubungannya dengan dirinya, tapi apa? Apa lagi hal buruk yang mungkin bisa menimpanya? Tetapi entah apapun itu, Hana yakin bisa melewatinya. Toh ia sudah pernah melewati yang lebih buruk kan?
__ADS_1