Cinta Untuk Hana

Cinta Untuk Hana
BAB 29


__ADS_3

"Han, hari ini kamu ada waktu gak? Aku pengen ketemu sama kamu." Hana membaca pesan Evan saat sedang sarapan bersama Bi Siti. Hari ini ia sedang libur untuk pertama kalinya setelah selama lima hari ia bekerja.


"Hari ini aku dirumah aja kok gak kemana\-mana." Hana membalas pesan Evan datar. Seharusnya ia senang ketika mendapat pesan dari Evan yang mengajaknya ingin bertemu. Tetapi entah mengapa kali ini ia merasa biasa saja.



Mungkin jauh didalam hatinya, ia jenuh menghadapi sikap Evan belakangan ini yang sudah jauh berubah tidak seperti dulu lagi.



Hana masih selalu menjaga hubungannya tetap baik dengan tidak mempermasalahkan perubahan sikap Evan. Namun lama\-kelamaan ia merasa jenuh juga dengan sikap Evan.



Satu jam berlalu sejak Hana menerima pesan dari Evan. Tak lama kemudian Evan sudah muncul didepan pintu rumah Hana.



Bi Siti lalu mempersilahkan Evan masuk dan segera meninggalkan Evan dan Hana setelah mengantarkan minuman untuk Evan. Seakan Bi Siti paham, ada hal serius yang akan Hana dan Evan bahas kali ini.



"Kamu apa kabar Han? Maaf ya aku jarang balas pesan kamu atau angkat telepon dari kamu. Aku lagi\-\-"



"Aku baik\-baik aja. Makasih udah nanya," Hana langsung menjawab Evan dengan nada datar.



Mereka kembali terdiam. Evan tertunduk menatap lurus kearah kakinya sendiri sedangkan Hana masih membolak balik lembar majalah yang sebenarnya ia tidak baca sama sekali.



Hana menutup majalahnya dan menatap Evan dengan serius. Mungkin ini sudah saatnya ia dan Evan membicarakan kelanjutan hubungan mereka yang sudah mulai renggang ini.



"Van, sebenarnya ada apa? Apa aku punya salah ke kamu? Akhir\-akhir ini aku ngerasa banget kamu kayak menjauh."



Evan masih terdiam. Lidahnya terasa kelu, ia tidak bisa berkata apa\-apa. Ingin rasanya ia menceritakan semuanya tetapi ia sudah berjanji akan membantu Maya. Setidaknya sampai Maya kembali pulih dan masalah yang sebenarnya sudah terungkap.



Hana menghela nafas panjang. Ingin rasanya ia meluapkan rasa marahnya kepada Evan karena Evan hanya tetap diam.



Namun ia tahu, itu akan sia\-sia. Marahnya hanya akan menambah masalah dan tidak menyelesaikan apa\-apa. Hana pun beranjak dari tempat duduknya, ia hendak pergi meninggalkan Evan, tetapi Evan menahan tangannya.



"Tolong tetap disini. Mungkin ini terakhir kalinya aku bisa ketemu kamu," pinta Evan. Hana mengernyit menatap Evan.


__ADS_1


"Maksud kamu apa?" tanya Hana menatap Evan tidak percaya.



Evan tidak bisa menjawab. Ia lalu berdiri dan memeluk Hana dengan erat, seakan itu akan menjadi pelukan terakhir darinya untuk Hana. Tidak.. itu memang akan menjadi pelukan terakhir dari Evan untuk Hana.



"Maafkan aku, Hana. Tolong maafkan aku.." ucapnya lirih, "aku sangat menyayangimu. Tetapi takdir kita mungkin cukup sampai disini. Aku.. aku sudah melakukan sebuah kesalahan dan aku.. aku harus bertanggung jawab."



Tangan Hana mengepal. Ia mengeratkan kedua rahangnya menahan air matanya yang sudah hampir membasahi kedua pipinya. Nafasnya terdengar memburu menahan emosi yang tiba\-tiba memuncak.



Kini ia paham mengapa sikap Evan selama ini berubah dan mengapa hubungan mereka menjadi renggang.



"Cukup. Lepaskan aku." Evan bergeming, ia tetap memeluk Hana. Hana mendorong tubuh Evan menjauh.



Evan kembali mencoba berjalan mendekati Hana tetapi urung ia lakukan ketika Hana menatapnya tajam penuh kebencian. Baru kali ini Evan melihat Hana seperti itu.



Evan kemudian mengeluarkan sebuah kotak kecil dengan pita berwarna merah jambu menjadi hiasannya. Ia meletakkan kotak tersebut diatas meja. Evan berjalan beberapa langkah kehadapan Hana dan membelai lembut pipi Hana. "Tetaplah menjadi Hana yang aku kenal sejak dulu.”


...*****...



Hana pikir kehidupannya sudah mulai membaik sejak ia sudah kembali bisa bertemu dengan ayahnya. Hana pikir hatinya tidak akan terluka lagi setelah ini. Nyatanya takdir tidak semurah hati itu kepadanya.



Seakan luka hati yang sudah tertoreh selama sembilan belas tahun lamanya belum ada apa\-apanya. Takdir kembali menorehkan luka baru kepada hatinya yang belum sembuh.



Hana masih menatap dirinya dicermin. Tiba\-tiba ia tertawa dengan sangat kencang. Saking kencangnya sampai Bi Siti mendengarnya dari balik pintu.



Bi Siti yang sedari tadi khawatir dengan keadaan Hana segera memasuki kamar Hana. Hana masih terus tertawa tanpa menyadari keberadaan Bi Siti.



Tak tega melihat keadaan Hana, Bi Siti langsung memeluk tubuh Hana. Dalam sekejap pula Hana menumpahkan kesedihan yang sedari tadi ia tahan. Bi Siti sungguh tak tega melihat keadaan Hana saat ini.



"Bibi tidak tahu apa yang sedang Non Hana alami saat ini, tapi Bibi mohon, tolong jangan berpikir Non Hana sendirian ya? Ada Bibi disini yang bisa Non Hana jadikan tempat untuk bersandar."


... *****...

__ADS_1


Hana meracau dalam tidurnya. Ia terus memanggil\-manggil ibunya. Setelah malam itu, esoknya Hana mengalami demam tinggi.



Tubuhnya sangat panas hingga wajahnya pun memerah. Hana terus meracau tanpa henti selama kurang lebih lima belas menit.



Bi Siti sangat khawatir, ia takut terjadi sesuatu pada Hana. Ia lalu mengabari Effendi mengenai kondisi Hana.



Tak menunggu lama Effendi langsung pergi menuju kerumah Hana. Namun kali ini ia tidak sendiri, ada Melissa yang ikut bersamanya. Saat itu mereka memang sedang berada dalam perjalanan menuju ke suatu tempat.



Tanpa mengetuk pintu, Effendi langsung menghambur masuk kedalam rumah Hana. "Bi, gimana keadaan Hana? Badannya masih panas?" tanya Effendi memburu. Ia sangat takut terjadi sesuatu pada putrinya.



"Masih panas, Pak. Padalah Non Hana sudah minum obat pagi tadi."



"Bi, maaf, tapi boleh tidak saya minta Bibi untuk ambilin saya air hangat dan handuk kecil?" Melissa dengan hati\-hati meminta tolong kepada Bi Siti. Bi Siti mengangguk dan langsung pergi menuju ke dapur untuk menyiapkan apa yang Melissa minta.



"Kamu mau ngapain, Sa?" tanya Effendi.



"Aku izin buat kompres badan Hana ya, Mas?" pinta Melissa. Sesaat Effendi ragu, namun kemudian ia mengangguk. Effendi yakin Melissa tahu apa yang akan dia lakukan, bagaimanapun juga Melissa adalah seorang ibu.



Bi Siti memasuki kamar dengan membawa semua yang Melissa minta. Melissa meminta Bi Siti tetap berada bersamanya dikamar Hana untuk membantunya mengompres badan Hana. Sementara Effendi ia minta untuk menunggu diluar.



"Mas, kamu tolong tunggu diluar ya. Biar aku dan Bi Siti yang mengompres badan Hana. Aku harus membuka baju Hana soalnya."



Effendi pun duduk menunggu dikursi yang terletak berhadapan dengan pintu kamar Hana. Sudah hampir satu jam ia menunggu, yang ia lihat hanyalah Bi Siti yang bolak\-balik keluar masuk dari kamar Hana membawa air hangat.



Akhirnya tak lama kemudian Melissa dan Bi Siti keluar bersamaan dari kamar Hana dengan membawa semua barang\-barang yang mereka habis gunakan untuk mengompres Hana.



Effendi yang tidak sabar ingin mengetahui keadaan Hana langsung berdiri, namun Melissa memberikan isyarat untuk menunggu.



"Panas Hana sudah jauh berkurang dari sebelumnya, Mas. Sekarang dia masih tertidur. biarkan dia istirahat dulu ya..." jelas Melissa.

__ADS_1



"Ah syukurlah. Aku sangat khawatir sejak tadi. Makasih ya, Sa." Melissa tersenyum mengangguk. Ia dengan tulus ingin merawat Hana.


__ADS_2