
Ranjang bergetar hebat, rintihan, erang*n, des*h*n terdengar begitu jelas di dalam kamar hotel yang sangat mewah.
Ayu dan Khai sedang menikmati malam yang indah sebagai pengantin baru. Terlihat betapa panasnya pertempuran mereka hingga membuat ranjang yang semakin bergetar hebat.
"Mas udah, Mas, aku udah nggak kuat," ucap Ayu yang sudah kewalahan menghadapi suaminya. Itu adalah hal yang wajar karena ini adalah pertama kalinya untuk Ayu. Sedangkan Khai, dia karena Ayu benar-benar membuatnya merasa puas. Wajar saja, Ayu kan janda per*w*n. Meskipun statusnya janda, tapi dia masih tersegel dengan sempurna.
"Iya, Sayang, bentar lagi, ya," ucapnya sambil mencium bibir Ayu. Dia pun semakin mempercepat temponya hingga akhirnya dia melepaskan sesuatu sebagai tanda akhir.
Mereka terlihat ngos-ngosan karena pertempuran ini hampir berlangsung dua jam.
"Aduh, Mas, aku nggak mau kalau selama ini. Lututku lemes banget." Ayu menggerutu di samping suaminya yang tersenyum puas sambil menatap langit-langit.
"Jadi kayak gini rasanya? Astaga, pantesan aja banyak anak muda zaman sekarang yang nikah muda karena MBA. Untung aja sebelum menikah aku nggak pernah mengenal hal ini. Kamu benar-benar membuat aku melayang, Ayu," ucap Khai sambil mencium kening sang istri.
__ADS_1
"Lagian kamu minum apa sih kok bisa sampai lama-lama gini."
"Hehehe, tadi aku minum obat kuat dari temanku. Lain kali, aku nggak akan minum itu lagi kok."
"Ya udah, aku mau mandi. Biar besok subuh nggak perlu keramas lagi," ucap Ayu sambil melangkah meninggalkan ranjang yang terdapat bercak darah darinya.
Khai pun langsung mengambil sprei yang terdapat bercaknya, lalu melipatnya dan memasukkan ke plastik dan koper. Sprei itu memang miliknya yang sengaja dia bawa dari rumah karena tidak ingin bekas perbuatan mereka dicuci oleh pegawai hotel. Untung saja yang dia bawa adalah sprei dengan fungsi waterproof sehingga hasil perbuatan mereka tidak tembus ke bawah.
Keesokan harinya, mereka pun meninggalkan hotel dan pulang ke rumah orang tua Khai. Tadinya Ayu sempat berpikir bahwa dia akan memiliki mertua yang galak dan suka memerintah seperti cerita di novel pada umumnya.
Namun, tidak disangka, Ibu Khai sangat lembut dan perhatian. Dan yang lebih mengejutkan lagi, ibu Khai sama sekali tidak bisa memasak dan melakukan pekerjaan rumah.
Bahkan masakan pertama Ayu yang dibuat di sana membuat mereka benar-benar lahap memakannya sampai habis.
__ADS_1
"Kamu beruntung banget sih punya istri yang rajin kayak Ayu. Masakannya enak lagi. Jadi berat nih karena kalian harus pindah ke rumah baru."
"Ma, Mama jangan gitu, dong. Aku kan sama Ayu pindahnya nggak jauh dari sini."
"Iya, Ma. Kalau Mama suka masakan Ayu, nanti setiap harinya Ayu akan suruh ART untuk mengantarkan masakan Ayu buat Mama."
"Nggak perlu sampai repot-repot seperti itu, Sayang. Kalian hidup rukun dan bahagia aja Mama udah senang. Jangan lupa kasih Mama cucu, ya?"
Ucapan sang mama membuat mereka langsung salah tingkah. Tak disangka, mamanya akan langsung menemb*k dengan permintaan seperti itu.
"Iya, Ma, tenang aja. Anak kita ini jago, kok," ucap sang papa sambil menaikan alisnya pada Khai.
Khai merasa malu karena digoda oleh papanya seperti itu. Orang tuanya adalah tipikal orang tua yang sangat perhatian dan peduli. Untung saja, ya, Yu.
__ADS_1