Cintai Aku, Suamiku

Cintai Aku, Suamiku
Sakit luar biasa


__ADS_3

Vina menarik sudut bibirnya. Penuh dengan rencana dalam pikirannya. Dia mengangkat kepalanya tanpa rasa takut lagi. Kedua mata itu menatap kedepan dengan tatapan mata tajamnya. "Aku tidak akan tinggal diam. Apa yang dilakukan olehnya sudah kelewatan!" kata Vina. Dia mulai mengeluarkan rencananya. Dia beranjak berdiri. Tersenyum licik di bibirnya.


"Aku akan merubah keadaan dengan begitu cepatnya. Aku memang dia sakiti. Aku memohon untuk dicintai olehnya. Tapi, aku juga tidak mau hanya berdua diri untuk menyaksikan apa yang mereka lakukan.  Sakit hati melihat mereka berbuat itu di depan  mata tanpa rasa bersalah sama sekali. Bahkan dia tidak pernah berpikir tentang perasaan istrinya!" kata Vina. Dia menghela napasnya. Rahangnya memegang seketika. Kedua tangannya mengepak sangat erat.


"Apa yang aku lakukan, aku akan membuat kamu sadar. Bagaimana istrimu itu lebih berharga dari wanita lain!" kata Vina. Vina memejamkan kedua matanya. Dia berusaha untuk memenangkan hari ha yang sudah hancur. Sekarang hanya dirinya yang bisa merubah keadaan. Dia tidak mau terlihat lemah. Apapun yang terjadi. Cinta memang tidak bisa dipaksakan. Tapi, cinta bisa berubah kapan saja. Aku masih berharap dia sadar. Tapi, jika apa yang aku lakukan tidak membuat Albert berkutik hatinya. Dia bersiap akan pergi meninggalkan Albert. Dan, memulai hidup baru dengan kenyamanan yang baru. Tanpa pedulikan Cinta yang hanya bisa membuat hatinya terasa sangat hancur.


"Vina, apa yang kamu katakan?" tanya Vina sendiri. Ini terlalu berbahaya juga untuk hatimu. Mungkin bisa membuat hancur sehancurnya. Dan, rasa trauma itu pasti akan sangat besar nantinya." kata Vina. Dia mengerutkan bibirnya. Dan, segera mengusap air mata yang masih tersisa di pipinya. Kedua mata itu menatap ke arah cermin. Melihat mata yang sedikit bengkak. Vina segera pergi menuju ke toilet. Menatap wajahnya yang tak bisa dikendalikan lagi. Begitu sayu dan menyedihkan.


"Sayang, kamu didalam?" suara seorang laki-laki itu mengejutkannya. Dia terdiam sejenak. Kedua mata itu menatap lurus kedepan.


Suara yang sangat familiar di telinga Vina. "Ada apa?" tanya Vina. Dengan santainya tanpa menunjukan sakit hatinya.


"Kamu di dalam?" tanya Albert.


"Sudah tahu aku di dalam, masih saja tanya. Apa kamu mau ke kamar mandi?" tanya Vina. Seolah tahu apa yang ada di pikiran Albert.


"Iya, aku aku ke kamar mandi sebentar!" kata Albert. "Kenapa kamu bisa tahu?" tanya Albert penasaran.


"Ya, karena aku tahu apa yang kamu inginkan. Bukannya tadi kamu habis berenang di laut. Lain, kali pakai pengaman. Biar aman, nanti kalau kamu tergelak dalam penyesalan. Kamu akan kehilangan semuanya. Kamu bisa mendapatkan apapun yang kamu inginkan. Tidak dengan cinta!" kata Vina. Seketika Albert terdiam. Dia memutar otaknya memahami apa yang Vina katakan. Vina menarik sudut bibirnya. Dia berjalan ke arah pintu.


"Kamu bingung apa yang aku katakan?" tanya Vina.


"Jangan terlalu bingung. Aku bisa memahaminya!" kata Vina.


"Apa yang terjadi denganmu?" tanya Albert.


"Apa tadi kamu juga tahu. Apa yang aku lakukan?" tanya Albert.

__ADS_1


"Tidak, bukanya kamu tahu. Aku masih di dalam kamar rini dari tadi." kata Vina berbohong.


"Oh, ya! Nanti bilang padaku ya, jika sudah sampai di darat. Aku ingin turun. Dan, segera pulang ke rumah. Orang tuaku menghubungiku. Aku harus disana untuk beberapa hari!" kata Vina.


"Buka dulu pintunya. Aku ingin bicara." kata Albert. Dia mulai paham sedikit apa yang dikatakan Vina. Dia berpikir jika Vina ingin pulang ke rumah orang tuanya.


"Baiklah, aku akan buka pintunya. Tapi, satu hal. Aku ingin kamu melihat apa yang aku lihat." kata Vina.


"Emm.. Bentar! Aku tidak mau bicara dulu. Nanti saja, jika waktunya tiba. Kita semua akan tahu!" kata Vina. Dia memegang gagang pintu. Perlahan telapak tangan kanan itu memutar gagang pintu. Dan, mulai membukanya. Dia membuka semua kunci yang menutup pintu itu.


Vina menarik napasnya dalam-dalam. Dia tahu membuka pintu sama saja. Dia harus sabar. Dia harus lebih sabar lagi. Tanpa banyak bicara, Vina perlahan menatap ke arah Albert. Dia mengangkat kepalanya, kedua mata itu saling berhadapan sejenak.


Albert meriah tangan Vina. Dia menariknya masuk ke dalam. Dan mencuci kamar itu erat.


"Aku ingin bicara denganmu!" kata Albert.


"Apa yang kamu katakan," tanya Vina. "Kamu mau bicara apa lagi. Aku hanya ingin pulang. Hanya beneran itu saja. Setelah itu aku akan kembali lagi," kata Vina.


"Kenapa kamu mau pulang?" tanya Albert.


"Tidak ada apa-apa?"


"Apa karena aku sama sekali tidak menyentuhmu?" tanya Albert.


"Bukan!"


Albert menegang kedua lengan tangan Vina. "Aku ingin bilang satu hal padamu. Aku hanya ingin kamu tahu. Apa yang aku rasakan selama ini. Aku benar-benar benci dengan kehidupan ini. Tapi, aku sadar aku istri mu. Aku merasa sangat bahagia menjadi istrimu. Tapi, maaf! Aku akan melakukan hal yang lebih penting dari semuanya!" kata Vina.

__ADS_1


Albert semakin bingung di hatinya. Dia tidak tahu apa yang harus dikatakan.


"Apa yang harus aku lakukan?" tanya Albert.


"Entahlah!" kata Vina.


Albert perlahan melepaskan kedua tangan Vina. "Apa kita pergi sekarang?" tanya Albert.


"Iya!" jawab tegas Vina.


Vina menghela napasnya. Dia hanya tersenyum palsu di depan suaminya.


**


Hingga beberapa jam di kapal. Albert dan Vina seŕta Aira mereka kembali ke villa. Sementara berbeda dengan Vina. Dia bersiap untuk segera pergi. Membawa koper miliknya. Dan, bergegas pergi dari Vila saat albert sedang mandi. Dua sengaja meninggalkan Aira dan albert sendiri. namun saat dirinya berjalan. Dia melihat Aira menatap ke arahnya. Dengan tatapan mata licik nya. Aira melangkah mendekati Vina.


"Mau Kemana?" tanya Aira dengan santainya.


"Kenapa?" tanya Vina datar.


"Aku mau pergi sebentar!" kata Vina.


"Oh, Ya! Jangan katakan semuanya. Jangan bilang pada Albert jika aku pergi. Lagian, kamu juga ingin tetap disini, kan. Jadi, diam saja. Jangan terlalu banyak berbicara." kata Vina, menarik salah satu alisnya.


"Oh, ya! Kemarin aku melihat barang yang begitu murah. Sangat murahan, tapi barang itu juga tidak begitu menarik. Kalah jauh dengan barang mahal yang sama sekali belum tersentuh tangan-tangan orang yang ingin memakai barang itu." kata Vina. Seketika menusuk ke dalam hati Aira. Di melangkahkan kakinya pergi dengan senyum penuh dengan kepuasan.


Sementara Aira dia hanya diam. Dia mengenduskan napasnya kesal. Kedua mata itu tidak berhenti terus menatap ke arah Vina melangkah.

__ADS_1


"Apa yang dia katakan? Apa sebenarnya dia tahu? Tapi, kenapa dia menghinaku, dan memilih pergi? Apa yang direncanakan olehnya?" kata Aira.


__ADS_2