Cinta Untuk Hana

Cinta Untuk Hana
BAB 20


__ADS_3

Maya menuruni tangga rumahnya menuju ruang makan untuk sarapan seperti biasa. Rupanya pagi ini ia menjadi yang paling terakhir memasuki ruang makan. Saat ia tiba diruang makan, sudah ada Alita, Bramantyo, Effendi serta Melissa tengah menyantap sarapan.


"Tumben telat turunnya, biasanya kamu yang paling *on time*, May," sapa Effendi tersenyum. Maya sedikit bingung melihat sikap ayah sambungnya itu. Bukannya Effendi tidak pernah bersikap ramah padanya, tetapi sikapnya kali ini berbeda.



"Capek banget kemarin habis sidang, Pah. Tenaga aku terkuras semua kayaknya," jawab Maya. Maya lalu memperhatikan sekitar, ternyata bukan hanya Effendi yang sikapnya berubah. Tetapi juga Bramantyo dan Alita.



Mereka berdua terlihat lebih akrab bahkan sedikit mesra. Sangat berbeda dengan sikap mereka selama ini satu sama lain. Alita selalu memperlakukan Bramantyo dengan dingin dan jarang bertegur sapa.



Begitupun antara Effendi dan Bramantyo, yang Maya lihat sejak dulu adalah Effendi yang selalu berusaha menghindari Bramantyo, mereka hampir tidak pernah berbicara lebih dari lima kata. Namun kali ini, mereka justru bercakap\-cakap dengan santai bahkan sesekali mereka tertawa kecil bersama.



"Pasti ada sesuatu yang terjadi," batin Maya. Kini pandangannya tertuju pada ibunya yang sedari tadi ternyata telah memperhatikan Maya yang kebingungan melihat perubahan sikap anggota keluarganya yang lain.



Melissa hanya tersenyum mengisyaratkan bahwa ada hal baik yang telah terjadi. Maya pun mengangguk mengerti dan mulai menyantap sarapannya. Jujur saja, ia pun merasa senang melihat perubahan sikap mereka. Mereka lebih terlihat seperti keluarga pada umumnya saat ini.



Setelah menyelesaikan sarapannya, masing\-masing dari mereka melanjutkan kegiatan masing\-masing. Sedangkan Maya dan Melissa yang memilih untuk membaca majalah ditaman belakang rumah. Udara pagi itu sangat sejuk untuk dinikmati sambil bersantai ditaman.



"Mah, sebenarnya ada apa? Sikap Papa, Opa dan Oma kok jadi beda?" tanya Maya. Ia sudah tidak bisa membendung rasa penasarannya.



"Opa Bram sama Oma Alita kemarin habis ketemu sama anak kandung Papa Endi. Dari yang Mama dengar sih Opa Bram mendatangi cucunya itu buat minta maaf," jawab Melissa tetap menatap majalahnya.



Kini Maya mengerti alasan perubahan sikap dari ketiga orang tersebut. Rupanya karena Hana. Ia merasa bahwa memang ada sesuatu yang ada pada diri gadis itu sehingga membuatnya begitu spesial dimata banyak orang.


__ADS_1


Namun tiba\-tiba saja ada rasa takut yang muncul dalam hati Maya. Sejujurnya ia takut jika Hana telah kembali kedalam kehidupan keluarga Bramantyo, ia akan kehilangan seluruh perhatian dan kebaikan dari keluarga sambungnya itu.



Seakan bisa membaca rasa takut pada putrinya, Melissa mencoba menenangkan Maya, "Sayang, Mama tahu kamu pasti khawatir. Tapi kamu harus ingat, bahwa tempat Hana memang disini sejak awal bersama dengan keluarganya.



Dengan datangnya Hana kedalam kehidupan kita, membuat kita tidak kehilangan perhatian dan kasih sayang, melainkan akan bertambah. Jadi Mama mau kamu jangan anggap ini hal yang buruk ya? Mama yakin setelah ini semua akan baik\-baik saja."



"Iya, Mah...," jawab Maya.



Maya mencoba menenangkan dirinya setelah mendengar perkataan ibunya. Setelah beberapa bulan ini menjalin hubungan pertemana dengan Hana, Maya yakin bahwa Hana akan memperlakukannya dengan sangat baik sebagai seorang saudara.



Maya lalu menatap layar ponselnya, waktu sudah menunjukkan pukul sembilan lewat tiga puluh menit. Ia pun teringat bahwa siang ini ia akan pergi bersama Evan untuk menghadiri acara reuni sekolah mereka.



*****


Waktu sudah menunjukkan pukul dua belas lewat empat puluh menit ketika sebuah mobil SUV putih berhenti didepan rumah Maya. Maya bergegas membawa tas kopernya menuruni tangga teras rumahnya setelah berpamitan.



Saat pagar terbuka ia sudah melihat Evan menunggu dengan pintu bagasi mobil yang sudah terbuka. Maya lalu memasukkan tas kopernya kedalam mobil Evan dan langsung berpindah untuk memasuki mobil tersebut. Mereka tidak bisa membuang waktu lebih banyak jika tidak ingin terjebak dalam lalu lintas yang padat menuju tempat tujuan mereka.



Mobil mereka pun melaju. Selama hampir dua jam hanya suara penyanyi dari radio yang terdengar. Maklum saja selama ini mereka belum pernah pergi hanya berdua saja. Entah mengapa Maya berinisiatif mengajak Evan pergi bersama dan Evan pun menyetujuinya.



Jika saja saat ini Maya masih dengan tekadnya ingin mendapatkan Evan tentu saja ini merupakan kesempatan bagus untuknya mendekati Evan. Tetapi tidak, Maya tidak ingin mengambil kesempatan dibelakang Hana. Maya sudah berjanji pada dirinya sendiri tidak akan mengganggu hubungan Evan dan Hana.


__ADS_1


Ia memang masih mencintai Evan, tetapi kini Maya akan menunggu Evan sendiri yang membuka hati kepadanya tanpa paksaan dan itupun jika ia sudah tidak bersama dengan Hana lagi. Maya tidak ingin dicap sebagai perebut kekasih orang apalagi itu kekasih saudara tirinya sendiri.



Maya percaya jika takdir sudah memutuskan ia akan bersama dengan Evan, tanpa ia berusaha pun pasti ia akan bisa bersama Evan.



"Oh iya, Van. Hana sudah ketemu sama ayahnya loh, sama opa omanya juga. Kamu udah tahu belum?" tanya Maya akhirnya memulai pembicaraan.



"Hana belum ngomong apa\-apa ke gue," jawab Evan singkat. Evan sangat bahagia mendengar apa yang barusan Maya katakan. Akhirnya Hana bisa juga bertemu dengan ayahnya.



Evan tahu bahwa Hana sangat merindukan ayahnya. Tidak sia\-sia Hana bertahan dan bersabar selama ini. Perlahan kehidupannya mulai membaik. Ia jadi tidak sabar untuk bertemu dengan Hana. Ia selalu suka melihat wajah Hana yang berseri bahagia.



Pembahasan mengenai pertemuan Hana dengan ayah juga kakek neneknya tidak berlanjut lagi. Dengan respon Evan yang seadanya, membuat Maya mengganti topik pembicaraan. Maya juga sadar rasanya tidak tepat membahas mengenai kehidupan pribadi Hana, ia takut Evan akan salah paham.



Maya pun mengganti topik pembicaraan dengan membahas kenangan semasa sekolah dulu. Kali ini Evan merespon dengan lebih antusias. Sepanjang sisa perjalan mereka habiskan dengan bertukar cerita dengan santai.



"May, gue penasaran, sebenarnya apa yang buat lo suka sama gue?" tanya Evan ragu\-ragu. Sungguh Evan tidak bermaksud lain bertanya seperti ini kepada Maya, ia hanya benar\-benar ingin tahu apa yang membuat Maya sangat menyukai dirinya sampai dulu ia bahkan meneroro Hana untuk melepaskannya.



Wajah Maya berubah menjadi merah padam. Ia tidak tahu harus menjawab seperti apa. Yang Maya tahu ia tidak hanya menyukai Evan, tetapi ia juga mencintai Evan dengan seluruh hatinya.



"Gue gak tahu alasannya apa, Van. Yang gue tahu, dihati gue cuma ada lo," jawab Maya dengan malu\-malu.



Ini sungguh bukan rencana Maya. Ia benar\-benar sedang tidak merencanakan apa\-apa, tetapi sekali lagi takdir seperti sengaja memberikan ia kesempatan.

__ADS_1


__ADS_2