Cinta Untuk Hana

Cinta Untuk Hana
BAB 31


__ADS_3

Bugh!


Satu bogeman mentah mendarat dipipi Evan begitu pintu rumah mereka tertutup. Ravi sudah tidak bisa lagi menahan emosinya. Ia tidak habis pikir alasan Evan melamar Maya sedangkan sebelumnya ia masih berstatus pacar Hana.



"Apa\-apaan lo, Bang?!"



"Lo yang apa\-apaan?! Lo ngapain ngelamar orang lain sementara lo pacaran sama Hana, hah?!"



Ravi kembali ingin memukul Evan tetapi tangannya segera ditahan oleh Liam. Ravi ingin menghempaskan tangan Liam tetapi cengkraman ayahnya begitu kuat.



Ravi menoleh dan melihat raut wajah Liam penuh kemarahan dengan tatapan yang sangat tajam. Ia pun akhirnya menyerah dan mencoba menenangkan dirinya. Liam melepaskan cengkramanannya begitu melihat Ravi sudah lebih tenang.



"Lo kalau gak tahu apa\-apa gak mending diem!" Evan pun kini tersulut emosi.



"Gue gak peduli! Tega banget lo sama Hana!" balas Ravi dengan nafas kembali memburu.



Carissa hanya terduduk diam menahan tangisnya. Ia tahu betapa terlukanya Evan harus merelakan cintanya dan bagaimana hati Ravi juga terluka mengetahui orang yang ia cintai disakiti seperti ini.



"Peduli banget lo sama Hana. Kenapa? Lo suka sama pacar gue?" todong Evan setengah berteriak.



"Iya! Gue suka sama Hana. Gak, gue cinta sama Hana. Puas lo?" tantang Ravi, "gue lebih dulu ketemu sama Hana daripada lo, Van. Gue duluan yang jatuh cinta sama dia. Begitu gue tahu kalau dia cewek lo, gue ngalah. Tapi kalau saja gue tahu lo bakal kayak gini, gak akan gue nyerah. Lo dengar kata\-kata gue, mulai detik ini gue gak bakal lepasin Hana lagi!"



Ravi pergi meninggalkan kedua orang tuanya dan Evan menuju ke kamarnya. Terdengar suara bantingan pintu kamar dari lantai dua rumah mereka.



Evan hanya bisa terduduk lesu setelah mendengar perkataan kakaknya itu. Ia mulai menagis kembali mengingat beban tanggung jawab yang seharusnya tidak ia pikul.



Carissa perlahan berjalan mendekati putranya itu dan membawa tubuh Evan kedalam pelukannya.



"Mama tahu kamu kuat, Nak. Mama tahu kamu bisa melewati ini semua, begitupun dengan Hana. Tuhan sudah mengatur ini semua untuk kalian berdua. Mungkin memang kalian tidak berjodoh."



Evan terus menangisi takdirnya. Masih sangat berat untuk dirinya menerima kenyataan ini. Ia harus menikah dengan orang yang ia tidak cintai.



"Aku tidak bisa, Mah. Aku tidak punya perasaan apa\-apa ke Maya," ucapnya lirih.


__ADS_1


"Sayang, bagi Maya, kamu adalah satu\-satunya alasan mengapa ia tetap memilih untuk hidup. Mama yakin, jika Hana mengetahui alasan kamu yang sebenarnya, ia pasti akan bisa mengerti dan akan merelakan kamu." Carissa membelai lembut tempurung kepala putranya.


...*****...


Ravi mengemas beberapa barang\-barangnya dan memasukkannya kedalam sebuah koper kecil. Ia merasa tidak bisa tinggal dirumah selama emosinya belum mereda.



Ravi berencana akan tinggal dikantornya selama beberapa hari. Lagipula pekerjaannya juga sedikit menumpuk. Ia akan memanfaatkan pekerjaannya untuk membuatnya melupakan emosinya secara perlahan.



Ravi lalu menuruni tangga sambil menyeret kopernya. Rupanya ada Liam dan Carissa yang sedang duduk diruang makan.



"Mau kemana kamu?" tanya Liam.



"Aku akan tinggal dikantor untuk beberapa hari," jawab Ravi datar.



Liam menghela nafas panjang. Ia sangat tahu Ravi masih memendam amarahnya terhadap Evan.



"Vi, Papa tidak meminta kamu untuk mengerti alasan Evan melakukan ini, tetapi tolong jangan terlalu keras sama adik kamu," bujuk Liam.



Ravi tidak memberikan respon apa\-apa. Ia hanya menatap lurus kearah pintu ruang tamu rumahnya.




"Aku pergi dulu. *Assalamualaikum*."


...*****...


Ravi sudah berada parkiran kantornya selama kurang lebih dua puluh menit tetapi ia masih berdiam diri didalam mobilnya.



Ravi sedang berusaha untuk mengatur emosinya dan menenangkan perasaannya. Ia mulai menyadari mungkin memang tadi ia sudah terlalu keras pada Evan. Seharusnya Ravi menanyakan lebih dulu alasan Evan.



Tapi sayang emosi lebih dulu menguasainya. Ravi mengeluarkan ponsel dari saku celananya. Ia lalu mencari kontak Evan dan mengiriminya sebuah pesan singkat.



"*Maafin gue. Harusnya gue gak emosi duluan*."



Sebenarnya ada banyak hal yang ingin Ravi sampaikan, tetapi ia kembali berpikir mungkin akan lebih baik jika ia menyampaikannya langsung dihadapan Evan.



Ravi pun akhirnya keluar dari mobilnya dan menyeret kopernya menuju ke dalam kantor. Namun tiba\-tiba langkahnya terhenti ketika ia menyadari salah satu lampu ruangan yang ada di dalam kantonya menyala.


__ADS_1


Perlahan Ravi meletakkan kopernya dan mengendap\-endap menuju ruangan tersebut. Tak lupa ia mengambil sebuah tongkat baseball milik salah satu karyawannya untuk berjaga\-jaga jika orang yang berada didalam ruangan tersebut adalah seorang pencuri.



Masih dengan mengendap\-endap Ravi perlahan masuk ke dalam ruangan itu. Untung saja pintu ruangan itu tidak tertutup rapat sehingga Ravi bisa dengan mudah perlahan membuka pintu itu menggunakan sebelah tangannya.



Ravi sudah hendak mengayunkan tongkat baseball yang ia pegang sampai saat ia tersadar jika orang yang berada di dalam ruanga itu bukanlah seseorang yang berbahaya.



Ia melihat seorang gadis tengah tertidur diatas tumpukkan berkas\-berkas pekerjaan. Gadis itu adalah Hana. Rupanya Hana memilih tetap tinggal dikantor untuk mempelajari semua berkas yang ia ambil dari ruangan Ravi siang tadi.



"Astaga Hana! Ngapain dia tidur disini?"



Ravi mendekatkan tubuhnya untuk menatap wajah Hana lebih dekat. Ia melihat ada beberapa bagian pada kertas yang tertindis oleh wajah Hana seperti basah terkena tetesan air.



Ia lalu kembali menatap wajah Hana, ada sebutir air mata yang tertinggal diujung matanya yang terpejam.



"Dia pasti habis nangis sampe ketiduran.." lirih Ravi menatap Hana.



Wajah Hana terlihat sendu dan lelah. Ravi sudah mengangkat tangannya ingin membelai kepala Hana namun urung ia lanjutkan.


Ia tidak ingin Hana terbangun dan kaget mendapati ia sedang memperhatikannya. Suasana akan menjadi sangat canggung nantinya diantara mereka berdua.



Udara malam sedikit dingin hari itu. Ravi lalu membuka jaket ia kenakan dan memakainya untuk menyelimuti punggung Hana.



Sebelum beranjak meninggalkan Hana, Ravi membisikkan sesuatu ditelinga Hana. "Tunggu aku. Biarkan aku kali ini mengobati lukamu sekali lagi dan menjagamu agar tidak kembali terluka. Aku mencintaimu, Hana."



Ravi pun meninggalkan Hana dengan tenang. Emosinya juga sudah benat\-benar mereda dan perasaannya jauh lebih baik.



Baru saja beberapa langkah Ravi meninggalkan ruangan Hana, ponselnya berdering. Ia menatap nama yang ada pada layar ponselnya. "*Evano*".



Ravi membiarkan ponselnya terus berdering. Ia sebenarnya masih belum ingin berbicara dengan Evan. Karena itulah ia memilih untuk sementara meninggalkan rumah agar tidak bertemu dengan Evan.



Setelah beberapa saat akhirnya ponselnya berhenti berbunyi. Namun kali ini sebuah pesan singkat dari Evan masuk ke ponselnya.



"*Ada alasan kenapa gue memilih melakukan ini yang gak bisa gue ceritain ke banyak orang termasuk Hana dan juga lo, Bang. Mungkin suatu saat lo akan tahu alasannya kenapa, tapi tidak sekarang.*


__ADS_1


Gue titip Hana ya.. tolong jaga dia dan buat dia bahagia. Hapus air matanya dan kembalikan senyumannya. Gue sayang banget sama dia*."



__ADS_2