
BAB 18
Hana sudah berada didalam ruang sidang selama lebih dari tiga puluh menit. Anindya yang sedang berada didepan ruang sidang terlihat ikut tegang menunggu hasil sidang skripsi Hana. Ia sudah berada disana sejak Hana memasuki ruang sidang.
Namun fokus Anindya sedikit terganggu karena ponsel Hana terus berdering sejak tadi. Ia lalu melihat layar ponsel Hana. Ada telepon dari nomor yang tidak dikenal sebanyak lima kali. Anindya hendak meletakkan kembali ponsel Hana ketika nomor itu kembali menelepon ponsel sahabatnya itu.
"Apa gue angkat aja ya? Kayaknya penting deh," gumam Anindya.
Anindya pun mengangkat telepon tersebut. Dari arah seberang sambungan telepon terdengar suara lembut dari seorang wanita. Awalnya wanita itu mengira ia telah terhubung langsung dengan Hana. Namun Anindya segera menjelaskan situasi Hana saat ini.
"Oh begitu ya. Kalau begitu saya bisa minta tolong? Tolong sampaikan kepada Hana untuk kembali menghubungi saya dinomor ini ya, Nak?" pinta wanita itu.
Anindya kemudian memutus sambungan telepon itu setelah berjanji akan menyampaikan pesan wanita itu. Tak lama kemudian pintu ruang sidang Hana terbuka. Beberapa orang dosen berjalan keluar. Anindya menunggu sahabatnya itu dengan cemas.
Hana berjalan keluar ruangan dengan wajah penuh peluh. Anindya terkejut melihat wajah sahabatnya. Hana terlihat sangat lelah dan lemas. Anindya segera menghampiri Hana namun langkahnya dihentikan oleh Hana.
Hana butuh waktu untuk menghirup udara disekitarnya. Perlahan ia mengatur nafasnya. Hana lalu mengeluarkan selembar sapu tangan dari saku jas yang ia kenakan dan menyeka peluh yang memenuhi wajahnya.
Barulah setelah ia tenang, ia menatap Anindya yang sedari tadi sudah sangat cemas menunggunya. Hana melangkahkan kakinya menuju ke arah Anindya, ia lalu memeluk tubuh sahabatnya itu dengan erat dan membisikkan sesuatu ke telinga Anindya, "Gue lulus."
Seketika Anindya langsung berteriak kegirangan. Ia pikir sesuatu yang buruk terjadi saat Hana sedang sidang tadi. Ternyata Hana hanya sangat tegang menunggu nilai yang diberikan para dosen didalam tadi.
Tak lama setelah itu pintu lain ruangan disekitar mereka pun terbuka, ternyata itu pintu ruang sidang Evan. Berbeda dengan Hana, wajah Evan penuh dengan senyuman saat melangkah keluar dari ruangan. Itu menandakan dengan jelas bahwa ia juga lulus.
__ADS_1
Hanya berselang beberapa menit, pintu ruang sidang Maya terbuka. Para dosen berjalan keluar diikuti dengan Maya berjalan paling akhir. Maya langsung terduduk lemas didepan ruang sidangnya. Kini mata Hana, Evan dan Anindya tertuju kepada Maya, menunggu kabar bahagia dari teman baru mereka itu.
Maya mengacungkan jari jempolnya ke atas menandakan bahwa ia juga lulus ujian. Sontak mereka semua bersorak kegirangan. Kini tinggal menunggu sidang Anindya yang sudah dijadwalkan esok hari. Namun mereka yakin jika Anindya bisa melewati ujiannya dengan lancar.
Saat tengah bercengkrama dengan teman\-temannya, ponsel Hana kembali berbunyi. Ia kemudian mengambil ponselnya dan menatap nomor yang tertera pada layar ponselnya itu. Anindya yang juga menyadari ponsel Hana berbunyi kemudian teringat akan pesan dari wanita yang menelepon ponsel Hana tadi.
"Astaga gue lupa. Tadi waktu lo sidang ada yang nelpon, kataya lu diminta telpon balik," ujar Anindya.
"Maksud kamu nomor ini, Nin?" tanya Hana memperlihatkan ponselnya yang sedang berbunyi. Anindya menjawab dengan menganggukan kepalanya.
Hana lalu berjalan menjauh dari tempat teman\-temannya berdiri agar bisa menerima telepon itu dengan tenang. Ia segera mengangkat telepon itu sebelum deringannya berhenti. Dari arah seberang sambungan telepon terdengar suara seorang wanita bertanya apakah Hana sendiri yang telah menerima telepon tersebut.
Sejenak wanita diujung telepon itu terdiam, namun tak lama kemudian ia kembali berbicara, "Hana, ini Oma. Oma pengen ketemu sama kamu, Hana. Boleh?"
...*****...
Hana tengah memilih-milih pakaian yang akan ia kenakan. Sore itu ia akan bertemu dengan wanita yang siang tadi meneleponnya. Wanita yang mengakui dirinya sebagai oma Hana. Perasaan Hana menjadi campur aduk, ia takut jika nanti pertemuannya tidak berjalan dengan lancar, tetapi ia juga senang karena akan bertemu dengan anggota keluarganya yang lain.
Hana sempat menceritakan hal ini kepada Bi Siti, maklum saja saat ini hanya Bi Siti keluarga yang tersisa baginya. Bi Siti menenangkan hati Hana dengan mengatakan semua akan baik\-baik saja dan bahwa wanita itu pasti tidak memiliki maksud jahat.
Hana akhirnya selesai bersiap\-siap tepat ketika suara ketukan terdengar dari pintu ruang tamu miliknya. Jantung Hana tiba\-tiba berdegup sedikit kencang. Ia sangat gugup. Belum lama ini ayahnya mengantarnya pulang, meskipun ia dalam keadaan tidak sadarkan diri.
Namun hari ini Hana akan bertemu dengan anggota keluarganya yang lain dalam keadaan sangat sadar. Ia berjalan menuju ke depan pintu ruang tamunya. Dibalik pintu itu ada orang yang sangat ingin menemuinya, setidaknya itu yang ia tahu dari wanita yang meneleponnya.
__ADS_1
Hana kemudian menarik nafas panjang, itu selalu berhasil menenangkannya jika ia gugup. Perlahan tangannya menyentuh kenop pintu, ragu\-ragu ia membuka pintu. Saat pintu sudah benar\-benar terbuka Hana bisa melihat ada seorang wanita tengah berbicara dengan seorang laki\-laki yang sedang duduk dikursi roda.
Usia keduanya tidak lagi muda. Garis kerutan pada wajah mereka sudah lumayan terlihat jelas. Si wanita segera berbalik ketika menyadari pintu telah terbuka. Ia dan Hana saling bertatapan selama beberapa detik sebelum akhirnya wanita itu menghampiri Hana dan memeluknya erat.
"Oma kangen banget sama kamu, Hana," kata Alita. Tangisnya pecah saat memeluk Hana. Ia menumpahkan kerinduan yang sudah ia pendam selama sembilan belas tahun lamanya saat itu juga.
Hana masih mencerna apa yang sedang terjadi saat ini. Ia masih belum tahu harus merespon seperti apa tangisan dari wanita yang sedang memeluknya. Hana menjadi semakin bingung tatkala melihat Bramantyo juga ikut menangis.
Bi Siti yang sejak tadi memperhatikan dari dalam ruang tamu menghampiri Hana dan mengajak Alita serta Bramantyo untuk masuk kedalam rumah, "Ibu, Bapak, ayo masuk dulu. Ngobrol didalam saja, disini dingin."
Alita melepaskan pelukannya dan berbalik untuk mendorong kursi roda suaminya. Mereka berdua lalu mengikuti Bi Siti masuk kedalam rumah sedangkan Hana masih berkutat dengan isi kepalanya. Ia berpikir jika diingat\-ingat lagi, wajah Alita tidak asing baginya.
Hana segera melangkahkan kakinya menyusul masuk kedalam rumah. Ada banyak hal yang ingin ia tanyakan kepada kedua orang itu. Dimulai dari apa yang sebenarnya terjadi sembilan belas tahun yang lalu.
Suasana hening menyelimuti ruang tamu rumah Hana. Mereka masih terpaku dengan pikiran masing\-masing. Hingga akhirnya Bramantyo menjadi orang pertama yang mengeluarkan suara.
"Hana, saya tahu saat ini saya sudah sangat terlambat, tetapi izinkan saya untuk meminta maaf dari kamu. Apa yang terjadi pada kehidupan kamu, itu semua karena saya. Karena kerasnya hati saya, maafkan saya, Hana," ungkap Bramantyo kembali terisak.
Hana sungguh tak tega melihatnya. Ia lalu menghampiri Bramantyo dan berlutut dihadapannya. Dipegangnya kedua tangan pria tua itu dengan lembut dan ia pun berkata, "Sebenarnya banyak hal yang ingin Hana tanyakan dan katakan. Tetapi setelah mendengar perkataan Bapak, rasanya ini sudah cukup bagi Hana."
Bramantyo tak kuasa menahan tangisnya. Ia benar\-benar menyesal telah memperlakukan Hana dan ibunya dulu dengan buruk. Bahkan setelah hidup terpisah dari ayahnya selama sembilan belas tahun lamanya karena dirinya, Hana tetap memaafkan perbuatannya.
__ADS_1
"Jika tebakan Hana tidak salah, Bapak dan Ibu ini orang tua Ayah kan? Yang berarti oma dan opa Hana kan?" tanya Hana tersenyum kepada Bramantyo dan Alita, "terima kasih telah datang. Tolong kali ini tetaplah tinggal."