Cintai Aku, Suamiku

Cintai Aku, Suamiku
Siapa yang menelfon?


__ADS_3

"Kemana Vina, kenapa dia belum juga kembali?" geram Albert. Dia duduk sembari menunggu Vina yang entah kemana perginya. Setelah kejadian kemarin Vina bahkan tidak mau berbicara dengannya lagi. Bahkan, hanya karena rasa cemburu dia tidak pernah sama sekali meminta maaf pada Vina. Meskipun dia sudah tahu jika dirinya salah.


Aira masih berada dalam bayangan Albert. Di pikirannya bagaimana cara menyingkirkan wanita itu. Agar dirinya tidak di ganggu olehnya lagi. Pikiran Albert Terlihat begitu penat. Antara istrinya, dan wanita lain yang tiba-tiba dalam hidupnya.


Tok.. Tok.. Tok..


Suara ketukan pintu itu mengejutkan Albert.


"Albert buka pintunya. Cepetan!" suara seorang wanita yang sepertinya sedang ketakutan membuat Albert segera melihat di balik lubang kecil di pintu. Dia melihat Vina berdiri dengan wajah ketakutan di depan pintunya.


"Sejak kapan dia dikamar? Kenapa aku tidak tahu? Apa dia memang sengaja tidak memberi tahuku dari tadi?" kesal Albert. Dia yang sudha menunggu dari tadi. Ternyata oh ternyata, Vina berada di kamar dari tadi.


"Albert cepetan.. Aku takut sendiri di kamar."


Tuh wanita bener-bener nyebelin banget sih. Kalau gak mau di kamar sendiri kenapa juga dia berada di kamar dari tadi.


Dalam satu tarikan napasnya. Albert segera membuka pintunya. Dan, wanita itu seketika mendekap tubuh Albert sangat erat. Di sisi lain, Albert mengira ini adalah bonus untuknya. Dapat sebuah pelukan darinya. Apalagi badannya menempel sangat terasa di dadanya. Benar-benar merubah pikirannya jadi kotor.


Albert mengerutkan keningnya. Dia merasa aneh dengan sikap Vina. Setelah mengurung seharian di kamar. Pikirannya jadi berubah dalam sekejap saja. Kemarin dia marah, kesal padanya saat meluaht dirinya bersama Aira. Dan, sekarang dia tiba-tiba aneh dengan segala tingkah lakunya.


"Vin, kamu sedang apa di dalam kamar dari tadi? Kenapa kamu seharian tidak keluar? Kamu suka membuat suamimu khawatir?" tanya Albert. Menyudutkan Vina. Dia melepaskan pelukan Vina, Vina menarik tangannya masuk ke dalam kamarnya.


"Jadi kamu khawatir padaku?" tanya Vina. Sembari menarik sudut bibirnya tipis.


"Iya, jelas aku khawatir. Karena Kamu itu istri aku. Jika kamu bukan istriku. Aku tidak mungkin sekawatir ini." kesal Albert. Berdengus kesal.


Vina mengerutkan bibirnya. Dia memeluk lengan tangan Albert. Menyandarkan kepalanya di bahu Albert. Sembari mengayunkan tangan Albert beberapa kali. Vina terlihat seperti anak kecil manja.


"Aku takut tadi, lihat film horor sendiri di kamar." kata Vina dengan nada suara manjanya.


Albert tertawa, mendorong bahu Vina.

__ADS_1


"Lagian kamu sendiri yang nonton film horor. Kenapa harus takut."


"Emang kamu gak takut?" tanya Vina tak percaya.


"Aku laki-laki gak pernah takut dengan apapun."


"Yakin?" tanya Vina memastikan.


"Sangat yakin,"


"Tuh di belakang kamu ada apa?" Vina mengeluarkan ekspresi terkejutnya. Ia suka melihat Albert yang ketakutan. Tetapi dia belum pernah melihat dia takut. Ia bingung hal apa yang bisa membuat dia ketakutan. Bahkan sudah berbagai cara sudah dia lakukan tetapi tetap saja.


"Gak ada apa-apa sama sekali," ucap Albert, menarik dua sudut bibirnya menbentuk senyuman paksa.


Ih.. Nyebelin banget sih.. Kenapa dia gak takut. Apa memang dia tidak takut hal seperti itu.. Gumam Vina, menarik tangan Albert, mendekapnya erat, menyembunyikan wajahnya di balik bahu laki-laki tampan itu.


Albert semakin terheran-heran dengan Vina. Dia memincingkan matanya bingung.


"Lepaskan gak!"


Vina meringis, "Boleh minta tolong sesuatu gak,"


"Minta tolong apa?" jawab malas Albert.


"Aku mau kamu temani aku tidur di kamar. Kamu jangan tidur di luar lagi. Aku mohon!" ucap Vina memelas. Dia terus memohon pada Albert.


"Apa kamu gak takut aku melakukan. lagi padamu. Bagaimana jika nanti malam aku ajak kamu berhubungan."


"Nggak! Aku yakin kamu tidak mau berhubungan denganku." tegas Vina. Seolah tahu tentang Albert.


"Kali ini saja."

__ADS_1


Albert memegang kening Vina. "Kamu gak sakit, kan?"


"Iya, bentar saja. Setelah itu aku akan pergi nanti. Hanya kali ini."


"Tapi aku mau pergi," jawab Albert datar.


"Pergi kemana?"


"Ke bar," jawab Albert, ia meraih jaketnya dan sudah bersiap untuk pergi. Dia berusaha mencari alasan Agar bisa pergi dari Vina. Sikap Vina membuat dia bingung. Dia juga sudah tidak berniat untuk tidur dengannya. Atau, berbulan madu dengannya.


"Aku ikut!" Vina menarik tangan Albert, memeluk lengannya erat. Tubuhnya gemetar, melihat ke kanan dan ke kiri was-was


"Apaan, sih. Udah sana pergi. Dan, ingat soal hubungan kita itu hanya kesalah pahaman." pekik Albert menarik tangannya.


Dia apa sudah gila, maksudnya apa hanya salah paham. Memangnya aku apaan. Seenaknya tidur denganku. Dan, terus meninggalkanku begitu saja. Aku tidak mau. Dia juga mau berhubungan dengan siapa saja terserah dia. Udah masa bodo aku, hatiku sudha mati rasa pada laki-laki.


Albert beranjak pergi meninggalkan Vian sendiri di dalam kamarnya. Dia tak perduli mau marah atau gimana nantinya. Sekarang urusannya lebih penting dari pada wanita itu.


Kenapa dia tega denganku. Udah tahu aku takut! Apa memang benar dia tidak suka denganku. Tapi kalau memang tidak suka. Aku tidak masalah dan tetap bersyukur untuk itu semua.


Vina berniat menunggu Albert. Dia duduk di sofa, bahkan sampai berjam-jam menanti kepulangan dirinya. Dalam pikirannya Albert sekarang pasti sedang minum. Dan, dia tidak bisa membiarkan dia kenapa-napa. Hatinya merasa terketut untuk merawatnya nanti.


Hingga 4 jam berlalu. Vina yang sudah tertidur lelap di sofa. Sontak terkejut saat mendengar suara pintu terbuka. Ke dua matanya melebar melihat Albert pulang dengan keadaan lemas tak berdaya.


Hal yang tak terduga mulai terjadi lagi. Dan itu di luar kendali mereka. Malam yang panjang penuh penyesalan mulai lagi. Dan Vina hanya bisa meneteskan air matanya. Dia merasa kesal dan mengutuk dirinya sendiri. Sudah berhubungan Albert. Padahal dia bahkan sudha janji pada dirinya sendiri. Agar tidak tergoda oleh Albert.


Dan, sialnya laki-laki itu berhasil membuat dirinya taklhuk. Bahka dia hanya bisa diam menikmati permainan itu. Vina menggelengkan kepalanya. Dia membayangkan kejadian menjijikkan tadi. Beberapa kali Vina menggeram kesal. Dia tidak mau mengulangi kesalahan lagi.


Laki-laki playboy seperti dia. Tidak pantas mendapatkan kesetiaan. Ini adalah malam pertama. Dan, dia berniat untuk tidak terlalu jauh berhubungan dengan Albert. Dia tidak mau terlalu berharap pada seseorang yang ujung-ujungnya akan membuat sakit hati.


Suara dering ponsel terdengar snagat keras di atas ranjang samping Albert berbaring. Vina yang masih membuka matanya. Dia melirik ke arah layar ponsel. Dan, entah kenapa Albert tiba-tiba menutup layar ponselnya dengan tangan.

__ADS_1


Apa yang menghubungi Albert Itu wanita ****** itu? Apa benar yabg aku lihat kemarin, jika mereka masih berhubungan?


__ADS_2