
Hana sudah terbangun dari tidurnya sejak pukul lima pagi. Hari itu rencananya ia akan bertemu dengan Effendi. Ternyata semalam Effendi memaksakan pulang lebih cepat dari jadwal agar esok harinya bisa ia gunakan untuk bertemu Hana.
Hana menatap pantulan dirinya dicermin dengan penuh keyakinan. Setelah lebih dari satu jam memilih\-milih pakaian akhirnya ia menemukan pakaian yang ia rasa cocok untuk ia gunakan hari itu.
Maklum saja, ini kali pertamanya ia akan menghabiskan waktu dengan ayahnya. Hari itu Hana mengenakan rok jeans selutut yang ia padukan dengan sebuah kaos berlengan tiga perempat dan sepasang sepatu kets berwarna senada.
"Pagi\-pagi gini udah rapih aja, Non," tegur Bi Siti saat melihat Hana keluar dari kamar.
"Pagi Bi... Hari ini aku mau jalan sama Ayah," ujar Hana tersenyum. Bi Siti ikut tersenyum mendengar ucapan Hana. Ia ikut bahagia melihat akhirnya Hana bisa bertemu dan mulai dekat dengan ayahnya.
Hana melahap roti bakar dengan selai nanas buatan Bi Siti sambil mengecek ponselnya. Sejak semalam Evan belum mengabari apa\-apa kepada dirinya. Ia sedikit khawatir karena tidak biasanya Evan seperti itu. Justru Evan yang akan kesal jika Hana tidak membalas pesannya atau tidak memberinya kabar.
Hana mencoba meredam rasa khawatirnya dan mencoba untuk tetap tenang. Pikiran dan hatinya harus dalam kondisi yang baik dan tenang hari ini karena untuk pertama kalinya setelah sembilan belas tahun lamanya ia akan menghabiskan waktu bersama ayahnya.
Tak lama kemudian sebuah ketukan terdengar dari arah pintu ruang tamu. Bi Siti segera berjalan menuju pintu dan membukanya. Rupanya Effendi sudah datang.
"Silahkan masuk, Pak. Non Hana masih sarapan," kata Bi Siti mempersihlahkan Effendi masuk. Effendi lalu melangkah masuk mengikuti Bi Siti menuju ruang makan. Disana ia melihat Hana sedang menghabiskan sarapannya.
"Ternyata sampai sekarang kamu masih suka roti bakar pakai selai nanas ya, Han," ujar Effendi sambil mengusap kepala putrinya itu.
Hana menyengir dan bertanya, "Ayah sudah sarapan?"
Effendi menjawab dengan anggukan. Tetapi ia kemudian mengambil sebuah gelas yang ada dimeja dan menuangkan jus jeruk kedalamnya. Lalu Effendi memberikan gelas berisi jus itu kepada Hana. Hana kembali tersenyum melihat ayahnya, ternyata Effendi masih ingat hal yah ia sukai.
__ADS_1
"Hari ini kita mau kemana, Yah?" tanya hanya setelah menyelesaikan sarapannya.
"Ayah pengen ke satu tempat, sisanya kamu aja yang tentukan sayang," jawab Effendi.
Hana mengancungkan jempol kepada ayahnya tanda setuju. Ia lalu membereskan piring dan gelas yang telah ia gunakan sewaktu sarapan tadi. Hana juga merapihkan meja makan agar kembali bersih. Ia lalu berpamitan pada Bi Siti yang sedang berada di dapur.
Melihat Hana melakukan itu semua membuat Effendi sangat kagum dan bangga kepada putrinya. Sikap yang ia tunjukkan sangat luar biasa. Hana tumbuh menjadi pribadi yang mandiri serta bertanggung jawab dan juga memiliki rasa hormat yang tinggi kepada orang yang lebih tua.
Mata Effendi sedikit berkaca\-kaca kala ia mengingat selama ini Hana tumbuh dewasa hanya bersama Kanaya tanpa dirinya mendampingi. Meski begitu, Kanaya telah berhasil mendidik Hana dengan sangat baik.
...*****...
Hana menaburkan bunga diatas pusara ibunya yang telah ia dan ayahnya bersihkan. Effendi lalu meletakkan seikat bunga mawar putih kesukaan Kanaya yang ia beli disebuah toko bunga saat sedang menuju ke makam istrinya itu.
Hana dan Effendi sama\-sama berlutut disamping makam Kanaya sambil berdoa didalam hati masing\-masing. Berharap orang yang mereka sayangi itu tenang dialam sana. Effendi mengusap lembut batu nisan Kanaya lalu menciumnya.
Hana menatap sedih ayahnya. Ia bisa melihat kesedihan yang terpancar dari tatapan mata ayahnya yang menatap sendu nisan ibunya. Mungkin jika sejak dulu ibunya tidak pernah mengajarkannya tentang sabar dan memaafkan, pasti saat ini Hana masih terus membenci dan tidak akan mau memaafkan keluarga ayahnya.
Hana lalu memeluk lengan Effendi dan menyandarkan kepalanya dibahu ayahnya. Kini ia bisa berbagi kerinduan yang sama kepada orang lain. Ia tidak perlu lagi merindukan ibunya sendirian karena kini ayahnya sudah kembali bersamanya.
Effendi lalu berbalik dan mencium ubun\-ubun putri kesayangannya itu. Mereka kini bisa saling menguatkan satu sama lain. Sudah tidak ada lagi jarak yang bisa memisahkan mereka kecuali kematian.
Setelah puas melepas rindu, mereka pun beranjak meninggalkan makam Kanaya. Kini tujuan mereka hanya akan menghabiskan waktu melakukan berbagai hal ayah dan anak yang sudah lama tidak mereka lakukan sejak terpisah dahulu.
__ADS_1
"Jadi kemana kita setelah ini?" tanya Effendi sebelum menyalakan mesin mobil. Hari ini ia memutuskan untuk meliburkan Dani. Ia hanya ingin menghabiskan waktunya berdua dengan putrinya itu.
"Aku boleh minta jajan gak, Yah?" tanya Hana balik. Effendi tertawa mendengar pertanyaan Hana. Ia kembali teringat saat Hana masih kecil dulu yang sangat gemar jajan.
"Yaudah kita ke mall aja ya kalau gitu. Kamu bisa jajan sebanyak yang kamu mau," jawab Effendi sambil mencubit pipi Hana.
Hana meringis namun setelah itu ia tertawa. Hatinya sangat bahagia bisa menghabiskan waktu bersama dengan ayahnya lagi seperti dulu.
Mereka menghabiskan waktu selama tiga puluh lima menit untuk menuju sebuah mall daerah selatan kota. Hana memang lumayan sering berkunjung ke mall, tetapi tidak dengan mall yang satu ini.
Rupanya Effendi membawa Hana ke salah satu mall yang terbilang cukup mewah. Banyak toko\-toko dengan berbagai merk datang mulai yang berasal dari dalam negeri sampai yang dari luar negeri.
"Ayah, kenapa gak ke mall yang lain aja sih? Aku gak pernah kesini ayah," ucap Hana ragu\-ragu.
"Justru karena Ayah tahu kamu gak pernah kesini, makanya Ayah ajak kamu kesini," balas Effendi tertawa. Ia memang sudah berniat akan memanjakan Hana hari ini. Hal yang sempat tertunda selama sembilan belas tahun lamanya.
Effendi setengah menarik tangan putrinya agar mau ikut bersamanya memasuki satu persatu toko yang ada didalam mall tersebut. Effendi meminta Hana untuk membeli semua yang ia inginkan, "Pokoknya Ayah mau hari ini anak Ayah beli apapun yang dia mau."
"Emang Ayah gak takut nanti uangnya habis aku pake buat beli barang\-barang yang aku mau?" tanya Hana dengan nada bercanda.
Effendi pun membalas candaan Hana dengan santai, "Ayah gak takut kok, soalnya nanti bayarnya pake kartu kredit Opa Bram."
"Eh kalau gitu gak usah deh, Yah. Kita jajan es krim aja yuk," ajak Hana menarik tangan ayahnya. Raut wajah Hana seketika berubah menjadi sedikit panik. Bagaimana bisa ia baru sekali bertemu dengan kakeknya itu, namun hari ini ia justru akan berbelanja menggunakan kartu kredit kakeknya.
__ADS_1
Effendi tertawa melihat perubahan ekspresi putrinya. Ia tidak menyangka Hana jadi menanggapinya dengan serius. "Ayah bercanda Hana. Tentu saja uang Ayah gak akan habis dipake sama kamu. Lagipula sudah jadi tugas Ayah untuk memenuhi semua kebutuhan kamu," ujar Effendi tersenyum.