
Tak berselang lama, Khai pun menelpon dirinya. Dengan senang hati, dia mengangkat teleponnya dengan harapan Khai akan meminta maaf.
"Halo, Say…."
[Hapus postingan kamu!]
"Kenapa, Sayang? Kamu takut? Lucu, ya, dulu kamu selalu menolak panggilan dariku. Tapi sekarang kamu yang nelepon aku."
[Kamu udah gila, ya? Mau aku tuntut biar kariermu hancur? Gara-gara kamu Ayu diserang dan nggak mau keluar rumah!]
"Sayang, kamu kok tega banget, sih ngomong kayak gitu? Kan bagus kalau dia nggak mau keluar. Artinya kita punya banyak waktu berdua."
[Nggak usah mimpi, kamu. Nyesel banget aku pernah kenal kamu. Gimana bisa dulu aku jatuh cinta sama kamu.]
"Gimana, ya, Sayang, apa mau kita ulangi lagi yang dulu?"
[Diem kamu! Awas aja kamu, ya, aku nggak bakal tinggal diam!]
__ADS_1
Khai pun langsung mematikan ponselnya. Banyak sekali notifikasi pesan masuk yang mulai mengganggu aktivitasnya. Ada yang bertanya, menghujat, dan menawarkan obat mata minus.
Tesa meletakkan ponselnya dan menghembuskan nafas panjang. Dia duduk di tepi ranjang kamarnya dan memegangi pelipisnya.
Namun, tiba-tiba dari arah belakang ada tangan yang langsung memeluk pinggangnya.
"Hai, Sayang, sedang apa?" Seorang pria yang baru saja bangun tidur langsung menyapanya.
"Nggak lagi ngapa-ngapain. Ini udah siang kamu baru bangun?" tanya Tesa dengan tatapan kesalnya.
"Kamu sebaiknya hindarin deh kebiasaan buruk itu. Cari kerja, kek, aku capek lho terus-terusan jadi tulang punggung, padahal kita belum nikah. Tapi rumah, kebutuhan, semuanya aku yang nanggung. Sedangkan kamu malah enak-enakan main game dan nongkrong sama temen-temen kamu." Dengan wajah kesal Tesa pun mulai mengomel panjang lebar.
"Kamu berisik banget, sih, ya nanti ajalah, gampang mah kalau cari kerja. Kita masih muda, sebaiknya senang-senang aja dulu." Pria itu kembali melingkarkan tangannya ke pinggan Tesa.
"Tapi aku nggak mau hidup kayak gini. Harusnya aku bisa menikmati hasil kerjaku sendiri, bukan malah ngehidupin kamu. Charly aja dulu nggak gini. Apalagi Khai, malah dia yang sering ngasih aku uang!"
"Oh, jadi kamu mau banding-bandingin aku sama mantan kamu?"
__ADS_1
"Kalau iya, kenapa? Kamu itu cowok mokondo, tau, nggak? Cuma modal itumu doang, nggak punya uang, cuma tampang doang yang nolong." Kini ucapan Tesa semakin menjadi-jadi. Membuat pria yang bernama Roy itu naik pitam.
"Udah berani kamu sama aku? Mau mati, kamu!" Roy mencengkram tangan Tesa dan menatapnya tajam.
"Lepaskan atau aku panggil satpam!"
"Awas aja kamu, Tesa, setelah ini aku akan membuatmu menyesal!" Roy pun pergi dari rumah itu dengan penuh amarah.
Sedangkan Tesa tidak begitu memperdulikannya karena saat ini dia sedang menikmati banyak sekali netizen yang sedang menghujat Ayu dan Khai.
Ada yang bilang, mereka tidak tahu diri, tidak tahu malu, tampang polos tapi hari ibl*s, dan masih banyak lagi cacian serta makian untuk mereka.
"Hahaha, siapa suruh kamu nggak mau balik sama aku. Sekarang rasain, kalian menuai apa yang kalian buat sama aku!" Menatap tajam ke sembarang arah sambil tersenyum tipis.
Sementara itu, Roy yang sudah pergi dari kediaman Tesa langsung membuka laptopnya dan mencari beberapa video yang akan membuat jagat dunia maya kembali heboh.
Dia sudah melihat postingan Tesa, kini dia tahu kenapa Tesa bersikap seperti tadi. Rupanya dia masih mencintai Khai dan ingin berbalikan dengannya meski harus menempuh cara yang licik.
__ADS_1