
Maya melangkahkan kakinya menyusuri tepi pantai. Sore itu matahari terbenam terlihat sangat cantik menghiasi langit. Pantulan cahayanya menghiasi langit. Suara deburan ombak bagai alunan musik yang menenangkan hati.
"Ah.. rasanya tenang sekali disini...," ucap Maya memandangi lautan.
Matahari telah hilang sepenuhnya dan kini langit sudah mulai gelap, tetapi Maya masih betah berada ditepi pantai menikmati suara deburan ombak. Air laut perlahan menyentuh jari\-jari kakinya. Tetapi Maya tetap tidak perduli.
Suara deburan ombak benar\-benar seperti menghipnotis Maya. Kali ini Maya justru berdiri dan berjalan menuju ketengah lautan. Matanya lurus menatap kearah lautan yang kini sudah menghitam karena pantulan cahaya langit yang sudah gelap.
Maya terus berjalan tanpa berhenti meski sekarang setengah tubuhnya sudah tak terlihat lagi. Entah apa yang ada didalam pikiran Maya, ia terus berjalan seperti ada yang menunggunya diujung sana.
Langkahnya pun tetap tidak terhentikan ketika seseorang berteriak memanggilnya. Maya kemudian merentangkan kedua tanganya dan perlahan menjatuhkan tubuhnya.
"Gue pengen istirahat sebentar aja," ucapnya. Hilang. Kini tubuh Maya benar\-benar hilang ditelan lautan.
...*****...
Evan memacu mobilnya secepat mungkin ketika mendengar kabar bahwa Maya dilarikan kerumah sakit setelah ditemukan tenggelam beberapa jam yang lalu. Saat itu Evan sedang mengantarkan ibunya untuk berbelanja. Namun saat mendapatkan kabar tersebut, akhirnya Evan dan juga Carissa segera ke rumah sakit.
Setelah menempuh perjalanan selama setengah jam akhirnya mereka tiba dirumah sakit tempat Maya dirawat. Saat mereka sampai, disana sudah ada Effendi dan Melissa yang terlihat sangat khawatir menunggu kabar mengenai kondisi Maya.
Carissa tidak menyangka akan bisa bertemu dengan Effendi disini. Saat Effendi menyapanya, ia hanya bisa membalasnya dengan canggung.
Mereka semua masih menunggu selama hampir satu jam sampai akhirnya seorang dokter datang menemui mereka. Tuhan rupanya belum mengizinkan Maya untuk meninggalkan dunia ini. Untungnya Maya masih bisa diselamatkan.
Mereka semua akhirnya bisa bernafas lega mendengar hal yang dokter sampaikan. Sementara itu Maya akan dipindahkan ke ruang rawat setelah kondisinya dipastikan baik\-baik saja.
"Dokter, apa saya bisa melihat anak saya sekarang?" tanya Melissa dengan cemas.
"Boleh Bu. Tapi cuma dua orang saja ya yang boleh masuk," jawab dokter itu.
Tanpa menunggu lama lagi Melissa dan Effendi langsung masuk untuk melihat kondisi Maya. Mereka sudah sangat khawatir sejak menerima telepon dari penjaga resort yang Maya tempati.
__ADS_1
Melissa dan Effendi pun akhirnya keluar setelah lima belas menit bersama Maya didalam ruang gawat darurat. Effendi lalu menghampiri Evan yang tengah duduk bersama dengan ibunya.
"Evan, Maya mencari kamu. Dia ingin ketemu kamu katanya," ujar Effendi.
Evan pun langsung berdiri untuk pergi menemui Maya. Sejak tadi ia juga sangat khawatir dengan kondisi Maya.
...*****...
Melissa sedang pergi mengurus segala keperluan untuk Maya selama nanti ia akan dirawat dirumah sakit, meningglkan Carissa dan Effendi didepan ruang gawat darurat.
Suasan hening dan canggung tidak bisa dihindari diantara mereka berdua. Sampai pada saat Liam datang atas panggilan Carissa disana. Liam berjalan menyusuri koridor rumah sakit menuju ke tempat Carissa menunggunya.
Dari kejauhan ia melihat Carissa sedang duduk sambil memainkan ponselnya dan Effendi yang berdiri menatap langit\-langit rumah sakit dengan tatapan kosong. Langkah Liam terhenti. Ia lama menatap sahabatnya itu dari kejauhan.
Liam memang sudah yakin pasti akan ada Effendi disana, tetapi tetap saja ia rasanya belum siap untuk bertemu dengan Effendi. Lebih tepatnya ia tidak tahu harus mengatakan apa saat kembali bertemu dengan sahabatnya itu.
Sejujurnya Liam merasa sedikit kecewa ketika Effendi memutuskan untuk menjauh dari dirinya. Ia merasa Effendi seperti tidak menganggapnya sebagai sahabat dekat yang akan selalu bisa Effendi andalkan.
Effendi menoleh tepat saat Liam sudah berdiri disampingnya. Mereka saling menatap satu sama lain selama beberapa detik sebelum akhirnya Effendi memeluk Liam dan meminta maaf.
"Maafin gue.. maafin gue Liam."
Liam menepuk punggung sahabatnya itu berusaha menenangkan. Ia merasakan rasa bersalah dari dalam diri Effendi.
"*It's okay*.. gue tahu pilihan lo sulit saat itu."
...*****...
Evan berjalan keluar dengan langkah berat. Wajahnya datar tanpa ekspresi. Kepalanya terasa penuh, ia ingin sangat ingin berteriak.
Evan langsung bertatapan mata dengan Effendi ketika ia keluar dari ruangan gawat darurat setelah berbicara dengan Maya. Ia bisa merasakan tatapan Effendi seperti meminta penjelasan kepada Evan atas apa yang menimpa putri sambungnya.
__ADS_1
Namun Evan tidak bisa berkata apa\-apa sekarang. Pikirannya masih dipenuhi oleh pembicaraannya dengan Maya didalam ruangan tadi. Evan harus mengambil langkah dengan hati\-hati. Jika tidak, akan banyak hati yang akan terluka, bahkan ada nyawa Maya yang ikut menjadi taruhannya.
"Pah, Mah, aku pulang duluan ya," kata Evan dengan nada datar.
"Mama ikut kamu pulang ya, Van. Biar Papa yang disini dulu."
Evan tidak menjawab, ia hanya terus berjalan setelah mendengar perkataan ibunya. Semua orang yang ada disana saat itu yakin ada hal serius yang sedang terjadi kepada Maya dan hanya Evan yang mengetahui hal itu.
...*****...
"Evan, sebenarnya apa yang terjadi dengan Maya?" tanya Carissa memecah keheningan diantara dirinya dengan Evan. Sejak tadi Evan hanya diam tidak mengatakan apapun. Hal ini membuat Carissa khawatir dan juga penasaran dengan apa yang sebenarnya terjadi.
Carissa bertanya\-tanya sedekat apa hubungan Evan dengan Maya sampai Evan terlihat sangat khawatir dengan kondisi Maya.
Carissa sekali lagi mencoba membuat Evan memberitahukan kepada dirinya apa sebenarnya yang terjadi, "Evan, tolong jangan sembunyikan apa\-apa dari Mama. Mama tahu kamu berusaha menyelesaikan apapun yang sedang terjadi saat ini sendirian dengan cara kamu.
Tapi akan jauh lebih baik kalau kamu menceritakannya kepada Mama atau Papa, siapa tahu kami bisa bantu kamu untuk cari solusinya. Jadi Mama tanya sekali lagi, apa yang sebenarnya terjadi dengan Maya dan mengapa kamu sampai terlibat?"
Evan menepikan mobil yang ia kendarai. Ia tidak bisa lagi menahan semuanya sendirian. Ibunya benar, ia harus menceritakan ini kepada orang lain siapa tahu ada jalan keluar lain yang bisa ia dapatkan untuk masalah Maya.
"Mama ingat sebulan yang lalu aku pergi ke acara reuni sama Maya?" ujar Evan memulai ceritanya. Carissa mengangguk.
"Sesuatu yang buruk Maya alami pada malam setelah acara reuni itu selesai, Mah,"
Evan lalu menceritakan semua yang ia alami dan ketahui mengenai apa yang terjadi pada Maya malam itu dan juga mengenai apa yang sudah ia katakan kepada Maya. Sejak saat itu iya tidak berhenti mencari tahu mengenai masalah ini. Ia sudah menghubungi semua teman\-teman mereka yang ada pada malam itu.
Kecuali ada satu teman Maya yang tidak bisa ia temukan kontaknya. Meskipun Evan sudah mencarinya tetapi belum ada hasil, dia adalah Alisya. Alisya adalah orang yang terakhir terlihat bersama dengan Maya pada malam itu.
Menurut beberapa teman mereka, Alisya terkenal dengan pergaulan bebasnya. Dia memang sering mendatangi bar ataupun diskotik dan hampir selalu mabuk\-mabukan. Tidak jarang dia berakhir tidur dengan orang asing setelah mabuk semalaman.
__ADS_1
Hal itulah yang Evan takutkan terjadi kepada Maya karena Alisya yang terakhir bersama dengan Maya pada malam itu. Sayangnya Alisya tidak bisa dihubungi.