Cintai Aku, Suamiku

Cintai Aku, Suamiku
Memberikan kesempatan


__ADS_3

"Jangan menyentuhku lagi!" ucap Vina sembari menekankan suaranya.


"Aku memang istri mu. Tapi, apa kamu masih anggap aku istri setelah apa yang kamu lakukan?"


Albert terdiam saat dia mengingat kejadian dengan Aira. Hal itu membuat dirinya merasa bersalah pada Vina. Dia yang mengajak Vina menikah hanha untuk hidup bahagia. Tapi, dirinya juga yang menyakiti hati Vina. Albert mengangkat kepalanya. Dia menatap ke arah Vina.


"Aku khilaf!" ucap Albert menundukkan suaranya.


Vina menarik sudut bibirnya tipis. Dia menoleh ke kiri. Seolah jijik mendengar kata khilaf dari Albert. "Apa aku tidak salah dengar?" tanya Vina.


"Kamu bilang khilaf. Tapi, kenapa kamu tidak pernah sama sekali mengerti khilaf itu apa?" tanya Vina. Dia melangkah lebih dekat dengan Albert.


"Apa yang kamu katakan tadi, Khilaf? Tidak ada yang namanya selingkuh itu Khilaf." Vina menarik sudut bibirnya sinis. Dia menggelengkan kepala pelan . Tangan kanan kiri berkaca pinggang.


"Tidak ada yang namanya khilaf. Kalian melakukan itu secara sadar. Kalian bahkan menikmati itu. Kalian masih bilang itu Khilaf? Apa aku tidak salah dengar?" sindir Vina. Dia tersenyum tipis. Dalam hati menyimpan luka yang sangat dalam. Dia berharap dirinya bisa tenang. Namun, apalagi daya. Rasa sakit hatinya tidak bisa di biarkan begitu saja.


Albert berusaha memegang tangan Vina. Namun, beberapa kali Vina menepis tangan Albert.


"Apa kamu mau menyentuhmu? Tidak, aku tidak akan biarkan." Vina memalingkan pandangan matanya acuh. Dia memegang keningnya yang terasa begitu berat.


"Kamu benar-benar menyebalkan. Aku tidak akan bercerai denganmu. Tenang saja. Tapi, aku tidak bisa melupakan rasa sakit hatiku. Aku akan terus mengingat sampai kapanpun."


Albert melangkahkan kakinya. Berdiri didepan Vina. Tapi, Vina terus membalikkan badannya membelakangi Albert. "Aku memang bisa memaafkan kamu. Tapi, tidak drngan rasa sakit hatiku. Butuh waktu lama untuk sembuh dan percaya lagi padamu."


Albert menghela napasnya. "Oke, gini. Aku memang salah. Aku salah. Tapi, berikan aku kesempatan untuk memperbaiki hubungan ini.


"Selingkuh itu penyakit. Dan, akan terus terulang saat dia merasa bosan."


"Buktikan, jangan banyak bicara." kata Vina.


"Oke, aku akan buktikan padamu. Tapi kita masih tinggal satu rumah, kan?" tanya Albert.


"Iya, tapi tidak satu kamar." Vina membalikkan badannya. Dia menatap kedua nata Albert yang terlihat sayu. Dia seolah merasa sangat bersalah dengan apa yang terjadi. Vina masih ragu. Dia hanya pura-pura atau memang dirinya merasa sangat bersalah.


"Jadi, kamu masih memberi aku kesempatan lagi?" tanya Albert antusias.


Vina hanya diam dan menganggukan kepalanya. "Iya, aku memberimu kesempatan. Tapi, kita tidak bisa seperti dulu lagi." kata Vina.


"Tidak, masalah. Aku akan buktikan padamu." kata Albert bersemangat.


"Terserah kamu,"


**

__ADS_1


Sampai di rumah yang sudah di siapkan oleh Vina. Dia menginap di rumahnya sendiri. Rumah yang jadi impiannya saat ini.


Vina melangkahkan kakinya masuk ke dalam meninggalkan Albert yang masih di dalam taksi.


"Vina, aku Boleh tinggal denganmu?" tanya Albert.


menganggu


Vina mengerutkan keningnya. Dia menghentikan langkahnya. "Terserah! Tapi, ingat jangan berbuat ulah disini," kata Vina mengingatkan.


Albert menganggukan kepalanya. "Bagaimana?" tanya Vina.


"Iya, tenang saja. Aku tidak akan berbuat ulah. Lagian ini rumahmu."


"Siap!" Vina melajutkan langkahnya lagi. Tangan kanan mencengkeram gagang koper. Menariknya masuk ke dalam rumah baru.


**


"Vina, boleh aku bantu kamu?" Albert segera berlari mengikuti langkah Vina.


"Memangnya kamu mau bantu apa?" Vina meletakkan nomernya tepat di depan pintu kamar.


"Sudah terlambat. Ini kamarku. Dan, di ujung sana. Kamar kamu. Jangan masuk kamarku." Vina mengambil sebuah kunci dalam tas hitam yang menggantung di pundaknya. Setelah menemukan kunci kamar. Vina memberikan pada Albert.


"Baiklah!" Albert mengambil kuncinya.


"Pergilah ke kamarmu."


"Besok, kamu ikut aku. Mau tidak?" tanya Albert.


"Gak ada waktu!" Vina memalingkan pandangan matanya. Dia berusaha terus menghindari tatapan mata Albert. Tak mau lagi terbawa perasaan pada Albert.


"Ayo lah, aku janji tidak akan mengecewakan lagi."


Vina mengerutkan bibirnya. "Jangan mengucapkan janji Jika kamu masih saja tidak bisa mendekatinya."


"Sudah beberapa kali aku memberinya kesempatan. Semuanya juga sama saja."


"Enggak! Aku mau ajak kamu liburan." kata Albert.


"Besok aku kerja," kata Vina.


Albert mengerutkan keningnya. "Kerja? Memangnya kamu kerja dimana?"

__ADS_1


"Apa aku harus memberi tahumu?" tanya Vina.


"Lebih baik kamu juga fokus apa kerjaan kamu. Jangan terlalu banyak liburan." Vina masuk ke dalam kamarnya. Menarik koper miliknya masuk. Lalu menutup pintunya sangat rapat.


"Eh.. Vina, bentar! Apa kamu tidak masak untuk makan malam?" tanya Albert.


"Nggak!"


"Kamu gak lapar?"


"Nggak!"


"Hmm.. Ya, sudah. Gak apa-apa." Albert menghela napasnya. Terbesit dalam benaknya untuk memberikan kejutan pada Vina. Dia tersenyum tipis. Lalu membalikkan badannya. Melangkahkan kakinya pergi ke kamar yang akan jadi tempat tidurnya. Albert segera membereskan semua bajunya.


Sementara Vina. Dia terdiam di ranjang putih miliknya. Menutup wajahnya dengan kedua tangannya. Vina menghela napasnya beberapa kali.


"Apa yang aku lakukan tadi? Apa aku sudha benar memberikan maaf dan kesempatan lagi padanya."


"Tapi, dia sudha berselingkuh dengan Aira. Bahkan hampir saja berhubungan badan. Wanita itu juga pasti akan terus menggodanya." gerutu Vina.


"Sepertinya aku juga harus bertindak. Jadi Istri sah Albert tidak boleh lemah. Aku akan balas dendam. Dan, akan terus mempertahankan suamiku." Vina menarik sudut bibirnya. Dengan senyum penuh rencana liciknya.


"Aira, aku tidak akan tinggal diam!"


Ponsel Vina berdering begitu keras. Vina bergegas mengambil tas miliknya teoat di samping dia duduk. Vina membuka tas miliknya. Mengeluarkan semua isi dalam tas di atas ranjang. Ponsel itu terjatuh terkahir.


Vina mengambil ponselnya. kedua mata itu menyipit saat melihat kontak nama yang tertera di layar ponselnya yang menyala.


"Ziro? Kenapa dia menghubungiku?" gerutu Vina. Dia berpikir sejenak.Abatra mau angkat telfon darinya atau tidak.


Setelah berpikir beberapa menit. Dan, Diri terus menghubunginya beberapa kali. Vina terpaksa menerima telfon dari Ziro.


"Ada apa?" tanya Vina memulai pembicaraan lebih dulu.


"Kamu mau bekerja di tempatku besok?" tanya Ziro. Vina spontan terdiam. Dia baru saja mau cari pekerjaan baru. Kebetulan sekali Ziro menginginkannya untuk bekerja di kantornya.


"Memangnya kamu membutuhkan karyawan?" tanya Vin.


"Besok pagi, jam 8 jamu ke ruanganku. Aku jelaskan pekerjaanmu," ucap Ziro.


Vina mengerutkan keningnya sangat dalam. Hingga terlihat harus halus di keningnya. " Bentar! Bagaimana bisa kamu tahu jika aku sedang mencari pekerjaan baru?" tanya Ziro.


"Dan, apa kamu tahu aku sekarang dimana? Kenapa kamu menawarkan pekerjaan padaku. Kamu jangan bercanda. Bukanya kamu berada dj Amerika sekarang? Apa kamu masih berada di London?"

__ADS_1


__ADS_2