Cinta Untuk Hana

Cinta Untuk Hana
BAB 23


__ADS_3

Evan terbangun karena ponselnya tidak berhenti berbunyi. Sudah selama lima belas menit ponsel Evan terus berbunyi tanpa henti. Ia lalu melirik ke arah jam yang menunjukkan pukul enam pagi lewat sepuluh menit. Evan setengah menggerutu ketika mengambil ponselnya, pikirnya siapa yang sudah mengganggunya sepagi ini.


Rupanya Maya yang terus meneleponnya sejak tadi. Ada lebih dari sepuluh panggilan tak terjawab dari nomor Maya. Tiba\-tiba perasaan Evan tidak enak, ia langsung segera menghubungi Maya kembali.



Nada sambung terdengar tiga kali sebelum Maya mengangkat teleponnya. Namun anehnya tidak ada jawaban dari Maya, yang terdengar hanya suara isak tangis dari ujung lain sambungan telepon.



Evan berkali\-kali memanggil Maya melalui telepon tapi tetap tidak ada jawaban dari Maya. Ia lalu bergegas mengenakan baju dan segera pergi menuju ke kamar Maya. Untung saja kamar Maya hanya berjarak satu lantai dibawah kamar Evan.



Evan segera berlari menuruni tangga darurat. Ia sangat khawatir dengan keadaan Maya. Semalam Evan meninggalkan Maya masih bersama teman\-temannya. Sehingga ia tidak tahu apa yang Maya lakukan setelah dari bar.



Evan kini sudah berada didepan kamar Maya. Ia lalu mengetuk pintu kamar Maya tanpa henti. Lalu Linda \- salah satu dari teman Maya semalam, membuka pintu dengan ekspresi panik. "Van, Maya dari tadi histeris," ujar Linda panik.



Evan segera memasuki kamar Maya dan betapa terkejutnya dia melihat kamar Maya sangat berantakan. Ia melihat disudut ruangan ada Maya yang sedang menagis histeris sambil memeluk kedua lututnya.



Evan berbalik menatap Linda meminta penjelasan. Linda pun hanya bisa menggeleng karena ia sendiri tidak tahu apa yang sedang terjadi pada Maya. Linda juga baru berada dikamar Maya belum lama sebelum kedatangan Evan.



Pagi itu Linda hendak ingin mengajak Maya sarapan bersama tetapi ia sangat terkejut ketika mendengar teriakan dari arah dalam kamar Maya. Linda segera memanggil petugas penerima tamu untuk bisa membantunya membuka pintu kamar Maya karena ia sangat khawatir.



Linda lalu mendapati Maya sedang menangis histeris memegang seluruh tubuhnya seperti ingin mencakar dirinya sendiri. Ia langsung berinisiatif menelepon Evan, karena nomor Evan yang pertama kali ia temukan didalam daftar panggilan pada ponsel Maya.



Evan mencoba mendekati Maya. Ia melangkahkan kakinya dengan sangat hati\-hati. Perlahan tangan Evan berusaha untuk menyentuh tangan Maya. Namun belum sempat tangan Evan menyentuh kulit tangan Maya, Maya kembali berteriak histeris kali ini menarik rambutnya sendiri.



Evan tersentak kembali mundur, tetapi ia tidak ingin menyerah. Ia harus bisa membuat Maya tenang jika ingin mengetahui apa yang Maya alami. Perlahan ia kembali mencoba mendekati Maya dan berkata, "May, tenang ya.. Ini gue, Evan. Coba lo liat dulu, ini gue, Evan. Tenang dulu ya, May. Ada gue sama Linda disini."

__ADS_1



Linda pun perlahan mencoba mendekati Maya. Maya mulai berhenti berteriak dan melihat sekelilingnya. Ia mulai mengenali wajah Evan dan wajah Linda. Hatinya sedikit lebih tenang. Kali ini Maya menatap wajah Evan dengan penuh keputusasaan.



Maya seperti sedang meminta tolong. Ia kemudian kembali menangis, meski bukan menangis histeris seperti tadi. Evan lalu membawa tubuh Maya kedalam pelukannya. Ia sangat kasihan melihat keadaan Maya yang seperti ini. Sedangkan Linda mengusap lembut rambut Maya mencoba menenangkan Maya.


...*****...


Evan dan Linda berhasil menenangkan Maya. Kini mereka bertiga tengah berada dalam perjalanan menuju rumah Maya. Maya tertidur karena kelelahan setelah menangis histeris cukup lama.


Evan dan Linda disibukkan dengan pikiran mereka masing\-masing setelah apa yang mereka dengar dari Maya saat dihotel tadi. Mereka tidak menyangka Maya akan mengalami hal seburuk itu.



Saat masih dihotel tadi, Maya perlahan menceritakan apa yang masih ia ingat dari kejadian yang ia alami. Rupanya setelah Evan memilih untuk pergi duluan dari bar, salah seorang teman mereka kembali memesan minuman. Namun kali ini minuman beralkohol.



Maya tidak tahu jika minuman yang ia minum telah dicampur alkohol, ia hanya terus meminumnya tanpa curiga. Setelah itu yang ia ingat hanyalah samar\-samar ia mendengar suara teman\-temannya yang masih berpesta, lalu setelah itu ia tidak sadarkan diri.




Maya mulai memikirkan hal yang tidak\-tidak dan terus menangis histeris. Ia teringat akan pengalaman buruknya dahulu yang hampir menjadi korban pelecehan. Maya berpikir mungkin kali ini pengalaman buruk itu sudah terjadi kepadanya, mengingat ia sudah terbangun dengan pakaian yang ia kenakan semalam sudah berserakan dilantai.



"Emang lo semalam gak sampe selesai sama Maya, Lin?" tanya Evan mulai mencoba mengurai masalah.



"Gak, Van. Gue juga balik ke kamar sepuluh menit setelah lo balik," jawab Linda. Ia juga sama pusingnya dengan Evan memikirkan masalah ini.



Evan dan Linda sama\-sama kembali terdiam memikirkan segala kemungkinan. Sesekali Evan menatap ke arah kaca spion untuk melihat keadaan Maya. Maya masih tertidur lelap dengan mata sembabnya.



"Kasihan Maya. Harusnya gue jagain dia. Kita berangkat bareng juga karena dia gak berani berangkat sendiri. Seandainya gue gak balik ke kamar duluan, Maya gak mungkin kayak gini. Ini salah gue," Evan membatin dalam hati.

__ADS_1



Sisa perjalanan mereka habiskan dalam keheningan. Baik Evan maupun Linda tidak ada lagi yang mengeluarkan sepatah kata pun. Evan lebih dulu mengantarkan Linda pulang, sementara Maya masih tertidur dengan lelap.



Saat sudah kembali memacu mobilnya menuju kerumah Maya, ponsel Evan berbunyi. Ada sebuah pemberitahuan pesan singkat yang masuk ke ponselnya. Rupanya pesan dari Hana. Ia menanyakan apakah Evan dan Maya sudah kembali dari puncak ataukah belum.



Evan hanya melihat pesan itu tanpa membalasnya. Bukan menganggap pesan Hana tidak penting, tetapi terus terang saja Evan tidak tahu harus membalas apa. Ingin rasanya ia menceritakan ini kepada Hana tetapi ia takut jika nanti masalah ini semakin besar dan justru membuat Maya semakin trauma.



Maya akhirnya terbangun ketika Evan baru saja memasuki kompleks perumahan rumah Maya. Ia lalu berkata, "Van, gue gak mau pulang dulu."



Evan pun mengangguk. Ia lalu memarkirkan mobilnya disebuah taman yang terdapat didalam kompleks perumahan tersebut. Maya lalu keluar dari mobil dan duduk disebuah kursi yang ada pada tangah taman. Evan pun ikut duduk disampingnya.



"Gue gak tahu apa yang terjadi sama gue semalam, Van. Yang gue tahu sekarang gue udah rusak. Rasanya gue gak pengen hidup lagi," ujar Maya mulai terisak.



Evan sangat merasa bersalah saat mendengar perkataan Maya. Mereka memang tidak tahu apa yang terjadi, tetapi apapun itu saat ini sangat mengguncang jiwa Maya sampai ia bisa berkata tidak ingin hidup lagi.



"Lo jangan ngomong kayak gitu. Ada gue disini, gue gak akan ninggalin lo, May. Gue bakalan jagain lo," ujar Evan mencoba menenangkan Maya.



"Gak usah, Van. Gue udah rusak, gue udah kotor. Gue ibarat barang bekas yang udah gak berguna. Gue pengen mati!" teriak Maya. Evan sangat terkejut sekaligus takut jika Maya berbuat hal yang nekat. Saat ini Maya tidak bisa berpikir dengan jernih.



Evan lalu memeluk Maya dengan erat. "Lo jangan ngomong kayak gitu. Percaya sama gue, gue yang akan tanggung jawab kalau ada apa\-apa sama lo," bujuk Evan.



Maya lalu membalas pelukan Evan yang akhirnya membuat Evan tersadar dengan apa yang barusan ia katakan. Seharusnya Evan tidak menjanjikan hal yang akan sulit ia tepati kepada Maya.

__ADS_1


__ADS_2