
Waktu telah menunjukkan pukul tujuh malam saat para tamu memasuki aula tempat acara reuni SMA Bumi Pertiwi akan dilaksanakan. Malam itu ada cukup banyak tamu undangan yang datang menghadiri acara tersebut.
Salah satunya adalah Maya dan Evan. Mereka tiba dihotel tempat acara reuni itu diselenggarakan tiga jam sebelum acara dimulai. Setelah melakukan check in pada kamar masing\-masing, Evan dan Maya langsung berjalan terpisah.
Suasana menjadi sangat canggung diantara mereka berdua setelah Maya menjawab pertanyaan Evan saat berada dimobil tadi. Untung saja suasana canggung itu hanya berlangsung selama lima belas menit, karena setelah itu mereka telah tiba ditujuan.
Evan bercengkrama bersama teman\-temannya semasa sekolah dulu tepat didepan pintu aula. Mereka masih asyik bertukar cerita sembari menunggu kedatangan teman\-teman mereka yang lain.
Hingga salah satu teman Evan berdecak kagum melihat seorang gadis berjalan menuju ke arah mereka dari kejauhan, "Waw! Cantik banget!"
Evan pun ikut menoleh penasaran dengan apa yang temannya liat. Ternyata gadis itu adalah Maya. Malam itu Maya mengenakan sebuah baju shanghai berwarna hitam dengan ukiran bunga berwarna emas. Model baju yang membentuk tubuh membuat lekukan tubuh Maya terlihat sempurna. Kali ini Maya menata rambutnya dengan model butterfly haircut serta memadukannya dengan riasan wajah yang natural membuatnya terlihat sempurna.
Evan tidak bisa berhenti menatap Maya bahkan ketika Maya berjalan mewatinya dan teman\-temannya. Ia benar\-benar terpaku dengan penampilan Maya malam ini. Meski semua orang tahu Maya memang gadisa yang sangat cantik, tetapi malam ini penampilan Maya luar biasa menurut Evan.
"Itu Sasmaya kan? Eh bukannya dulu dia suka sama lo ya, Van?" tanya salah satu teman Evan.
"Iya kali, gue gak tahu," jawab Evan singkat. Ia berusaha menyembunyikan rasa kagumnya kepada Maya malam ini. Entah mengapa ada rasa yang Evan tidak bisa jelaskan ketika melihat Maya malam ini.
Harus Evan akui, ingin rasanya ia memamerkan kepada teman\-temannya ini bahwa ia sebenarnya datang kesini bersama dengan Maya. Tetapi kemudian ia teringat dengan Hana. Sejenak ia lupa bahwa ia sudah memiliki Hana.
__ADS_1
Ia buru\-buru menepis hal itu dari pikirannya. Evan lalu berjalan memasuki aula bersama dengan teman\-temannya. Ia hanya ingin melewati malam ini dengan bergembira bersama teman\-teman lamanya. Maklum saja sejak lulus sekolah mereka telah terpisah kota dan sangat jarang bisa bertemu.
Acara pun dimulai tepat pukul tujuh lewat tiga puluh menit. Berbagai rangakain acara formal diikuti oleh para tamu undangan dengan khidmat. Beberapa orang tamu bahkan ada yang menitikkan air mata saat sesi pemutaran video dokumenter mengenang beberapa rekan ataupun guru mereka yang telah berpulang.
Namun tidak dengan Evan. Konsentrasinya sedang terganggu. Entah mengapa ia selalu berbalik menoleh ke arah Maya. Rasanya ia ingin terus memandangi Maya tanpa henti. Meja yang Maya tempati bersama dengan teman\-temannya hanya berjarak dua meja dari meja yang Evan tempati.
Ternyata hal itu disadari oleh teman dari Maya. Ia sedari tadi kerap mendapati Evan memperhatikan Maya. Ia lale mendekatkan tubuhnya kepada Maya untuk berbisi, "May, Evano dari tadi ngelihatin lo tahu gak."
Maya terdiam. Sebenarnya ia sangat ingin tersenyum mendengar hal tersebut, tetapi rasanya salah jika ia lakukan. Maya sudah berjanji pada dirinya sendiri tidak akan menghianati Hana. Namun kenapa godaannya sangat besar, ini sungguh kesempatan yang tidak akan datang dua kali baginya.
Maya masih mencoba tidak memperdulikan omongan temannya tadi, sampai ia sendiri melihat Evan sedang menatapnya. Kedua mata Evan dan Maya saling bertemu selama beberapa detik sebelum mereka masing\-masing mengalihkan pandangan ke tempat lain.
...*****...
Malam sudah sangat larut. Jam dinding pada aula sudah menunjukkan pukul sebelas malam, tetapi masih ada beberapa tamu undangan yang masih tetap tinggal untuk bercerita lebih lama.
Hingga akhirnya yang tersisa hanyalah Maya bersama ketiga temannya, juga Evan bersama beberapa temannya yang lain. Teman\-teman mereka berencana untuk pergi ke bar hotel tempat mereka menginap, awalnya baik Maya ataupun Evan menolak untuk ikut, tetapi entah mengapa mereka berdua justru terjebak ikut bersama dengan teman\-teman mereka itu.
Sesampainya mereka di bar, teman\-teman Evan mulai memesan minuman dan cemilan, sedangkan Maya dan teman\-temannya langsung menuju ke sebuah meja yang masih kosong. Evan mengikuti mereka dari belakang, lebih tepatnya ia sengaja berjalan dibelakang Maya. Evan sengaja berjalan sangat dekat dengan Maya, seakan ia ingin menjaga Maya dari tatapan laki\-laki lain di bar malam itu.
Tentu saja hal itu sukses membuat Maya jadi salah tingkah hingga ia tersandung menabrak sebuah kursi tepat didepan meja yang mereka tuju. Refleks Evan menangkap tubuh Maya sehingga membuat ia harus menarik tubuh Maya kedalam pelukannya.
__ADS_1
Detak jantung Evan berpacu dengan kencang. "Tidak, ini salah!" gumam Evan dalam hati. Ia lalu langsung bergegas menuju ke toilet setelah menanyakan kepada Maya apakah ia baik\-baik saja.
Maya hanya mengangguk. Entah sudah semerah apa wajah Maya kali ini. Untung saja pencahayaan dalam bar itu sangat redup sehingga perubahan rona wajahnya tidak diketahui oleh siapa pun.
"May, lo masih suka sama Evano ya?" tanya salah satu teman Maya.
"Dia udah punya cewek kali," jawab Maya singkat. Namun teman Maya itu tidak puas dengan jawaban yang ia dapatkan.
"Jadi lo masih suka tapi terhalang karena dia udah punya cewek," gumam teman Maya. Maya tidak memberikan jawaban apa\-apa.
Ia tidak bisa mengatakan tidak sedangkan faktanya ia masih menyukai Evan. Terlebih lagi malam ini, Evan terlihat sangat tampan dan sikapnya yang menjaga Maya tadi membuat Maya semakin menyukainya.
Kini Maya ingat, kenapa ia bisa menyukai Evan. Dulu Evan pernah menolongnya saat Maya hampir dilecehkan oleh preman. Evan bahkan pasang badan untuk melindungi Maya. Itulah awal Maya menyukai Evan. Betapa senangnya ia ketika mengetahui Evan bersekolah di sekolah yang sama dengannya.
Maya pikir jika Evan akan mengenalinya, tetapi ia salah. Evan tidak mengenali Maya dan justru bersikap cuek terhadap Maya. Hal itu membuat Maya merasa penasaran, bagaimana bisa Evan melupakannya yang belum lama ini ia tolong.
Maya akhirnya mencari tahu segala tentang Evan saat itu. Ia juga diam\-diam selalu memperhatikan Evan dari kejauhan. Semakin Maya mengenali Evan, semakin ia menaruh hati padanya.
__ADS_1
Lamunan Maya hilang saat salah seorang temannya menyodorkan segelas minuman dihadapannya. Tanpa bertanya apa\-apa Maya langsung menegak minuman itu. Malam itu Maya dan Evan habiskan dengan berpesta pora bersama teman\-temannya. Namun mereka tahu, bahwa setelah malam itu hidup keduanya akan berubah.