Cinta Yang Terkoyak

Cinta Yang Terkoyak
BAB 4 kedatangan mas danar


__ADS_3

Seharusnya aku tidak boleh mencurigainya


kasian suamiku sudah kerja capek-capek tapi aku malah tidak mempercayai nya


aku memukul- mukul pelan kepalaku


Sadar..Sadar..Sadar..Cinta.


Terik matahari semakin meninggi memberikan sinar nya yang cerah ke pada bumi


Ku lihat Zahra sedang tertidur menenggelamkan wajahnya di atas meja belajar


Aku tersenyum sambil ku pandangi wajah ayu nya .. Seperti nya dia lelah, mungkin tadi terlalu banyak bermain


Zahra sangat aktif dia sama seperti papahnya.


Sedari pulang sekolah tadi Zahra sangat senang ,mengetahui papa nya sudah di bandara


Dia tidak sabar ingin berjumpa dengan mas Danar


Bahkan dia menolak saat aku menyuruh nya untuk istirahat tidur siang , katanya dia tidak mau jika papanya pulang melihat dia dalam keadaan tertidur .ha...ha..ha


lucu..sekali anak ku ini


Ku angkat tubuh kecilnya dan ku baringkan di atas ranjang, ku belai lembut rambut nya kuberikan kecupan singkat di pipinya.


Setelah memastikan Zahra terlelap aku berniat ingin ke dapur melanjutkan kembali masakan yang tadi aku tinggal sebentar untuk melihat Zahra.


Aku ingin memasak makanan kesukaan mas Danar


Karna mang Udin sekarang sedang menuju bandara Soekarno Hatta untuk menjemput mas Danar


mang Udin tau mas Danar itu paling tidak suka menunggu


Maka dari itu dia sudah lebih dulu berada di bandara.


Saat aku akan beranjak. Zahra menggenggam tangan ku menghentikan kaki ku yang akan melangkah ,terpaksa aku berbaring disampingnya agar dia kembali tertidur


Aku terkesiap mendengar suara berisik dari depan kamarku


Ku lihat Zahra sudah tidak ada lagi di kamar


Perasaan tadi bukan nya Zahra sedang tertidur batin ku.


Astaga. Aku ketiduran dimana Zahra . Aku segera turun dari tempat tidur dan berlari membuka pintu kamarku


langkah kaki ku berhenti d ruang keluarga


kulihat Zahra sedang bermain dan bercanda gurau dengan mas Danar.


Aku menutup mulut dengan kedua tangan ku

__ADS_1


ya Tuhan rupanya mas Danar sudah pulang


"Mama."....teriak Zahra memangil ku dan berlari ke arah ku , "Papa pulang ma " Ku hanya membalas ucapannya dengan senyuman.


Ku genggam tangan kecilnya dan menuntun nya menemui mas Danar, yang menatap ku sedari tadi


Maaf Mas aku ga nyambut mas pulang


Tadi aku nemenin Zahra tidur eh malah aku yang ketiduran , ucap ku penuh malu


Nggak apa koq ,mas tahu kamu capek seraya memeluk dan mencium keningku


Pasti mas belum makan? Aku masakin sebentar ya


Nggak usah. mas Danar menarik tubuhku yang akan berlalu . Kita makan di luar aja sudah lama kita ga keluar ,iya kan Zahra?


Asik..sudah makan kita jalan jalan ya pa


Ku lihat senyum Zahra yang mengembang


seperti nya dia sangat senang


mas ke kamar dulu ya ganti baju habis itu kita jalan .Aku mengangguk sambil tersenyum


Kami pun menghabis kan waktu dengan bersenang senang, makan ,jalan jalan dan bermain di taman tengah kota .Zahra sangat menikmatinya ,senyum samar terlukis di sudut bibirku aku berharap selalu bisa melihat tawa di wajah Zahra


Setelah puas bermain kami pun memutuskan pulang ke rumah . Dengan hati -hati mas Danar melaju kan mobilnya .karna hari memang sudah gelap entah berapa lama tadi menghabiskan waktu di luar


Aku geli melihatnya dia begitu menggemaskan


mas Danar menggenggam jemari ku


Maafin mas ya. ujarnya pada ku


Aku mengerutkan keningku. Maaf kenapa?


mas Danar melirik ku sekilas


Ku lihat dia menarik nafas panjang dan menghembuskan nya. Nggak mas cuma merasa bersalah karena sering ninggalin kalian berdua.


Ku tatap wajah mas Danar dia mengalihkan pandangannya .Aku tau ada yang di sembunyikan oleh mas Danar


Ku paksakan bibirku untuk tersenyum


Biar aku cari tahu nanti ada masalah apa sebenarnya dengan mas Danar


Entah kenapa aku merasa kepulangan mas Danar kali ini terasa berbeda


Apa selama ini aku baru menyadari nya . Ada yang aneh dengan mas Danar akhir akhir ini. Dia seperti kikuk bila kami sedang berbicara


Tak jarang dia suka mengalihkan tatapannya apa bila tidak sengaja bertemu mata dengan ku

__ADS_1


Tak terasa mobil yang di kendarai mas Danar pun sudah terparkir rapih di halaman depan rumah.


Rumah yang di tempati mas Danar dari sebelum menikah dengan ku . iyah..ini adalah rumah peninggalan orang tua mas Danar., Tepatnya ini adalah rumah warisan .Karna mas Danar anak satu- satu nya juga sama seperti ku , jadi seluruh peninggalan orang tua nya. mas Danar lah yang mewarisi .


Sesampainya di dalam rumah mas Danar menidurkan Zahra di kamarnya


aku pun bergegas masuk ke kamar kami yang bersebelahan dengan kamar Zahra


Segera ku langkahkan kaki menuju kamar mandi .


Bersih- bersih ,ganti baju lalu aku langsung merebahkan diri di atas kasur yang empuk


hah...nikmat sekali aku sangat lelah.


Rasanya mataku tidak bisa di ajak kompromi


terpejam begitu saja


Di mana cincin pernikahan ku ? tadi aku letak kan di meja rias. Kenapa tidak ada


gawat.. mas Danar bisa marah kalau tahu.


Saat mataku menyapu ke arah lantai ku lihat cincin kawin ku sudah terbelah menjadi dua


Aku terkesiap ..


Ku pandangi jemari tangan kiri ku. Masih melingkar dengan manis cincin pernikahan ku dengan mas Danar


Astaga ..untung ini hanya mimpi


Ku lihat jam sudah menunjukkan pukul setengah dua belas malam


Kemana mas Danar ,ku lirik ruang kosong disebelah ku. Sprei nya masih terlihat rapih .Apa mas Danar sedari tadi belum masuk ke kamar apa jangan-jangan mas Danar tertidur di kamar Zahra


Ku langkahkan kaki ku keluar kamar.


aku berjalan dengan tubuh yang masih sedikit gontai sambil tangan ku mengusap ke dua mata agar terbuka dengan sempurna .


Baru aku akan memegang handel pintu kamar Zahra.


Terdengar sayup-sayup suara mas Danar sedang berbicara seperti nya arah suaranya berasal dari ruangan tengah . Ruang kerja mas Danar di mana mas Danar suka menghabiskan sebagian waktunya di ruangan itu jika sedang ada di rumah.


Aku berjalan mendekati pintu yang tidak tertutup sempurna


masih ada celah kecil yang bisa ku pakai untuk melihat mas Danar dari luar


Aku penasaran dengan siapa mas Danar berbicara selarut ini .


apa mungkin mang Udin . Aku berdiri tepat di balik pintu ruang kerja mas Danar ku dengarkan pembicaraan nya


Seperti nya mas Danar sedang berbicara di telepon .Tapi siapa yang di telpon tengah malam begini

__ADS_1


Aku makin penasaran.tidak mungkin kan mas Danar menelpon rekan kerja nya selarut ini memang nya ga ada waktu besok.


__ADS_2