
Sudah satu bulan berlalu sejak kejadian yang menimpa Maya pada malam acara reuni yang ia hadiri bersama Evan. Kondisi mentalnya sudah mulai membaik, meski pikirannya tetap terbayang-bayang hal buruk yang ia bahkan tidak tahu apakah sungguh terjadi padanya ataukah tidak.
Tetapi jika mengingat kondisi saat Maya terbangun pagi itu, besar kemungkinan hal buruk memang terjadi padanya. Maya menjadi sangat pendiam dan sering melamun. Ia bahkan lebih sering menyendiri didalam kamar. Membuat Melissa dan bahkan Effendi menjadi khawatir.
Tidak ada satupun yang mengetahui penyebab berubahnya sikap Maya itu, karena memang ia tidak menceritakanya kepada siapa pun. Hanya Evan dan juga Linda yang mengetahui masalah yang sedang dihadapi oleh Maya.
Maya terlalu malu untuk menceritakan masalah ini bahkan kepada ibunya sendiri. Ia juga takut jika Effendi akan membencinya karena masalah ini. Satu\-satunya harapannya saat ini hanyalah Evan.
Maya sangat berharap Evan menepati janjinya untuk selalu berada disampingnya dan menemaninya. Jika tidak, mungkin ia akan sangat putus asa untuk melanjutkan hidup. Maya menganggap dirinya sudah tidak punya apa\-apa lagi.
Ponsel Maya berbunyi, ada sebuah pesan singkat masuk. "May, kamu jangan mikir yang aneh\-aneh ya. Semua sayang sama kamu." bunyi isi pesan Evan. Setiap hari Evan mengirimi Maya pesan berisikan kalimat\-kalimat seperti ini. Pesan\-pesan yang Evan kirimkan membantu jiwa dan pikiran Maya untuk pulih.
Maya menjadi sangat ketergantungan dengan Evan. Sebagian dari dirinya ingin memiliki Evan seutuhnya untuk dirinya sendiri. Namun sebagian lainnya tidak ingin menghianati kepercayaan Hana, terlebih lagi saat ini hubungan Hana dan keluarganya sudah membaik. Hanya tinggal tunggu waktu saja, ia dan Hana akan hidup disatu atap yang sama.
Maya mencoba menenangkan dirinya. Ia harus bisa berusaha untuk pulih dengan usahanya sendiri tanpa mengharap bantuan dari Evan. Meskipun sekali lagi ini adalah kesempatan yang sangat besar untuk mendapatkan Evan, tetapi Maya tetap menolak untuk memanfaatkan kesempatan ini. Ia terlalu takut akan karma yang menunggunya dimasa depan.
"Gue harus bisa untuk pulih. Harus bisa!" Maya menyemangati dirinya sendiri. Ia lalu berdiri dan berjalan menuju sebuah lemari yang terletak disudut ruang tidurnya. Lemari itu berisikan barang\-barang lama Maya yang sudah tidak ia gunakan lagi.
Maya lalu mengambil sebuah album foto. Ia mulai membuka tiap lembaran album itu. Ada banyak foto dirinya bersama dengan ibunya. Salah satunya adalah foto dirinya saat sedang berlibur bersama ibunya disebuah vila keluarga mereka dahulu ditepi pantai.
Maya menatap foto itu sambil tersenyum. Dalam foto itu ia sedang tertawa lebar karena sangat senang bermain ditepi pantai. Lalu sebuah ide muncul dikepalanya. Maya berencana mengunjungi vila itu. Mungkin saja ia bisa menenangkan dirinya disana dan merasa lebih baik.
__ADS_1
Maya berjalan keluar dari kamarnya menuju ke kamar ibunya. Maya lalu mengetuk pintu kamar Melissa beberapa kali sambil bertanya, "Mah, aku boleh masuk gak?"
"Iya sayang masuk aja," jawab Melissa dari dalam kamar.
Maya membuka pintu kamar ibunya dan melangkahkan kakinya masuk. Rupanya Effendi masih belum pulang kata ibunya ketika Maya menanyakan keberadaan ayah sambungnya itu. Maya lalu duduk disebuah sofa yang berada disamping meja rias ibunya.
"Mah, inget gak kita dulu pernah liburan di vila kakek yang dipinggir pantai?" tanya Maya kepada ibunya.
Melissa terdiam berpikir sejenak kembali mengingat kenangan yang Maya katakan. Ia lalu teringat dengan sebuah vila yang orang tuanya miliki dulu sebelum akhirnya dijual karena sudah tidak ada yang pernah mengunjunginya.
"Ingat sayang. Tapi vilanya udah dijual sama Kakek kamu deh kayaknya dulu," jawab Melissa ragu\-ragu, "kenapa? Kamu mau kesana?"
"Ya udah nanti tanya Papa Endi dulu ya," jawab Melissa. Tepat setelah itu Effendi membuka pintu kamar.
"Kamu mau liburan ya, May? Boleh kok nanti tinggal pergi aja, biar Papa yang telepon orang\-orang disana ya buat beresin semuanya," kata Effendi sambil berjalan memasuki kamar. Rupanya Effendi tidak sengaja mendengar omongan Maya saat ingin membuka pintu kamar.
Maya tersenyum gembira. Inilah yang ia tidak inginkan hilang dari kehidupannya, perhatian dan perlakuan penuh kasih sayang yang Effendi berikan kepadanya selama ini. Hal yang ia tidak dapatkan dari ayah kandungnya sendiri.
...*****...
Evan sudah berdiri didepan rumah Hana selama kurang lebih lima belas menit. Bukan karena Hana belum membukakan pintu, Evan bahkan belum mengetuk pintu rumah Hana. Evan sejujurnya belum bisa bertemu dengan Hana. Jika bukan karena Hana mengiriminya pesan berkali\-kali, mungkin tidak akan berdiri didepan pintu rumah Hana saat ini.
__ADS_1
Pikirannya masih terbagi dengan masalah Maya. Evan tidak ingin jika saat lagi bersama Hana ia justru memikirkan masalah Maya. Apalagi jika ia memikirkan mengenai ucapannya sendiri kepada Maya tempo hari, ia sungguh menyesal sudah memberikan harapan kepada Maya.
Berulang kali Evan mengutuk dirinya sendiri karena tanpa pikir panjang berkata akan bertanggung jawab atas diri Maya. Ingin rasanya ia menarik ucapannya itu tetapi ia takut jika Maya akan nekat untuk mengakhiri hidupnya.
"Sial! Sebenarnya apa yang terjadi malam itu?!" murka Evan dalam hati. Ingin rasanya ia berteriak meluapkan segalanya.
Evan mengurungkan niatnya untuk bertemu dengan Hana hari ini, ia berencana akan menghubungi Hana melalui sambungan telepon saja. Hana juga belum mengetahui jika Evan akan kerumahnya hari ini.
"Maaf ya, Han. Gue gak mau lo jadi kena imbasnya karena pikiran gue yang lagi pusing ini," batin Evan.
Evan pun berbalik melangkahkan kakinya menjauh dari pintu rumah Hana, namun terdengar suara yang sangat ia kenali memanggilnya. Hana sudah berdiri didepan pintu menatap punggung Evan.
"Kamu kok gak bilang kalau mau kesini?" tanya Hana bingung.
"Eh sayang, aku kira kamu gak ada. Soalnya aku ketuk\-ketuk pintu rumah kamu gak ada jawaban," jawab Evan berbohong.
Untungnya Hana percaya dengan apa yang dikatakan Evan. Ia lalu mempersilahkan Evan masuk kedalam rumahnya. Mereka lalu bertukar cerita selama kurang lebih satu jam lamanya. Hana menceritakan semua yang ia lakukan dalam beberapa hari ini.
Hana menceritakan bahwa ia sudah diterima bekerja disebuah perusahaan konstruksi dan apa saja yang sudah ia lakukan bersama ayahnya beberapa hari yang lalu saat Evan sedang tidak ada.
"Van, kamu baik\-baik aja kan?" tanya Hana khawatir. Hana bisa merasakan jika ada yang sedang mengganggu pikiran Evan. Ia tahu bahwa kekasihnya itu seperti sedang memikul beban yang sangat berat.
__ADS_1
"Aku lagi gak baik\-baik aja, Han. Aku rindu kamu," jawab Evan. Ia tidak sepenuhnya berbohong kali ini. Evan memang juga merindukan Hana, tetapi bukan itu alasan ia tidak baik\-baik saja.