Cintai Aku, Suamiku

Cintai Aku, Suamiku
Menikah


__ADS_3

"Saya terima nikahnya Ayunia Balqis binti almarhum Irawan dengan uang sebesar dua ratus juta rupiah tunai!"


"Bagaimana para saksi? Sah?" tanya seorang penghulu pada semua saksi yang hadir di dalam acara sakral itu.


"Sah!" ucap mereka semua kompak. Mulai hari ini, Ayu dan Khai sudah resmi menjadi pasangan suami istri.


Mereka mengadakan resepsi pernikahan yang sangat mewah di sebuah gedung di tengah kota. Pernikahan mewah itu dihadiri oleh sanak saudara dan juga semua rekan bisnis Khai maupun Ayu.


Tapi tunggu dulu. Sanak saudara? Maksudnya saudara ibunya Khai yang sangat toxic itu? Memangnya, seberapa parah mereka sehingga Khai harus menyebutnya toxic?


"Oh, jadi ini ibunya Ayu, ya? Kenalkan, saya Susi, kakak ibunya Khai. Saya punya usaha toko pakaian di sini. Kalau mau beli silakan datang saja," ucap Susi sambil tersenyum ramah pada Nuri.


"Iya, Mbak, kalau saya mau beli pakaian nanti saya akan datang ke toko Mbak."


"Tapi, saya rasa, sebelum datang, harus lihat dulu apakah isi dompet sudah pas?"


"Memangnya mahal banget, ya, Mbak?"


"Lumayan, lah. Namanya juga pakaian orang-orang kaya. Kemarin aja anak saya ulang tahun saya berikan pakaian yang harga dua juta."

__ADS_1


"Iya, Mbak, kalau segitu sih, bisa, kok."


"Ya saya kan cuma mewanti-wanti aja. Soalnya kan kamu janda, anaknya juga janda."


"Memangnya apa hubungannya janda dengan uang?"


"Ya, nggak ada, sih. Ya kalau menurut saya jangan sok kaya, sih."


"Ya nggak papa, kan memang kaya. Anak saya punya perusahaan besar dan mempekerjakan rihuan karyawan. Entah mungkin anak kamu kerja di perusahaan anak saya."


"Hah? Memangnya anak kamu punya perusahaan? Kok saya baru tau." Susi terlihat tak percaya saat Nuri mengatakan hal itu.


"Nggak tau gimana? Oh, pasti karena Khai nggak pernah cerita, kan? Khai memang nggak mau banyak yang tahu kalau istrinya itu CEO."


"Ya biarin, daripada status gadis tapi udah nggak suci lagi. Atau, hamil sebelum nikah."


Susi terkejut mendengar ucapan Nuri. Bagaimana dia tahu kalau anak perempuannya semuanya bermasalah? Ada yang hamil duluan, pergaulannya terlalu bebas.


"Ya tetap saja, ya, Khai itu kan lajang. Masa iya statusnya janda. Asal kamu tahu, ya, ibunya Khai sebenarnya kurang setuju kalau anaknya nikah sama janda."

__ADS_1


"Oh ya? Terus, masalah buat gue?"


"Heh, saya bilangin bagus-bagus kok malah gitu responnya."


"Ya biarin, emang gue pikirin."


"Kamu itu nyebelin banget, ya."


"Kok tau? Dukun, ya?"


Tak bisa berkata apa-apa lagi, Susi pun pergi dari hadapan Nuri dengan perasaan kesal dan wajah masam.


"Lho, kok Tante Susi kayak kesel gitu?" ucap Khai saat melihat pantainya berjalan meninggalkan Ibu mertuanya dengan wajah yang sangat kesal.


"Sebenarnya Mama itu orangnya lumayan apa, ya, namanya. Kalau debat selalu menang. Ya sering nge-ulti gitu."


"Oh, pantesan Tante Susi kesel. Alhamdulillah, ada lawan juga ternyata. Nggak nyangka kalau mama mertuaku jago debat. Orang kayak tante Susi memang harusnya dikasih lawan sepadan. Mamaku aja yang sejak dulu selalu mengalah sama kakaknya."


"Kamu ih, sama saudara sendiri kok kayak gitu." Ayu mencubit pinggang Khai hingga membuatnya meringis.

__ADS_1


"Aduh, kamu kalo mau ya nanti, dong, Sayang. Masih banyak tamu, nih," goda Khai.


"Ih apaan sih!"


__ADS_2