Cintai Aku, Suamiku

Cintai Aku, Suamiku
Selamat


__ADS_3

"Ayu, selamat, ya." Sofia langsung memeluk Ayu dan menangis terharu karena mereka saling merindukan.


"Aku kangen banget sama kamu, Sof." Ayu mengusap tangan Sofia.


"Aku juga kangen, maafin aku karena tiba-tiba menghilang tanpa kabar. Aku pulang ke rumah orang tuaku dan baru kembali seminggu yang lalu. Aku udah bercerai dari Mas Vikram setahun yang lalu," ucap Sofia yang langsung membuat Ayu terkejut setengah mati.


"Hah? Kenapa?"


"Mas Vikram memiliki istri selama tinggal di luar negeri. Dan waktu Kamu nelpon aku dan bilang kalau mau ke rumahku, sebenarnya Mas Vikram pulang dan mengenalkan istri keduanya. Dia ingin aku menerimanya. Tapi aku menolak dan memutuskan untuk bercerai darinya. Aku sangat terpukul dan terpuruk, sehingga aku pulang ke rumah orang tuaku di kampung dan nggak memberitahu siapapun."


"Waktu itu aku juga mergokin Mas Rafa sama istrinya. Bahkan saat patah hati pun kita bersama-sama mengalaminya. Tapi, sekarang aku dan Mas Rafa sudah berteman baik, kok."


"Sudahlah, aku ke sini bukan untuk menceritakan nasibku. Aku senang sekali karena kamu menikah dengan orang yang tepat."


Khai tersenyum pada Sofia. Sayangnya saat itu dia belum mengenal Ayu sehingga tidak tahu jika Sofia adalah sahabatnya. Jika mereka mengenal lebih dulu, sudah pasti Khai akan memberitahu Sofia sejak lama.


Setelah Sofia pergi, Ayu pun menyikut lengan Khai. "Jadi selama ini kamu tahu kalau suaminya itu selingkuh?"

__ADS_1


"Ya tahu, tapi kan aku nggak kenal kamu waktu itu. Jadi aku nggak bisa dong sembarangan ngebocorin rahasia temanku. Tapi, sekarang suami Sofia udah mendapatkan balasannya kok."


"Hah? Kenapa?"


"Dia di penjara karena melakukan korupsi di perusahaannya karena mengikuti gaya hidup istrinya yang mewah. Dia meninggalkan berlian demi perak, maka wajar jika dia mendapatkan karma atas perbuatannya.


****


Sofia baru saja keluar dari gedung itu. Bukan hendak pulang, dia ingin menelpon asisten rumah tangganya untuk mengunci pintu karena malam ini dia akan menginati hotel dekat gedung ini. Dia ingin di sini sampai larut.


Selesai menelepon, Sofia pun melihat seorang pria yang duduk di kursi roda sedang memegang pisau dan hendak menyayat pergelangan tangannya.


Rafa terkejut melihat Sofia, sahabat mantan istrinya ada di sini.


"Sofia?"


"Mas Rafa?"

__ADS_1


Sofia juga terkejut karena yang ada di kursi roda adalah Rafa. Dan dia lebih terkejut lagi karena ternyata, Rafa bukan hendak memotong pergelangan tangannya. Rupanya dia hendak memotong bungkus snack yang ingin dimakannya selagi menunggu sopirnya yang sedang buang air kecil.


"Eh, maaf, Mas, aku kira tadi kamu mau…"


"Walaupun dunia ini kejam, tapi aku nggak akan melakukan hal bodoh seperti itu. Makasih ya kamu udah mengingatkan aku." Rafa tertawa kecil. Mungkin karena keadaan yang seperti ini orang-orang berpikir bahwa dia lebih baik mengakhiri hidupnya. Tapi tidak, dia tidak akan menyerah begitu saja pada takdir. Dia akan bangkit dari keterpurukannya saat ini.


"Pak, ayo kita pulang," ujar sang sopir yang lagi-lagi membuat Sofia terkejut.


"Pak Asep? Bapak kerja sama Mas Rafa?"


"Eh, Neng Sofia. Iya, Neng, saya kerja sama Mas Rafa."


"Kamu kenal?" tanya Rafa semakin heran.


"Kenal, Mas, Pak Asep ini udah kayak keluarga. Dulu pernah kerja jadi sopir saya sebelum saya pulang kampung."


"Oh gitu."

__ADS_1


Rafa dan Sofia pun terlibat obrolan kecil hingga akhirnya keduanya berpisah karena Rafa harus pulang, dan Sofia harus kembali ke dalam.


__ADS_2