Cinta Untuk Hana

Cinta Untuk Hana
BAB 27


__ADS_3

"Bi, aku pamit ya... Assalamualaikum," teriak Hana dari arah ruang tamu.


Bi Siti sedang berada di dapur saat Hana pamit untuk berangkat kerja dihari pertamanya. Hana sangat bersemangat untuk masuk kerja sampai\-sampai sejak pukul enam pagi ia sudah selesai berpakaian dan sarapan.



Hari ini Hana juga menggunakan jasa taxi online untuk mengantarnya sampai ke tempat kerjanya. Hana tidak ingin mengambil resiko datang terlambat a pada hari pertama ia masuk kerja. Sebenarnya ia ingin meminta tolong kepada Evan untuk mengantarnya. Tetapi sampai dengan malam tadi belum ada kabar dari Evan.



Belakangan ini ia kerap memikirkan perubahan sikap Evan kepadanya. Evan sering menghilang tanpa kabar, jarang mengangkat telepon ataupun membalas pesan yang Hana kirimkan.



Saat bertemu dengan Hana pun sangat jelas terlihat bahwa hanya raga Evan yang bersamanya, tetapi tidak dengan hati dan pikirannya. Evan lebih sering terlihat gelisah dan kadang\-kadang melamun.



Terkadang hal itu membuat Hana kesal. Tetapi Hana memilih untuk bersabar dan memaklumi, mungkin saja Evan sedang ada masalah yang sangat mengganggu pikirannya. Ia juga tidak ingin pertemuannya dengan Evan yang sudah sangat jarang itu berakhir dengan pertengkaran.



Hana menarik nafas panjang untuk menenangkan pikirannya. Hari ini ia harus fokus, ia tidak ingin pikiran negatif menghantuinya sepanjang hari. Hal itu tentu saja akan mempengaruhi pekerjaannya nanti.


...*****...


Hana kini tiba didepan sebuah bangunan kantor dengan gaya modern. Bangunan setinggi tiga lantai itu terlihat minimalis dengan ornamen\-ornamen kotak terlihat pada fasadnya. Benar\-benar mencerminkan sebuah kantor konstruksi menurut Hana.



Bangunan itu masih terlihat sepi. Hanya ada sebuah mobil sedan hitam terparkir di halamannya tetapi tidak terlihat pemiliknya.



Hana melangkahkan kakinya dengan mantap untuk memasuki gedung kantornya itu. Benar\-benar belum ada satu orang pun yang terlihat. Hana memutuskan untuk duduk di sofa yang ada pada ruang tunggu kantornya dan menunggu pegawai lain datang.



Tiba\-tiba ia dikejutkan dengan seorang pria yang keluar dari kamar mandi yang terletak disudut lain ruangan. Kamar mandi yang tersembunyi dengan baik ditutupi oleh sebuah lemari buku.



Pria itu bertubuh tinggi dengan kulit putih langsat. Hana yakin bisa pria itu memiliki otot perut yang sempurna dilihat dari postur tubuhnya. Rambutnya masih setengah basah ditutupi sebuah handuk kecil.



Pria itu keluar kamar mandi hanya menggunakan baju kaos oblong dan celana pendek, serta sendal jepit. Rupanya pria itu belum menyadari jika ada orang lain selain dirinya diruangan itu. Ia masih terus mengeringkan rambutnya dengan handuk sambil sedikit menggerutu.



"Kamar mandi gue pake acara rusak lagi pintunya. Akhirnya gue harus turun ke\-\-" Pria itu tidak bisa meneruskan kalimatnya saat matanya bertemu dengan mata Hana.



Hana berusaha tersenyum dengan sebaik mungkin, meski rasanya ia sangat ingin tertawa melihat pria itu sedang menggerutu dengan pakaian seperti itu.

__ADS_1



Sedangkan pria itu terdiam mematung selama beberapa detik masih belum sadar bahwa saat ini ia sedang tidak mengenakan baju yang pantas untuk bertemu dengan orang lain, apalagi seorang wanita.



Namun lucunya, pria itu malah tidak bisa melangkahkan kakinya seakan kakinya merekat sangat erat pada lantai. Sampai akhirnya ada orang lain yang memasuki ruangan itu.



"Ya Tuhan Ravi! Lo ngapain sih?!" tegur pria yang baru memasuki ruang tunggu.



Rupanya mobil yang terparkir didepan adalah mobil Ravi. Sudah sejak kemarin ia tidak pulang kerumah dan memilih menginap di kantor karena pekerjaan yang lagi menumpuk.



Setelah tersadar akibat teguran temannya, Ravi langsung bergegas kembali ke ruangannya dengan langkah seribu.



"Maaf ya. Sepagi ini lo sudah lihat pemandangan yang aneh\-aneh. Gua Dito, Co\-Founder RD Construction. Sedangkan yang tadi itu Ravi, dia Foundernya." Dito mengulurkan tangannya kepada Hana untuk berkenalan.



"Saya Hana, Pak." Hana tersenyum ramah membalas uluran tangan Dito.



... *****...


Ravi masih tetap berada didalam ruangannya tanpa sekali pun keluar. Biasanya ia sudah beberapa kali keluar masuk menuju pantry untuk membuat kopi yang akan menemaninya bekerja.



Ia masih sangat malu dengan kejadian yang ia alami pagi tadi. Diantara banyaknya kemungkina ia akan bertemu dengan orang lain, mengapa harus Hana dan mengapa disaat yang tidak tepat seperti tadi.



Ravi masih terus memikirkan hal itu hingga ia tidak menyadari Dito memasuki ruangannya.



"Lo sakit ya? Tumben gak ngopi," ujar Dito santai.



"Itu tadi cewek, kok bisa ada dikantor kita pagi\-pagi?"



"Oh Hana maksud lo? Dia pegawai magang yang baru."


__ADS_1


Ravi menepuk jidatnya frustasi. Ia sangat malu untuk bertemu dengan Hana. Bagaimana bisa ia akan menampakkan wajahnya didepan Hana nanti setelah apa yang Hana lihat pagi tadi. Tetapi tidak bisa juga Ravi terus\-terusan menghindar dari Hana.



"Emang kemarin dia ngelamar diposisi apa?" tanya Ravi penasaran.



"Posisi administrative executive," jawab Dito, "kita berdua udah kewalahan loh ngurusin administrasi. Anak\-anak yang lain sibuk sama kerjaan masing\-masing. Jadi kemarin gue nyari orang."



"Lo kok gak bilang gue?" protes Ravi.



Dito memutar kedua manik hitamnya tidak percaya mendengar apa yang Ravi katakan. Pasalnya jauh sebelum Dito membuka lowongan untuk perusahaan mereka, Dito tentu saja sudah memberitahukan Ravi mengenai hal itu. Bahkan justru Ravi yang meminta dirinya untuk mencari karyawan baru.



"Eh Ravindra! Gue udah pernah ngomong jauh\-jauh hari ke lo. Lo aja yang lupa," sanggah Dito.



Benar yang Dito katakan. Ravi lupa jika mereka memang butuh orang untuk membantu dalam hal administrasi. Sejak Ravi dan Dito membangun perusahaan ini, mereka berdualah yang mengurus semua administrasinya.



"Dito sumpah! Gue malu banget tahu gak."



Dito tertawa namun ia juga sekaligus heran melihat sikap Ravi. Baru kali ini ia melihat sahabatnya seperti ini. Biasanya Ravi sangat cuek dalam hal apapun.



"Oh iya lo jangan lupa, sebelum pulang nanti lo harus ketemu sama Hana. Jelasin tugas dia dari lo apa aja," ujar Dito sambil berjalan keluar dari ruangan Ravi.



Ravi berusaha menenangkan dirinya. Perlahan ia mengatur ritme nafasnya. Setelah ia pikir\-pikir, seharusnya ia senang bisa satu kantor dengan Hana. Karena Ravi akan memiliki banyak kesempatan untuk bertemu dengan Hana.



Namun tiba\-tiba rasa kecewa menghantam dadanya. Ravi selalu lupa bahwa Hana adalah kekasih adiknya.



"Gini banget hidup gue." Ravi menertawakan dirinya sendiri. Kini ia terjebak harus selalu bertemu dengan cinta pertamanya tanpa bisa ia dekati apalagi miliki.



*Tok! Tok! Tok!*


Seseorang mengetuk pintu ruangan Ravi. Ravi mempersilahkan orang itu masuk. Hana dengan senyuman malu\-malu perlahan membuka pintu ruangan Ravi dan melangkahkan kakinya masuk.

__ADS_1


__ADS_2