Cintai Aku, Suamiku

Cintai Aku, Suamiku
Cemburu


__ADS_3

"Albert!" suara lembut seorang wanita itu seketika mengejutkan Albert. Dia tahu itu suara yang tidak asing baginya. Spontan Albert melepaskan tangan Aira. Dia menggerakkan kepalanya pelan. Melirik ke sumber suara. Kedua kelopak mata Albert melebar sempurna. Dia tidak menyangka melihat Vina di sampingnya.


"Vina," ucap Aira.


"Iya, kenapa?" tanya Vina. Dia menarik sudut bibirnya tipis.


"Vina, kamu sudah ada disini?" tanya Albert.


Vina menarik sudut bibirnya tipis. Hatinya seketika bagaikan ditusuk duri yang begitu tajam. Melihat suaminya memegang tangan wanita lain. Bahkan di sebuah ruangan ruangan yang tidak semestinya untuk orang yang bukan pasangan.


"Apa yang kamu lakukan dengannya?" tanya Vina. Dia menarik kedua alisnya.


"Vina, aku tidak melakukan apapun!" Albert membalikkan badannya. Dia melangkah mendekati Vina. Meriah kedua tangannya. Sembari memasang wajah melepasnya. Albert berusaha menjelaskan pada Vina. "Kamu hanya salah paham, tadi dia mencoba …." Albert menghentikan ucapannya. Dia melirik ke arah Aira. Seketika Dia sadar. Jika mengatakan sebenarnya pada Vina. Aira pasti tidak terima. Dia akan mengatakan hal berbanding balik dengannya. Aira tidak akan tinggal diam.


"Dia kenapa?" tanya Vina. Dia berusaha untuk tetap tenang. Meski sebenarnya dalam hati dia ingin menangis sejadi-jadinya.


"Kenapa kamu diam?" tanya Vina lagi. Kedua mata itu menatap wajah Albert yang kali ini di lipat ke bawah. Tanpa berani menatap kedua matanya.


Aira tersenyum tipis. Dia melangkahkan kakinya perlahan mendekati Albert dan Vina. "Vina, jangan pedulikan pikiranmu. Jangan bilang aku adalah orang ketiga dalam hubungan kalian!" Aira menepuk bahu Vina. "Tapi, aku sebenarnya hanya membicarakan kerja sama dengannya."


"Kerja sama?" tanya Vina memicingkan matanya bingung. "Kerja sama apa? Memangnya ada kerja sama di dalam kamar. Bahkan naik kapal bersama?"


"Aku tadinya bertengkar masalah hal kecil. Dia marah dan membawaku kesini. Aku tidak tahu jika kapal itu akan jalan!"


"Jangan bicara lagi!" geram Albert.


"Sudah! Sudah! Jangan banyak bicara lagi." ucap Vina mengeraskan suaranya.

__ADS_1


"Kalian semua sama saja!" kesal Vina.


"Pergilah kalian! Aku masih di kamar ini." ucap Vina. Dia mendorong tubuh Aira. Hingga terpental keluar dari ruangan itu. Lalu, kedua mata menatap tajam ke arah Albert. Dia menarik tangan Albert keluar dari sana.


Vina menutup pintunya rapat. Menyandarkan punggungnya di balik pintu. Dia tidak mau banyak bicara lagi. Dengan leluasa air mata itu perlahan mulai menetes begitu derasnya. Hatinya terasa sangat sesak. Vina mencengkeram bajunya. Mencoba menarik napasnya dalam-dalam. Hatinya begitu rapuh tidak tahu harus bicara apa lagi. Dia benar-benar sangat sakit hatinya. Dia tidak tahu lagi harus bicara apa. Ingin rasanya segera mengakhiri semuanya. Dia terasa sangat lelah.


Albert menggedor pintu begitu keras. Suara itu tidak sama sekali membuat Vina merasa panik. Dia masih saja tenang. Kedua mata itu menatap sekelilingnya. Vina dengan tubuh yang terasa sangat berat. Dia melangkah mendekati king size di depannya. Dia membaringkan tubuhnya di atas ranjang. Kedua mata menatap ke atas. Air mata itu masih saja terus menetes.


"Vina, keluarlah! Aku akan jelaskan semuanya. Apa yang kamu lihat semuanya salah!" teriak Albert dari dari luar.


"Vina, aku kesini hanya ingin bertemu denganmu. Aku ingin  membawa kamu ke tengah laut. Aku menyiapkan kejutan untuk kamu."


"Apa yang kamu kamu katakan kejutan kamu dan Aira yang berduaan di dalam kamar!" kata Vina mengeraskan suaranya. Suara keras Vina menggema di seluruh penjuru ruangan.


"Vina, keluarlah! Aku akan buktikan jika kamu hanya salah paham!"


**


"Apa yang kamu lakukan? Biarkan saja Vina berkata seperti itu. Dia sudah tidak ingin bertemu denganmu. Dia juga tidak mau lagi percaya denganmu," ucap Aira. Dia memegang pundak Albert. Sembari tersenyum tipis padanya.


"Sialan!" geram Albert. Dia menepis tangan Aira. Kedua matanya menajam. Telunjuk tangan kanan terangkat menunjuk ke arah wajah Aira.


"Lupakan semuanya!" ucap Albert. Kamu pikir aku masih sendiri. Jangan pernah katakan hal itu di depan Aira. Aku tidak pernah sama sekali suka dengannya. Aku tidak pernah sama sekali cinta denganmu. Kamu lupakan aku! Dan, pergilah dari sini. Jangan pernah lagi ganggu hidupku. Aku tidak mau melihat wajah kamu lagi." geram Albert.


Aira berdecak kesal. "Kamu pikir kamu bisa dengan mudah mengatakan aku harus pergi. Tidak akan bisa. Karena aku punya semuanya tentang kita. Termasuk di ponsel kamu aku yakin kamu pasti menyimpan semua kenangan kita!" Aira sedikit meninggikan suaranya. Albert menutup bibir Aira. Menariknya untuk menjauh dari tempat dimana Vina berada.


Aira melepaskan tangan Albert yang menutup bibirnya. Dia menarik sudut bibirnya tipis. Mengulurkan sebuah senyuman licik. "Kamu pikir aku tidak berani berbuat nekat?"

__ADS_1


"Aku tidak akan pernah menyerah untuk mendapatkanmu!" ucap Aira.


"Diamlah!" pekik Albert. "Sekarang, lebih baik pulangkan. Karena tidak akan pernah lagi ada cerita kita lagi," ucap Albert.


Vina terdengar samar mendengar pertengkaran di luar. Meski sedikit jauh. Dia tidak bisa jelas. Dia hanya mendengar suara nada tinggi di luar. Sepertinya ada orang yang bertengkar.


Aira berjalan perlahan ke pinggiran kapal. Dia merentangkan kedua tangannya. Merasakan hembusan angin laut yang menerpa tubuhnya. Perlahan mulai masuk ke dalam pori-pori kulitnya. Dia tersenyum tipis menatap ke arah Albert.


"Aku akan melompat jika kamu tidak mau dekat denganku lagi. Aku akan terus menghantuimu dalam rasa bersalah," ancam Aira.


Albert mengusap wajahnya frustasi. Dia menggeram kesal. "Aira, jangan bodoh!" ucap Albert. Dia memejamkan nada suaranya. Dengan terpaksa. Albert melangkah mendekati Aira.


"Kamu pegang tanganku, aku akan antar kamu kembali!" kata Albert.


"Tidak, perlu lagi!" kata Aira. Aku hanya ingin  pergi dari sini. Aku tidak mau sakit hati lagi. Apalagi kamu hanya berharap dengannya. kamu tidak berfikir bagaimana perasaanku, bagaimana jika aku hamil nantinya? Hubungan kemarin malam, kamu lupa?" tanya Aira.


"Aku tidak mau malu. Aku tidak mau!" Aira semakin mendekatkan tubuhnya me pinggiran kapan.


"Aira, aku mohon jangan bodoh!" ucap Albert.


"Jawab dulu!" kata Aira. Albert yang bimbang. Dia bingung harus menjawab apa. Tapi, ini soal nyawa seseorang. Dia tahu wanita itu snagat nekat. Sudah beberapa kali dia melakukan hal itu untuk mengancamnya. Dia tahu jika dirinya lemah jika wanita mengancamnya seperti itu."


"Baik, aku akan turuti apa yang kamu katakan. Tapi, tolong kamu segera turun!" ucap Albert terpaksa. Dia segera meriah tangan Aira. Namun wanita itu malah terpeleset dan jatuh. Albert yang bingung. Dia segera melompat ke bawah. Menyelamatkan Aira. Sementara sang pengemudi yang tahu akan hal itu. Dia bergegas mengambilkan ban pelampung untuk menyelamatkan mereka berdua.


Vina yang sedari tadi di alarm mendengar Albert yang begitu pabriknya. Dia segera bergegas keluar dari kamarnya. Berlari menghampiri ke sumber suara. Hati Vina bagaikan disambar petir melihat Albert yang berjuang menyelamatkan Aira di laut. Dia bahkan  tidak menggunakan pelindung apapun.


Apa Vina akan tahu semuanya? Atau, dia ikut panik dengan keadaan Aira?

__ADS_1


__ADS_2