
Hani ..kenapa kau diam saja apa kau mengkhawatirkan Danar ,tanya Rizaldi yang nampak cemas melihat putri kesayangannya
Dady tidak mau terjadi apa-apa dengan putri dan calon cucu Dady oke...
"Tidak apa-apa Dad, Hani tau Mas Danar..
Dia tidak akan pergi begitu saja jika memang tidak ada urusan yang mendesak,
kita tunda saja lain hari , lagi pula waktu serta tanggal pernikahan pun belum di tentukan jadi santai saja Dad ", jelas Hani pada ayah nya
Tidak bisa di tunda terlalu lama sayang perut mu sekarang saja sudah terlihat membesar
Bagaimana jika tertunda terus , bisa - bisa kau akan melahirkan tanpa seorang suami di sisi mu nanti .
Kalau itu sampai terjadi Dady pastikan akan menghancurkan Danar sehancur - hancurnya
Ucap Rizaldi Prayoga yang sudah nampak geram kepada Danar calon menantu nya itu
Dad ...itu tidak mungkin terjadi Mas Danar itu sangat mencintai Hani jelas Hani sedikit kesal dengan ucapan ayah nya....
Memang begitu seharusnya Hani..
Apalagi sekarang kau sedang mengandung anak nya sahut Rizaldi Prayoga yang tidak mau kalah
Hani tau Dad ..sudahlah ayo kita masuk
Hani ingin istirahat sejenak di sini, setelahnya Hani akan kembali ke apartemen , mungkin Mas Danar di sana
sambil menarik lengan ayah nya
"hah ..kau ini jika sudah jatuh cinta sama saja seperti Mami mu dulu Rizaldi Prayoga sambil menggelengkan kepalanya."
**
Di Rumah Sakit Cinta yang baru saja siuman sedang menata pikiran nya
Mengapa aku ada di sini ,
Tadi... syukurlah aku rasa tadi aku bermimpi buruk tentang putriku
Aku harus menemui Zahra mungkin Mas Danar sudah mendonorkan darah untuk nya.
Baru saja Cinta akan beranjak dari tempat tidur nya seorang perawat masuk ke ruang rawatnya
Ibu Cinta sudah sadar ..sapa perawat itu dengan sopan
Ibu yang sabar ya bu sekarang jenazah putri ibu sedang dalam pengurusan untuk segera di bawa pulang oleh suami ibu Cinta
lanjut nya..sambil memeriksa keadaan Cinta
Ap...apa.. jadi..i..itu bukan mimpi..suara Cinta terdengar terbata-bata
Yang sabar ya bu .. seperti nya keadaan ibu sudah baik - baik saja saya permisi dulu
__ADS_1
bu Cinta
Cinta hanya tersenyum tidak berniat menjawab perkataan suster itu dia masih syok akan semua ini dia masih belum bisa menerima kenyataan ini
Putriku ...maafkan Mama Nak..Mama tidak bisa berbuat apa-apa di saat Zahra memerlukan pertolongan entah apa yang akan Mama perbuat tanpa mu saat ini
Mas Danar...semua ini gara - gara dirimu Mas...
Aku tidak akan pernah memaafkan mu kali ini
Cinta perlahan turun dari tempat tidur nya
Dia ingin melihat putrinya untuk terakhir kalinya dan mengantarkan putrinya ke pembaringan terakhirnya
Saat dia membuka pintu ruang rawat nya terlihat Mang Udin sedang duduk menunggu di depan ruangan nya
Mang kenapa Mang Udin disini ..
Bagaimana dengan Zahra Mang? siapa yang mengurus pemakaman nya
"Non maaf, mang Udin disini di suruh oleh tuan untuk menunggu Non Cinta siuman"
"Dimana Mas Danar Mang" ?
"Sedang mengurus administrasi Non", jawab Mang Udin
Zahra Mang ..? tanya Cinta kembali yang berusaha agar terlihat tegar
"Neng Zahra sedang dalam pengurusan petugas Rumah Sakit Non ,untuk proses pemulangan Jenazah untuk segera di makamkan".
"Itu Non Pak Riko yang mengurus nya"
"Ayo ...Mang antarkan aku menemui Riko
Aku ingin Zahra di makamkan bersebelahan dengan makam kedua orang tuaku Mang".
"Apa Non tidak menemui Tuan dahulu Non,
Tuan juga nampak terlihat cemas melihat keadaan Non Cinta"
Cinta menyunggingkan senyum sinis nya "Tidak perlu Mang antarkan saya saja sekarang".
"Baik Non mari saya antarkan".
mereka pun pergi walau dengan perasaan hancur tapi Cinta sadar ini sudah kehendak takdir
**
Para pelayat yang berdatangan silih berganti
diantara nya guru sekolah dan teman - teman Zahra pun ikut hadir melepas kepergian sahabatnya
Isak tangis mengiringi kepergian bocah malang itu
__ADS_1
Setelah selesai pemakaman para pelayat pun pamit satu persatu
Cinta yang sangat berduka hanya menangis di atas pembaringan terakhir putri semata wayangnya
"Nak selamat jalan sayang Mama yakin kamu di sana pasti bahagia bersama Oma dan opa
Maaf kan Mama ya Nak ..."
hi..hi..hi...Cinta menangis sejadi-jadinya
Begitupun dengan Danar yang juga merasa terpukul ditambah lagi Danar merasa karena dirinya lah yang terlambat datang untuk menyelamatkan Zahra hingga putrinya harus pergi untuk selama-lamanya.
Cinta yang menyadari sedari tadi Danar berada di dekatnya tidak memperdulikan Danar dia sudah membulat kan tekad nya akan berpisah dengan suaminya dia akan mengakhiri segalanya
Cinta .. sudahlah ayo kita pulang hari sudah akan gelap ,ajak Danar
"Pergilah Mas tinggalkan aku sendiri "
Cinta ..ajak Danar kembali yang tidak tega meninggalkan Cinta seorang diri di pemakaman
Pergilah Mas..apa kau tidak mendengar apa yang aku katakan, bentak Cinta yang memang sedari tadi menahan rasa marah nya kepada suaminya
Danar yang kesal melihat Cinta yang keras kepala lalu pergi meninggalkan istrinya seorang diri
Sesampainya di parkiran
" Mang "
"Iya tuan"
Tetaplah disini tunggu istri saya dia masih di sana ..
Baik tuan ,jawab Mang Udin sambil menundukkan tubuh nya sopan
Danar pun berlalu meninggalkan area pemakaman
Sesampainya di dalam mobil Danar merogoh saku celana nya mengambil ponsel miliknya
sial hape ku lowbat , pasti pak Rizaldi marah besar karena aku meninggalkan nya tanpa pamit
Danar mengusap wajah nya dengan kesal.
Danar mengendarai mobilnya tanpa arah dia bingung akan kemana disisi lain dia masih mengkhawatirkan Cinta yang pasti masih sangat bersedih karena kehilangan putri semata wayang mereka , sedang tidak ada dirinya di sampingnya.
Tapi saat ini , Hani pasti sedang menunggu nya di apartemen mereka , di tambah lagi seharian ini Danar tidak menelpon Hani , jangan kan menelpon bahkan seharian ini nama Hani pun seakan tidak terlintas di kepala Danar
mobil Danar pun menepi di pinggir jalan yang terlihat lumayan sepi , dia duduk termenung di dalam mobil nya
Kepingan - Kepingan bayangan masa bahagia mereka dahulu berseliweran di pelupuk matanya ,masa di saat-saat putri kecilnya bercanda gurau bersamanya ..
jauh sebelum dia mengenal Hani
Rumah tangga yang nyaris sempurna yang dahulu di miliki nya sekarang hancur berantakan karena ulah nya sendiri.
__ADS_1
Danar menangis tersedu-sedu sebenarnya dia sangat menyesali perbuatannya , seandainya waktu bisa di putar...putri ku Maaf kan papa , Papa tidak ada di saat-saat terakhir mu Nak...ucap Danar lirih yang di iringi dengan suara tangis nya sambil memukul-mukul kemudi mobilnya