Cintai Aku, Suamiku

Cintai Aku, Suamiku
Kesempatan


__ADS_3

Vina sudah berpikir sangat matang. Akhirnya dia memutuskan untuk kembali pada Albert. Dia memberi kesempatan albert lagi. Meskipun sangat berat. Namun, kali ini dirinya ingin memberi pelajaran pada Albert lebih dulu. Vina memutuskan untuk pergi ke kota baru. Untuk menentukan dirinya lagi. Tanpa memikirkan laki-laki. Dia ingin bahagia dengan caranya sendiri.


**


Selama perjalanan di udara Albert tidak berhenti terus memandang wajah cantik Vina di sampingnya. Seakan ke dua matanya tidak mau lepas dari wajah mungil canyi, dengan bibir tipis, di hiasi bulu mata lentik dan hidung mungilnya. Membuat keindahan itu lengkap di wajahnya. Ia bahkan, terus membelai lembut rambut panjang sepunggung milik Vina, yang terurai panjang di punggungnya.


Maaf, Vin. Mungkin aku melakukan ini.yang terbaik. Hanya karena aku tak mau merasa bersalah dengan apa yang sudah aku lakukan padamu. Kamu wanita baik-baik, dan aku yang merusaknya. Albert bergumam pelan dalam hatinya.


Entah apa bisa aku bersama dengan kamu selamanya. Semoga semua ada keajaiban dengan hatiku. Tetapi sekarang aku belum bisa setiap pada satu wanita. Semoga kelak kamu bisa memahaminya.


Sentuhan lembut tangan albert membuat Vina tertidur, membawa Albert dalam mimpinya. Wanita itu tak mau melepaskan tangan kiri Albert. Dan terus memeluknya, seakan memeluk boneka kesayangannya.


“Emmm.. Albert... Jangan pergi.” Ngigau Vina, meraih tangan Albert di kepalanya, lalu memeluknya sangat erat. Dia memeluk ke dua tangan Albert membuat laki-laki itu kerasa sangat risih


“Vina, Vina. Kamu masih saja bisa nginggau padahal kamu tidur pulas.” Ucap Albert, tersenyum mengusap pipi gadis di depanya itu, mengecup lembut kening Vina.


Semoga kelak aku bisa suka dengan kamu. Dan bisa menjaga kamu sesuai keinginan kamu.


"Vina, apa.kamu memang benar suka denganku. Dan kenapa kamu menyukai aku laki-laki **** boy sepertiku. Aku playboy. Tak punya pendirian untuk satu wanita. Dan sekali aku jatuh cinta. ternyata pada orang yang salah. Aku suka dengan orang yang sudah punya calon suami." gumam Albert. Vina yang masih tertidur pulas, dia memiringkan tubuhnya berlawanan arah dnegan wajah Albert. Ke dua tanganya tak mau lepas dari tangan Albert.


``````


Hampir 19 jam pesawat mendarat dengan sempurna di bandara Paris, ‘Charles de Gaulle’. Bandara internasional di sana. Albert tersenyum tipis, melihat Vina yang masih tertidur. Bahkan di pesawat Vina lebih banyak tidur dari pada bangun. Dia bangun saat waktunya makan, atau sedang ingin ke kamar mandi.


Melihat Vina sudah hampir membuka matanya, seketika pikirannya mulai berkerja untuk mengetai dirinya. Albert pura-pura tertidur di depannya.

__ADS_1


Vina yang sudah bangun lebih dulu. Ia melirik sekilas ke arah Albert, yang begitu santainya masih tidur pulas di tempatnya.


“Albert bangun, kita sudah sampai. Apa kamu gak mau turun,” Vina, menggoyang-goyangkan tubuh Albert, seakan tubuhnya lunglai tanpa tulang. Albert masih saja tetap diam, dan pastinya tidur masih nyenyak dalam pikiran Vina.


“Turun sekarang gak,” bentak Vina, semakin meninggikan suaranya, dengan tangan mencubit sekuatnya hidung mancung milik Albert.


Albert seketika terlonjak dari kursinya, “iya. Ada apa, apa ada penjahat, mana penjahatnya?”


Vian menepuk dahinya, sambil menggelengkan kepalanya pelan. “Kita


sudah sampai Albert... Bukan ada penjahat, kamu mengerti!!” Vina mencoba memelankan suaranya, mengartur rasa kesal pada dirinya.


Albert menghela napasnya lemas, ia meraih tangan Vina, menariknya keluar dari tempat ia berdiri.


“Albert berhenti!! Kamu mau bawa aku kemana?” tanya Vina kesal. Melebarkan kelopak matanya.


Vina hanya diam, menatap ke dua mata Abert di depannya.


“Ya, mau tapi aku mau jalan sendiri.” Ucap Vina, mendorong bahu Albert agar menyingkir darinya.


“Eh, kamu mau kemana?” Albert memegang lengan Vina, mendekatkan


tubuhnya. Dan berbisik padanya. “Jangan pergi dariku, aku sudah bilang padamu. Kamu gak boleh pergi dariku, harus selalu ada di sisiku.”


Vina memutar matanya malas, ia berdengus kesal, menggerakkan tubuhnya, menoleh ke belakang. Dengan tatapan dari sudut matanya yang tajam.

__ADS_1


Vina, menjulurkan tekunjuk tangannya ke wajah Albert. Dengan bibir menguntup kesal. “Apa kamu bilang. Aku gak bilang kamu boleh selalu di sisiku. Aku mau pulang dan temui ke dua orang tua ku sekarang, jadi lebih baik kamu juga pulang sekarang. Dan ingat kesepakatan kita tadi hanya teman, Albert.” Jawab Vina, menarik salah satu alisnya, dan sudut bibir kiri sedikit tertarik sinis.


Ia berusaha melepaskan cengkraman Albert yang semakin erat di lengannya, membuat ia meringis menahan sakit. “Lepaskan tangan kamu. Sakit tahu!!”  rengek Vina.


“Aku gak perduli, jika kamu mau tetap bersamaku. Maka aku akan lepaskan tangan kamu,” ucap Albert dengan ke dua alis tertarik ke atas bersamaan.


Vina berdecak kesal, ia memandang Albert lekat, bahkan ke dua mata mereka saling tertuju. Tiba-tiba terfikir dalam benaknya, sebuah ide gila, yang tiba-tiba muncul di otaknya. Vina dengan yakin akan melakukannya, untuk mengalihkan pikiran Albert. Ya, meskipun dia tahu ini sanat gila baginya.


Tuhan.. semoga saja dengan gini dia mau melepaskanku. Dan aku bisa lari darinya. Semoga saja berhasil.


Vina menarik napasnya dalam-dalam, memejamkan matanya beberapa detik. Mencoba mengeluarkan keberaniannya. Meletakkan telapak tangannya di belakang telinga Albert.


Vina menjijitkan ke dua kakinya, menarik kepala pria mendekat ke arahnya, mengecup lembut bibir Albert beberapa detik. Lalu melepaskan kembali.


Sebuah kecupan tak terduga membuat Albert seketika melepaskan tangan Vina, perlahan. Detak jantunganya berdegup lembih cepat dari biasanya, dengan wajah nampak sangat kosong memegang bibirnya.


Bagi Albert ini pertama kali ia mau saja di kecup wanita lebih dulu. Ya, meskipun dia terkenal sangat paly boy dulu, tapi setidaknya dia masih punya harga diri. Dan pilih-pilih wanita, yang akan ia kencani.


Ohh., Tuhan.. aku melakukan hal gila, baru pertama kali dalam hidup aku, mecium laki-laki lebih dulu. Dan sepertinya Albert terbuai dalam suasana itu. Lebih baik sekarang aku harus pergi, sebelum dia sadar.


Vina membalikkan badanya dan segera berlari. Namun tak berapa lama Albert sadar dari lamunanya dan mencegah Vina keluar dari pitu keluar. Dengan berdiri tegap di depannya. Dengan kedua tangan terlentang, mencegahnya pergi.


“Mnggir!!” ucap Vina, berjalan ke kiri, ke kanan selalu di ikuti oleh Alert. Membuat ia semakin jengkel, menggeram kesal.


“Kamu mau pergi kemana?” ucap Albert, dengan senyum menyungging di bibirnya. Dan ke dua tangan di lipat ke atas dadanya.

__ADS_1


Vina berdecak kesal. “Albert, kita baru berteman. Sekarang kamu mau aku bersama kamu.”


“Gak perdulim kita teman lama atau baru saja. Aku mau kamu tinggal dengan aku. Biar aku bisa seallau menjaga kamu 24 jam.”


__ADS_2