Cintai Aku, Suamiku

Cintai Aku, Suamiku
Berlalu


__ADS_3

Setahun kemudian.


"Makasih, ya, Mas, kamu udah nemenin aku seharian ini. Aku bingung banget nyari hadiah yang cocok buat mama yang ulang tahun. Untung kamu memiliki rekomendasi beberapa toko tas yang bagus," ucap Ayu sambil tersenyum melihat kau tak hadiah di dalam paper bag yang baru saja dibelinya bersama Khai di mall.


"Sama-sama, Sayang. Aku juga senang kok bisa ikut membantu memilihkan kado untuk mama," ucap Khai. Sejak dirinya menjalin cinta dan bertunangan dengan Ayu, dia sudah lumayan dekat dengan Nuri. Jadi tak heran dia memanggil wanita itu dengan sebutan mama.


"Oh ya, bukannya malam ini kamu ada acara, ya, di rumah saudara kamu?" ucap Ayu yang baru ingat jika kekasihnya memiliki acara dengan keluarga dari ibunya.


"Iya, sih, tapi aku males datang karena mereka orangnya…..nggak asyik." Sepertinya hal yang sedikit mengganggu pembicaraannya.


"Kok gitu, sih? Kasihan dong sepupu kamu yang lagi ulang tahun." Ayu merasa heran dengan Khai yang sama sekali tidak mau datang ke pesta ulang tahun saudaranya sendiri.


"Aku cuma nggak suka aja sih berbaur sama mereka. Mereka agak toxic, beda sama keluarga Papa yang baik dan ramah."

__ADS_1


"Toxic gimana, sih?" Ayu merasa penasaran dengan keluarga toxic yang dimaksud Khai.


"Ya gitu, deh, suka ngomong nggak disaring. Agak-agak savage, lah." Khai sepertinya tidak mau membahas mereka lebih dalam lagi.


"Oh, gitu? Terus mama sama papa ikut juga?"


"Iya, mereka terpaksa datang kalau nggak nanti bakalan rame di grup keluarga."


"Ada-ada aja, kamu." Ayu terkekeh mendengar Khai. Mereka pun lanjut makan malam dengan menu yang sudah tersedia di atas meja.


"Khai, kamu di sini?" Tesa, mantan pacar Khai datang menghampiri mereka dan seenaknya duduk di sebelah Khai. Membuat mood Ayu sedikit berubah namun dia berusaha untuk tidak marah.


"Iya, makan malam sama tunangan aku," ucap Khai sambil memperkenalkan Ayu agar mantan kekasihnya segera pergi.

__ADS_1


"Hah? Kamu pacaran sama janda? Nggak salah, Khai? Begitu banyak gadis di dunia ini, tapi kamu memilih janda?" Tesa terkekeh menertawakan Khai yang berpacaran dengan janda.


"Biarpun janda tapi terhormat. Bukan gadis yang bahkan udah nggak memiliki kehormatan lagi," sindir Khai yang langsung membuat ekspresi wajah Tesa berubah.


"Heh, kamu jangan sok suci deh. Dia juga janda, bekas orang!"


"Ya, tapi seenggaknya satu orang. Nggak kayak kamu, yang nyobain banyak. Tapi, ya, dia cuma nikah kontrak, masih tersegel, nggak kayak kamu udah kemana-mana." Lagi-lagi ucapan Khai membuat Tesa semakin kehilangan kesabaran.


"Awas, kamu, Khai, aku akan memberi pelajaran sama kalian!" Tesa pun pergi dari meja mereka dengan perasaan yang sangat kesal.


"Kamu kok ngomong kayak gitu sih sama dia? Kasian dia, Sayang. Siapa tau dia datang ke sini buat minta maaf." Ayu menyayangkan sikap Khai yang terbilang sangat kasar pada mantan pacarnya.


"Orang kayak dia mana mungkin minta maaf sama aku, hahaha. Lagian apa kamu nggak denger waktu dia menghina kamu?"

__ADS_1


"Ya tapi tak perlulah dibalas sampai kayak gitu."


"Iya, iya, Sayang, maaf, ya. Ya udah, sekarang lebih baik kita makan karena aku udah laper banget." Khai mengusap pipi Ayu dan tersenyum kecil. Mereka pun melanjutkan makan malam dan saling bercanda ria.


__ADS_2