Cinta Untuk Hana

Cinta Untuk Hana
BAB 13


__ADS_3

Hari-hari berlalu tanpa terasa. Kondisi Hana telah sepenuhnya pulih seperti sedia kala. Hana lebih banyak menghabiskan waktunya berada dirumah. Ada sedikit rasa trauma yang ia alami ketika ingin menginjakkan kaki keluar dari rumah.


Namun mungkin itu hanya alasannya saja. Jauh didalam hatinya, ia sebenarnya sedang menghindari Evan. Hana sebenarnya sangat sedih dan juga merindukan Evan. Hanya saja sejak apa yang ia lihat tempo hari saat masih berada dirumah sakit, Hana menjadi tidak tahu harus bersikap seperti apa kepada Evan.


Entah sudah berapa kali Evan mendatangi rumah Hana, namun Hana enggan untuk menemuinya. Wajar saja, sejak kejadian Hana pergi tanpa pamit kepada Evan saat dirumah sakit waktu itu, sikap Hana mendadak berubah kepada Evan.


Pesan singkat yang selalu Evan kirimkan kepada Hana, tidak selalu dibalas oleh Hana. Hana seperti sedang membuat jarak dalam hubungannya dengan Evan. Hal ini membuat Evan sangat frustasi, karena ia tidak mengetahui alasan perubahan sikap Hana yang sangat mendadak ini.


Kali ini Evan kembali mendatangi rumah Hana, ia harus bisa bertemu dengan kekasihnya itu. Sebelum sempat mengetuk pintu, Hana lebih dulu membuka pintu tersebut. Ternyata Hana sudah melihat kedatangan Evan melalui jendela kamarnya. Kali ini ia memutuskan untuk menemui Evan, ia tidak bisa terus-terusan menghindari Evan.


"Masuk, Van," kata Hana tersenyum kepada Evan. Evan sedikit terkejut ketika melihat Hana membuka pintu. Langsung saja ia memeluk tubuh kekasihnya itu. Evan sangat rindu dan juga mengkhawatirkan kondisi Hana.


"Kamu kemana aja sih, Han? Aku khawatir sama kamu. Kamu jarang banget balas pesan aku, kamu juga susah banget ditemuin. Kenapa waktu itu kamu tiba-tiba pulang gak bilang ke aku?" tanya Evan penuh rasa khawatir.


Hana perlahan melepaskan pelukan Evan, tentu saja setelah ia pun membalas pelukan kekasihnya itu. Tidak bisa ia pungkiri bahwa ia pun merindukan Evan meskipun masih sulit melupakan apa yang ia lihat dan dengar saat itu.


Selama beberapa hari ini menjaga jarak dari Evan, Hana menyadari bahwa ini bukanlah salah siapa-siapa, baik Evan maupun dirinya. Ia berharap bisa tetap memperjuangkan hubungannya bersama Evan. Hana yakin Evan pun akan mau menemaninya melewati ini semua, buktinya Evan tetap mencarinya meski ia mencoba menghindar.


Terlebih lagi saat itu Hana telah bertemu dengan ayahnya, meskipun ia dalam keadaan tidak sadar. Tetapi hal itu sudah membawa secercah harapan untuk Hana akan kehidupan yang lebih baik lagi setelah ini. Badai pasti akan berlalu.

__ADS_1


"Maafin aku ya sudah bikin kamu khawatir," jawab Hana. Ia sadar telah terburu-buru saat mengambil keputusan waktu itu. Seharusnya ia bisa membicarakan hal ini secara terbuka dengan Evan.


"Jangan diulang lagi ya," ujar Evan sambil mencubit gemas pipi Hana. Mereka berdua pun kini tertawa bersama.


Hana lalu mengajak Evan untuk duduk dibangku taman yang terletak disudut luar rumahnya. Sore itu cerah, terlihat dari bentangan langit yang bersih tanpa satupun awan menutupi. Cuaca yang sangat pas untuk menikmati teh kurma buatan Bi Siti sambil berbincang ringan.


Jika biasanya cerita-cerita Evan dapat membuat Hana terbius, sayangnya kali ini Hana lebih banyak melamun sendiri. Evan yang menyadari hal itu lantas mengakhiri ceritanya dengan lesu.


"Han, kamu kenapa sih? Aku ngomong dari tadi tapi kamu kayak gak fokus gitu," tanya Evan. Kali ini ia mulai sedikit kesal dengan sikap Hana yang seperti ini.


Hana sedikit tersentak, ada yang berbeda dari nada bicara Evan. Selama ini Evan tidak pernah berbicara dengan nada seperti itu, ia seperti sedang marah. Kali ini Hana memang salah karena ia sibuk dengan pikirannya sendiri sehingga membuat Evan merasa tidak diperhatikan.


"Van, menurut kamu definisi keluarga yang sempurna seperti apa?" tanya Hana pelan. Evan terdiam. Ia merasa bersalah sudah marah kepada Hana. Kini ia melihat wajah Hana tampak sedih. Evan tahu, ada hal yang menjadi beban pikiran kekasihnya saat ini.


"Aku tahu, Van. Aku tidak sengaja mendengar obrolan kalian waktu itu. Maafkan aku ya, masalah keluargaku pasti sangat berat buat kamu. Aku tidak akan memaksa kamu untuk tetap tinggal, Van. Saat ini kita berdua berada dipersimpangan jalan, aku tahu langkahku akan kubawa kemana. Kita bisa berjalan berdampingan atau kamu memilih jalan sendiri, aku tidak akan memaksa kamu," kata Hana tersenyum.


Kini ia pasrah apapun jawaban Evan. Hana tidak ingin memaksa Evan untuk tetap bersamanya. Ia akan tetap melanjutkan tujuannya untuk memulai kehidupan yang lebih baik dengan atau tanpa Evan. Meski jauh dilubuk hatinya yang paling dalam, ia tidak ingin Evan pergi.


...*****...

__ADS_1


Sore itu Maya memutuskan untuk menghabiskan waktu dengan bersantai di halaman belakang rumahnya. Ia sedang membaca sebuah majalah hingga fokusnya teralihkan ketika mendengar suara ayah sambungnya sedang berbicara dengan seseorang.


Maya lalu menutup majalahnya dan segera mencari keberadaan Effendi. Ia lalu mendapati Effendi sedang berbicara dengan orang kepercayaannya, Dani. Maya melangkahkan kakinya menuju pintu masuk rumah dengan sangat pelan, lalu berdiri tanpa suara layaknya sebuah patung. Ia tidak ingin keberadaanya yang sedang mencuri dengar diketahui oleh Effendi dan Dani.


"Putranya Liam berpacaran dengan Hana? Ravi maksud kamu?" tanya Effendi kepada Dani.


"Bukan Pak, tapi yang bernama Evano. Mereka sudah menjalin hubungan selama dua tahun terakhir ini," jawab Dani.


"Ah iya, saya lupa kalau Liam memiliki anak yang seusia dengan Hana. Lalu apakah hubungan mereka baik-baik saja?" tanya Effendi penasaran.


"Sepertinya saat ini tidak, Pak. Nona Hana tidak sengaja mendengar percakapan Evano dengan kedua orang tuanya. Setelah itu Nona Hana melihat ekspresi Evano seperti sangat frustasi. Mungkin itu alasan Nona Hana langsung keluar dari rumah sakit pada saat itu juga meskipun kondisinya belum sepenuhnya pulih," jawab Dani ragu-ragu.


"Memangya apa yang Liam dan Carissa katakan kepada Evano?" Effendi kembali bertanya, ia benar-benar ingin tahu apa yang terjadi pada hari dimana Hana pingsan.


"Pak Liam menceritakan mengenai Bapak dan Ibu Kanaya, dan bagaimana kehidupan Hana dulu. Dari yang saya dengar, Pak Liam menyampaikannya dengan sehalus dan sebaik mungkin. Ia seperti ingin membuat Evano bisa mengerti keadaan Nona Hana. Tetapi sepertinya hal itu masih sulit diterima oleh Evano," jelas Dani dengan detail.


Maya terkejut dengan apa yang barusan ia dengar. Ia sama sekali tidak menduga jika Effendi mengenal orang tua Evan. Sebuah senyuman terukir dibibir tipis Maya.


Maya perlahan beranjak menuju ke kamarnya tanpa terlihat oleh Effendi dan Dani. Ia buru-buru menaiki tangga dan memasuki kamarnya. Setelah memasuki kamar, Maya merebahkan tubuhnya pada sofa kamar tidur yang terletak dibawah jendela.

__ADS_1


Ting!


Sebuah pesan singkat masuk ke ponsel Maya. Senyuman kembali terlihat diwajahnya begitu ia melihat nama pengirim pesan tersebut. Ternyata dari Evan dan ia ingin mengajak Maya untuk bertemu. Meskipun tidak tahu apa maksud dari Evan untuk mengajaknya bertemu, tetapi Maya dengan senang hati menerima ajakan tersebut.


__ADS_2