Cintai Aku, Suamiku

Cintai Aku, Suamiku
Bertemu dengannya lagi


__ADS_3

Keesokan harinya.


Vina sudah kembali ke rumahnya. Setelah bertemu dengan Kesha dan yang lainya. Dia merasa sangat lega. Dan sejak dua hari yang lalu. Vina benar-benar menjauhi Albert. Hingga putus kontak dengannya.


Sekarang dia ingin sekali pergi ke Paris ikut dengan orang tuanya. Yang ternyata sudah berangkat lebih dulu. Dan ayahnya sudah memberi tahu dia untuk pergi sendiri nantinya.


Vina baru saja bersiap untuk pergi ke Paris. Dan semua barang-barangnya juga sudah siap. Tertata rapi di dalam koper warna hitam itu.


Maaf semuanya. Teman-teman aku dan yang lainya. Aku sekarang pergi! Semoga kelak aku bisa bertemu lagi dengan kalian. Kalianlah penyemangatku.


"Non, mobil sudah siap," ucap pembantu Vina. Memecahkan keheningan dalam dirinya. Vina mencoba untuk tetap tersenyum di depan para pelayan yang akan di tinggalkannya itu. Tetapi ayahnya masih memperkerjakan mereka untuk bersih-bersih rumahnya.


"Baik, saya juga sudah selesai bi," kata Vina, beranjak berdiri. Hati Vina yang terlihat rapuh mencoba untuk tetap tegar di depan semuanya. Rasa kasihan atau apapun tak terlihat di matanya. Kali ini dia ingin melupakan masa laku yang menyakitkan. dan menyambut masa depan yang jauh lebih baik lagi.


Vina menarik napasnya dalam-dalam. Ia menatap sekeliling kamarnya. "Aku akan pergi dari sini. Memulai hidup baru, yang entah nanti akan menyenangkan atau tidak" gumam Vina dengan senyum tipisnya.


Vina melangkahkan kakinya penuh ragu, meninggalkan rumah yang sudah sejak kecil ia tempati. Dan karena papanya memutuskan untuk pindah. Dengan terpaksa ia mengikutinya. Mereka memang pindah rumah di sana memulai


kehidupan barunya. Dan membiarkan perusahaan di sini di atur oleh manajer di kantornya.


Vina segera masuk ke dalam mobilnya. Dan mobil mulai jalan, menuju ke bandara. Tiga puluh menit lagi, pesawat akan take off.


Ia segera mungkin sampai di sana tempat waktu. Tidak mau telat lagi nantinya, mau berangkat kemarin malam, ia ketinggalan pesawat dan harus menunda lagi keberangkatannya.


“Pak, ngebut ya!!” ucap Vina, duduk santai di belakang.


“Iya, non.”

__ADS_1


Vina Membuka ponselnya, melihat beberapa pesan yang masuk. Sudah dua hari ia tidak membuka ponselnya sama sekali, dan banyak sekali panggilan tak terjawab dan puluhan pesan. Panggilan dan pesan memenuhi ponselnya itu dari, ‘Albert’.


Melihat nama itu, seketika Vina memasukan kembali ponselnya. Mengurungkan niatnya untuk membaca pesan darinya. Entah meski sudah bertemu dengannya. Dia merasa masih ingin sekali untuk marah padanya. Rasa kecewa membuat hatinya tertutup untuknya.


 


Di sisi lain, Albert juga sudah bersiap menuju ke bandara. Dianyang sudha tahu keberadaan Vina. Tak mau kehilangan dia lagi, Albert mencoba untuk membuat Vina berubah pikiran. Albert melangkahkan kakinya keluar dari kamarnya.


“Albert kamu mau kemana?" tanya kakaknya, yang kebetulan lewat lewat di depannya.


"Aku mau nalik ke Paris, kak. Ada hal penting yang akan aku kejar." ucap Albert, tersenyum tipis.


"Aku tahu, kamu pasti mau mengejar cinta kan. Jika memang cinta yang kamu kejar sekarang pergilah. Kejarlah cintamu, jangan biarkan dia pergi. Jika dia sudah jauh nanti maka semua akn terlambat. Jjangan biarkan dia pergi terlalu jauh.. Dan kakak akan selalu mendukung kamu. Mendukung semua yang kamu putuskan, dan aku harap kamu jangan sampai menyesal nantinya" ucap kakak Albert menepuk-nepuk bahu Albert.


"Baik, kaka. Makasih" ucap Albert. “Doakan saja adik kamu ini bisa mendapatkan kembali hatinya” lanjut Albert.


Kakak Albert hanya mengedipkan matanya. memberi kode padanya untuk segera pergi.


 


"Vina, di manapun kamu berada. Aku akan selalu datang mengejar kamu. Aku akan selalu mencarimu kapanmu. Dan sesuai janji aku, aku tidak akan pernah pergi dari kenyataan. Dan lari dari tanggung jawab." batin Albert, segera masuk ke mobil kakaknya. Meski dalam hati dia belum sama sekali merasakan cinta tumbuh pada dirinya selain dengan Kesha orang yang pernah dia sukai. Dna sekaligus wanita pertama yang telah menolaknya berkali-kali. Tetapi karena dia sebentar lagi akan menikah dengan laki-laki, membuat dia semakin down.


"Pak, ke bandara sekarang" ucap Albert buru-buru.


“Iya, tuan,”


Dua puluh menit perjalanan Albert segera keluar dari mobilnya, berlari masuk ke dalam bandara. Ia melirik jam tangan yang melingkar di pergelangan tanganya, kurang lima menit lagi, Pesawat sudah akan take off.

__ADS_1


“Haduh... aku terlambat ini,” ucap Albert, yang harus lari maraton ia langsung naik pesawat dan duduk dikusi yang sudah di tentukan.


Bruuukkk...


Albert seketika menjatuhkan badanya duduk di kursinya. “Maaf.. maaf” ucap Albert, yang tidak sengaja menenggor minuman orang di sampingnya.


“Shiiitttt.. Apa kamu gak punya mata.” bentak wanita itu, yang sudah terlihat sangat geram, gara-gara pria di sampingnya bajunya jadi kotor.


“Maaf aku gak sengaja” ucap Albert lagi, mendongakkan kepalanya kompak dengan wanita di depannya. Seketika ke dua mata mereka saling tertuju terbelalak mentap siapa yang ada di depannya itu.


“Al.. Albert!!” ucap Vina lirih, napasnya seketika sesak, melihat kenyataan di depannya.


Bagaimana bisa aku bertemu dengan Albert di sini. Oh.. Tuhan.. kenapa dia selalu muncul di hadapanku, kenapa dia tidak pergi dari hidupku saja.. terus sekarang apa yang aku lakukan.. dia ada di depanku, bersamaku, menatapku. Pikir Vina dalam hatinya yang mulai gusrah.


Ia terkihat sangta gugup dengan napas yang sudah mulai tersendak-sendak.


“Aku gak menyangka kita bertemu lagi di sini,” ucap Albert, seketika lengsung memgang ke dua pipi Vina, yang menatapnya dengan wajah kosong.


“Vina, aku mencari kamu dari kemarin, dan sekarang kamu ada di sini. Aku akan ikut kamu sekarang, ikut kemanpun kamu pergi. Aku mohon jangan pernah tinggalkan aku lagi,”


Vina yang mendengar ucapan itu masih bengong, tidak menyangka dengan ucapnya. Ia hanya bisa bergumam dalam hatinya.


Vina menghela napasnya. Meskipun dirinya tidak mau bertemu Albert lebih dulu. Tapi, apa daya. Takdir berkata lain. Dia di pertemukan lagi dengan Albert. Tapi, saat melihat Albert. Dia sudah tidak begitu antusias. Vina hanya diam sembari memincingkan matanya.


"Apa yang kamu lakukan, disini?" tanya Albert.


"Bukan urusan mu!"

__ADS_1


"Aku yakin jika kamu pasti pergi ke rumah Manda. Dan, dugaan aku benar. Kamu beneran ke rumah Manda." kata Albert. Dia meriah tangan Vina. Memegang tangannya sangat erat. Mengangkat perlahan. Memberikan kecupan di punggung tangannya. Vina merasa perutnya mulai mual melihat rayuan Albert. Dia ingin sekali muntah mendengar kata-kata buaya di depannya.


Apa Vina akan kembali bersama suaminya? Memaafkan semuanya. Memberinya kesempatan lagi? Tapi, sedangkan dalam hati dia menyimpan rasa kecewa. Seakan tidak ingin memaafkan lagi.


__ADS_2