Cinta Untuk Hana

Cinta Untuk Hana
BAB 16


__ADS_3

Hana sedang meminum es teh lemon favoritnya saat sedang menunggu kedatangan Carissa. Hari itu ia dan Carissa berencana akan mencari kebaya yang akan ia kenakan saat wisuda nanti. Hana sebenarnya tidak pernah berkata kepada Evan untuk meminta Carissa menemaninya, ini semua adalah iden dari Evan sendiri.


Hana takut akan merasa terlalu canggung berada didekat Carissa. Ia dan Carissa baru dua kali bertemu dan momen saat mereka bertemu pun bukanlah momen yang menyenangkan. Hana takut jika nantinya ia akan memberikan kesan yang buruk kepada Carissa, terlepas Carissa adalah sahabat ayah dan ibunya, Carissa pun adalah ibu dari kekasihnya.



"Halo sayang," sapa Carissa mengejutkan Hana membuat Hana sedikit tersedak. Untung saja Carissa tidak menyadari hal tersebut. Hana dengan menelan minumannya dan memberikan senyuman terbaik yang ia miliki.



"Hai Tante. Maaf ya kalau Hana merepotkan Tante," kata Hana lalu mencium tangan Carissa. Carissa tersenyum, ia kembali teringat sana pertama kali bertemu dengan Hana dirumah sakit dulu.



Setelah berbincang selama lima belas menit mereka berdua memutuskan untuk mencari toko yang menyediakan jasa sewa kebaya. Menurut Hana karena hanya akan dipakai sekali jadi sebaiknya dia menyewa saja.



Mereka menghabiskan waktu selama kurang lebih empat puluh lima menit memilih kebaya yang pas untuk Hana kenakan nanti. Akhirnya pilihan mereka berdua jatuh kepada sebuah kebaya modern dengan aksen manik\-manik disekitar leher dan bangian pergelangan tangan. Serta risleting yg diletakkan dibagian belakang tersembunyi rapih dibalik susunan manik\-manik kecil.



Memiliki warna maroon membuat kebaya itu sangat kontras dengan kulit Hana yang putih. Sedangkan pasangan dari kebaya yang akan Hana gunakan itu adalah sebuah rok batik model wiru dengan warna senada.



Carissa kemudian memasuki sebuah toko sepatu yang diikuti oleh Hana dari belakang. Saat Hana sedang melihat\-lihat sepatu yang terpajang dietalase toko, Carissa menghampirinya dengan sebuah sepasang sepatu ditangannya.



Hana belum menyadari maksud dari Carrisa hingga sepatu itu diletakkan Carissa didepan kaki Hana. “Hana, cobain sepatunya,” kata Carissa sembari menepuk lembut pundak Hana. Hana menjadi semakin bingung dengan sikap Carissa, tetapi ia tetap mengikuti keinginan Carissa untuk mencoba sepatu itu, ia takut Carissa tersinggung.



Hana perlahan mencoba memasukkan kakinya kedalam sepatu itu. Cantik. Sepatu itu terlihat sangat pas dipakai oleh Hana. Perpaduan antara warna emas pada bagian alas telapak kakinya dengan hiasan permata kecil berwarna maroon pada bagian atas sepatu dan pada tali pengikatnya membuat sepatu itu nampak elegan. Sangat cocok jika dipadukan dengan kebaya yang akan Hana gunakan nanti.



“Wah cantik banget, ukurannya juga pas dikaki kamu Hana,” ujar Carissa senang. Hana masih mengagumi sepatu yang ia kenakan itu sehingga belum merespon apa yang Carissa katakan. Dalam hati Hana menginginkan sepatu ini.


__ADS_1


“Mba saya mau ambil yang ini ya untuk anak saya,” kata Carissa kepada seorang pramuniaga yang berdiri disamping mereka.



Hana terkejut mendengar perkataan Carissa. Ia tidak menyangka jika Carissa ternyata memang ingin membeli sepatu ini untuknya. Hana buru\-buru berkata kepada Carissa untuk tidak membelikannya sepatu itu, tetapi Carissa tidak menerima penolakan sehingga Hana mau tak mau harus menerima sepatu pemberian Carissa itu.



Sejujurnya Hana dalam hati merasa sangat bahagia Carissa melakukan hal tersebut. Bukan perihal barangnya tetapi perhatian yang Carissa berikan kepadanya sangat berarti baginya. Karena Hana tidak bisa lagi melakukan aktivitas seperti ini bersama ibunya, ia menjadi sangat berterima kasih kepada Carissa. Apalagi Carissa memperlakukan Hana seperti anaknya sendiri.



Setelah selesai berbelanja, Carissa mengantar Hana pulang. Hana sejak tadi mencoba menahan air matanya. Ia sangat terharu dengan apa yang Carissa lakukan untuknya hari ini. Carissa menyadari perubahan sikap Hana yang menjadi lebih pendiam dari sebelumnya. Ia yakin pasti saat ini Hana jadi sangat merindukan ibunya.



“Hana, maafkan Tante ya kalau Tante sudah melewati batas. Tante sangat senang bisa menghabiskan waktu hari ini bersama kamu. Bagi Tante, kamu bukan hanya sekedar pacar Evan, tetapi kamu juga anak sahabat Tante yang sangat Tante rindukan,” ujar Carissa lembut kepada Hana.



Kali ini Hana tidak bisa lagi menahan air matanya yang perlahan membasahi kedua pipinya. “Tante tidak melewati batas apapun kok, justru Hana sangat bahagia hari ini. Hana belum sempat merasakan pengalaman seperti ini bersama Buna, tetapi Tuhan memberikan Hana kesempatan merasakan ini bersama Tante. Hana sangat berterima kasih akan itu. Hana yakin Buna pasti juga senang diatas sana,” kata Hana tersenyum.


...*****...



Akhir\-akhir ini kesehatan Bramantyo memang sedang terganggu. Ia kerap kali merasakan sakit pada bagian perutnya, menjadi sering tidak nafsu makan dan sulit tidur saat malam hari. Hal itu membuatnya sering tiba\-tiba tidak sadarkan diri, seperti kali ini.


Meski sudah sering melakukan pemeriksaan, namun tetap saja belum diketahui penyebab pasti dari keluhan-keluhan yang Bramantyo rasakan. Dan jika ditanya langsung pada dirinya, Bramantyo hanya mengatakan tidak ada apa-apa.


Effendi dan Alita sangat khawatir dengan keadaan Bramantyo saat ini. Bramantyo menjadi lebih banyak diam dan melamun. Awalnya mereka pikir ini terjadi karena Bramantyo sudah tidak bekerja lagi. Semua urusan mengenai perusahaan telah ia serahkan kepada Effendi. Dan lagi pula umurnya sudah tidak muda lagi untuk terus-terusan berkerja.


“Mi, gimana keadaan Papi? Dokter bilang apa?” tanya Effendi langsung begitu ia bertemu dengan Alita. Bramantyo kini tengah tertidur dengan sebuah selang infus ditangannya.



“Kata dokter Papi gak apa\-apa. Papi sepertinya kurang tidur lagi beberapa hari ini, jadi tubuhnya kurang istirahat,” jawab Alita. Meskipun hubungan Alita dan Bramantyo telah merenggang sejak lama, tetapi Alita masih sangat mencintai suaminya itu.



Keras hati Bramantyo yang membuat hubungan mereka tidak seperti dahulu lagi. Ia kerap memaksakan kemauannya dan bersikap egois demi keinginannya. Hal itu pula yang menghancurkan keluarga putra satu\-satunya yang ia miliki.

__ADS_1



Hubungan Effendi dan Bramantyo pun begitu. Meski mengikuti seluruh keinginan ayahnya, tidak membuat Effendi kembali bersikap hangat kepada Bramantyo. Effendi lebih memilih menghindari bertemu Bramantyo sesering mungkin.



Senyumannya pun ia anggap hanya sebagai formalitas, namun bukan berarti Effendi tidak lagi menyayangi ayahnya. Rasa sayang itu masih ada, meski tidak sebesar dulu. Nyatanya ia masih sangat khawatir dengan keadaan ayahnya saat ini.



“Mi, aku pamit bentar ya. Ada rapat yang gak bisa aku tinggal, tadi aku minta Dani buat undur jamnya, tapi sekarang aku udah harus kesana. Mami gak apa\-apa kan aku tinggal sendiri sebentar?” tanya Effendi. Alita menangguk. Effendi pun pergi setelah mencium tangan Alita dan Bramantyo yang masih tertidur.



Lima menit setelah Effendi pergi, Bramanyo membuka matanya. Rupanya sejak tadi ia sudah terbangun, tetapi ia tetap menutup matanya berpura\-pura tertidur. Bramantyo tahu jika kalau Effendi tidak nyaman berada didekatnya.



Sejujurnya beberapa tahun belakangan ini Bramantyo mulai memikirkan tentang perlakuannya terhadap menantu dan cucunya. Terlebih lagi saat mengetahui bahwa Kanaya telah meninggal. Ada rasa bersalah yang perlahan menggerogoti dirinya.



Entah apa yang telah membuat Bramantyo mulai melunakkan hatinya. Tetapi ia sebenarnya sangat ingin bertemu dengan cucu satu\-satunya yang ia miliki. Ia ingin meminta maaf sebelum semuanya benar\-benar terlambat.



"Alita.." panggil Bramantyo lemah. Alita terkejut tidak menyadari suaminya telah terbangun sejak tadi.



"Mas, kamu sudah bangun? Ada yang sakit? Aku panggil dokter ya?" tanya Alita khawatir. Bramantyo hanya menggeleng. Saat ini bukan dokter yang ingin ia temui, tetapi Hana. Ia tidak ingin menunda lagi untuk bertemu dengan Hana.



"Aku ingin bertemu dengan cucuku," jawab Bramantyo. Alita terlihat kebingungan dengan permintaan suaminya itu.



"Kamu mau aku panggilin Maya kesini, Mas?" tanya Alita memastikan maksud suaminya. Tidak mungkin Bramantyo meminta ingin bertemu dengan Hana.


__ADS_1


"Cucuku Hana, Alita," jawab Bramantyo jelas.


__ADS_2