
Seketika Vina mengerutkan kenianya dengan mata mengernyit, tapi tak percaya dengan apa yang aia dengarkan. “Apa katamu? Apa kamu sudah gila, kita belum menikah, kamu suda ajak aku di rumah kamu begitu, atau di apartemen kamu.” Ucap Vina. “Dasar gila!!” memutar matanya melas, dengan kepala menggelang pelan.
“Aku sudah gila karena mu,” ucap Albert mengoda, berjalan semakin mendekati Vina.
Vina semakin berdengus kesal. Melangkahkan kakinya perlahan, dengan wajah nampak sangat was-was.
“Permisi, maaf apa kalian tidak mau turun dari sini,” ucap salah satu pramugari membuat Vina dan Albert tersentak. Dan, menatap ke sumber suara kompak.
“Eh,, iya maaf, aku akan pergi sekarang.” Vina mencoba tersenyum ramah, dan segera berlari mendorong tubuh Albert ke belakang. Dan berlari turun dari pesawat itu dengan segera.
Vina menghela napasnya kasar. Seakan dia ingin sekali membuang wajahnya. Dia sangat malu hanya karena perbuatan Albert. Vina menggelengkan kepalanya. Dan, segera beranjak pergi meninggalkan Albert.
"Kamu kemana?" teriak Albert. Vina tidak pedulikan Albert. Vina sengaja mencapakan Albert. Tanpa menoleh sama sekali ke belakang.
Tapi Albert tidak menyerah begitu saja. Dia berlari mengikuti Vina, memegang tangannya. Dan, langsung menggendong tubuhnya drngan kedua tangannya ala bridal style. Berjalan dengan langkah cepat menuju keluar dari bandara. Albert tidak perduli banyak orang yangmenatapnya, baginya itu hal yang bagus untuk emnunjukan pada semua orang tentang wanitanya sekarang.
"Albert, Apa yang kamu lakukan? Jangan kurang ajar padaku, turunkan aku sekarang!" pekik Albert.
“Albert, turun kan aku sekarang” ucap Vina, mencoba memukul-mukul dada bidang Albert.
“Sudah diamlah, lagian aku juga gak akan pegang kamu. Jadi, kamu tenang saja.”
“Alber aku malu, semua orang menatap kita.” Celoteh Vina, yang tak berhenti berbicara dengan memainkan ke dua kakinya, agar Albert segera melepaskannya.
“Aku tidak perduli dengan pandnagan mereka.” Albert semakin mempercepat lakahnya.
“Lebihbaik, kamu sekarang kalungkan tangan kamu di leherku, dan diamlah ujangan banyak bergerak. Atau kamu mau nantikamu jatuh, dan malah lebih malu di lihat orang banyak di sini.”
Vina berdecak kesal. Menarik napasnya, uantuk mencoba bersabat meghadapi Albert. Ia melingkarkan tanganya di leher Albert, dengan wajah ia sandarkan ke dada bidang milik pria yang mengangkatnya itu.“Albert, turunkan aku sekarang.” Ucap Vina, yang tak berhenti merengek pada Albert.
“Tuan, silahkan.” Ucap sopir Albert, yang sebelumnya sudah di hubungi oleh Albert. Jika dia akan pulang ke Paris. Dan dia sudah menunggu hampir satu jam di depan.
“Iya,” Albert segera menjatuhkan Vina di tempat duduk belakang mobilnya.
“Antarkan aku ke apartement” ucap Albert, duduk di samping Vina, menyandarkan punggungnya.
“Bisa pelan gak kalau jurunkan aku, sakit tahu.” Gumam Vina kesal.
“Sudah duduklah dan diam.” Ucap Albert.
“iya, aku akan diam, kalau kamu mau antarkan aku pulang ke rumah aku. Aku gak mau ikut kamu, Albert.” Ucap vina tegas.
__ADS_1
“Aku gak mau!!” jawab Albert datar.
“kalau kamu gak mau diam, aku akan tutup mulumu nanti.”
“Coba saja kalau bisa,”
“kamu nantang aku?”
“Iya,” ucap Vina melebarkan ke dua matanya.
“Kamu itu gak bisa apa satu hari bertemu gak bikin masalah dengan aku. Kadang kamu baik, kadang ngeselin. Dan..”
Benda kenyal tiba-tiba mendarat dengan sempurna di bibir Vina, membuat mulut gadis itu terbungkam, tak bisa melanjutkan ucapannya.
“Emm.. emm..” Vina mencoba melepaskan kecupan Albert yang semakin dalam, ia memukul bahu Albert berkali-kali.
“Albert lepaskan!!” Vina mendorong keras dada Albert, menjauh darinya.
Dengan napas yang masih ngoa-ngosan ia mengusap bibirnya dengan punggung tanganya. Membuang bekas kecupan Albert yang menggila.
“Kenapa kamu mendorongku.”
“Dasar gila!!” ucap Vina kesal, mentap tajam ke ara Albert.
Terpikir ide lagi dalam benak Vina. Sebuah ide yang memuat Albet mungkin bis akesal dengannya.
Tanganya dengan cepat meriah ponsel Albert di tanganya.
“Vina, kembalikan!!” ucap Albert, melirk tajam ke arah Vina.
“Kemablikan gak?’
"Gak mau,” Vina menyembunyikan ponsel A;bert di balik
punggungnya.
“Kalau kamu gak mau aku berbuat macam-mavam denganmu, maka
kembalikan cepat.” Ucap Albert, mengulurkan tanganya ke depan.
Vina hanya tersneyum tipis, menggelengkan kepalanya.
__ADS_1
‘Baiklah, kalau memang gak mau serahkan. Jamgan salahkan aku.” Ucap Albert, mendekatkan tubuhnya, ke tubuh Vina, membuat gadis itu terpojok di pinggir pintu.
“Apa yang akan kamu lakukan?” ucap Vina was-was, dengan hembusan napas semakin cepat.
Albert hanya diam, memegang paha Vina, mengusap rok pendek yang ia kenakan.
“Lepaskan tangan kamu,” ucap Vina, memegang tangan Albert.
“Kalau kamu gak mau kembalikan, maa aku akan lebih dari ini.”
“ini di mobil, apa kamu gak malu.” Ucap Vina, melirik ke arah sopir, yang dari tadi menahan matanya, untuk tidak melihat ke belakang.
“Kembalikan dulu, ponselku.” Ucap Albert.
“Iya, aku kenbalikan. Tapi kamu menjauh dulu dariku.”
Albert tersenyum, ia mendekatkan bibirnya, mengendus di leher Vina, gadis itu geli di buatnya.
“Albert lepaskan,” ucap Vina, mencoba mendorong tubun Albert.
Laki-laki itu hanya diam, mengecup leher Vina.
Gadis itu mencengkram erat tangan Albert, menahan gejolak yang ia rasakan.
“Makasih,” ucap Albert, menyudahi kecupannya hingga meninggalkan bekas merah di leher Vina. Wanita itu mendorong tubuh Albert menjauh darinya. Rahangnya mulai mengeras melihat belas kecupan itu di balik kaca atas mobil. Wajahnya mulai merah padam, mebayangkan matanya melihat Albert di sampingnya tanpa rasa bersalah sama sekali.
“Dasar otak mesum” umpat Vina kesal.
"Gak masalah!" ucap Albert dengan nada sedikit mengejek. Lalu dia meraih ponselnya, dan mulai tak perhatikan Vina di sampingnya. Yang terus berdecak kesal tak hentinya.
Albert nyebelin. Hati ini aku benar-benar kesal denganmu. Sangat kesal, dan sekarang jangan ajak bicara aku." gerutu Vina? menguntupkan bibirnya, memalingkan pandangan matanya acuh, dengan ke dua tangan bersendekap.
"Kenapa kamu membuatku malu di depan semua orang. Kenapa?" ucap kesal Vina.
"Siapa juga yang membuat kamu malu?" tanya Albert. Dia menarik kedua alisnya ke atas bersamaan.
"Memangnya aku salah jika aku mesra denganmu. Ingat, kita itu masih suami istri. Jadi tidak ada salahnya. Jangan paksa aku untuk berbicara dengan nada tinggi," kata Albert.
"Terserah!" Vina memalingkan pandangan matanya acuh. Dan, segera melangkahkan kakinya pergi meninggalkan Albert.
"Vina, kamu mau kemana?" Albert berlari mengejar Vina. Dia memegang lengan tangannya, mencegahnya untuk pergi.
__ADS_1
"Kamu harus ikut aku!" pinta Albert.