
Keesokan harinya.
Vina duduk sendiri di pinggir pantai. Dia Bahkan tidak tahu kemana Albert pergi. Dia hati ini Albert sering sekali menghilang. Dia bahkan tidak bilang mau pergi kemana. Vina juga tidak pedulikan akan hal itu. Dia merasa nyaman duduk di pantai sendiri. Sembari menikmati pemandangan dan udara pantai saat pagi hari.
Vina ingin menenangkan pikirannya dari beberapa masalah yang berada di otaknya. Dia muak dengan kebohongan hang di sembunyikan Albert. Tapi, dia tidak bisa pergi. Dia memilih bertahan meski sakit. Dia juga tidak bisa pergi.
Suara dering ponsel dalam genggaman vina begitu nyaringnya. Membangunkan Vina dari rasa tenang di pikirannya. Vina mengerutkan keningnya dalam-dalam. Dia melirik ponselnya yang masih menyala. Kedua matanya melebar saat melihat nama yang tertera di layar ponselnya.
"Elis?" gerutu Vina.
"Ada apa dengannya? Kenapa dia tiba-tiba menghubungiku?" gerutu Vina. Dia tidak terlalu suka jika Elis menghubunginya. Antara takut dan cemburu jika Elis bertemu dengan suaminya. Mereka terlalu akrab. Bahkan akrabnya lebih dari kakak adik. Hal itu yang membuat Vina kesal meski dalam hati. Dia tidak bisa marah dj depan Albert dan Elis yang sudah di angkat sahabatnya.
Dalam satu tarikan napasnya. Vina memberanikan dirinya untuk mengangkat telfon dari Elis.
"Vina, kamu dimana sekarang." suara itu terdengar sangat lantang dari balik ponselnya. Vina yang semula menggenggam ponselnya, mendekatkan ponsel itu di telinga. Dia seketika menjauhkan ponselnya dari telinganya. Gendang telinganya bisa pecah mendengar suara sahabatnya itu.
"Ada apa?" teriak Vina.
"Kamu dimana, kenapa setelah menikah kamu pergi tanpa kabar. Aku mencarimu di rumah. Tidak ada!" kata sahabatnya sembari menghela napasnya. Napas wanita itu terdengar keras di ponsel Vina.
"Emm ... bentar! Apa kamu langsung pergi bulan madu?" tanya Elis.
Vina tersenyum tipis. Elis adalah adik tiri Albert. Dia begitu syang dengan kakaknya. Bahkan Albert pernah ingin menikah dengannya. Tapi, semuanya batal saat ayahnya lebih dulu menikah dengan mama Elis. Elis belum bisa melupakan semuanya. Namun, dia mencoba untuk ikhlas merelakan kakak turinya menikah dengan wanita lain. Selain dirinya. Dan, kini Elis menjadi sahabat Vina.
Vina sudah tahu semua masa lalu Elis dan Albert. Albert sudah menceritakan semuanya pada Vina. Dan, Vina menerima semuanya. Dia mencintai Albert tulus dari hatinya. Tidak peduli dengan masa lalunya. Baginya kini hanya ada masa depan dirinya dan Albert. Elis juga tahu siapa Albert setelah putus dengannya. Dia jadi laki-laki playboy yang suka bermain wanita.
"Iya, aku sekarang di vila Albert, dengan pantai. Apa kamu mau kesini?" tanya Vina. Tanpa memikirkan resiko apa yang di ambil olehnya jika dia membawa Elis ke Vila bertiga dengan suaminya nanti.
"Vila pinggir pantai, bentar . Daerah mana? Luar negeri atau dalam negeri?"
__ADS_1
"Bangkok," ucap Vina.
"Apa? Sejak kapan kakak punya vila di sana? Kenapa jauh sekali? Kapan kalian berangkat. Kenapa aku tidak tahu jika kakak sudah pesan tiket kesana?" tanya Elis. Dari pada suaranya terlihat begitu panik. Dia ingin sekali pergi ke sana. Namun, tanpa di sangka. Jika kakaknya membawa Vina ke Bangkok. Dia hanya bisa menghela napasnya. Tidak bisa berbuat apa-apa lagi. Selama satu Minggu banyak sekali pekerjaan yang harus di selesaikan olehnya di kantor. Tidak ada waktu untuk pergi meskipun hanya liburan.
"Elis, gimana?" tanya Vina.
Vina yang terlalu baik. Dia begitu mudah percaya dengan Elis. Dia sudah menganggap Elis sebagai Adik atau bahkan sahabatnya sendiri. Meski dirinya tahu masa lalu suaminya dan Elis pernah saling mencintai mereka bahkan sangat dekat. Membuat Vina merasa sangat cemburu.
Saya pernikahannya kemarin. Elis juga terlihat sangat dekat. Bahkan mereka berani melakukan saling bertukar bibir meski itu hanya kan Aku beradik. Tapi itu snagat berlebihan bagi Vina.
Vina hanya bisa kesal dalam hatinya. Dia ingin sekali mendorong Elis saat itu. Tapi, dia tidak bisa melihat acara pernikahannya batal hanya karena suaminya marah dengannya.
Entah cinta Apa yang di rasakan olehnya. Membuat dirinya terasa bodoh di depan laki-laki. Dia terlalu cinta. Tapi Albert menganggap itu hal biasa. Vina bahkan rela membiarkan hatinya sakit saat melihat kedekatan Elis dengan Albert. Mereka berdua sering sekali menyakinkan dirinya jika mereka hanya sebatas kakak adik.
Mereka saling cinta. Mereka berlindung dari balik kata kakak adik. Mereka menyembunyikan perasaan mereka. Mereka takut jika orang tua mereka tahu.
"Vina, kenapa kamu diam?" tanya Elis. Seketika Vina terbangun dari lamunannya.
"Oh, ya! Boleh aku minta alamat vila tempat kamu dan Albert sekarang?" tanya Elis.
"Untuk apa?" tanya Vina memincingkan salah satu matanya.
"Aku mau kesana. Sekalian liburan, boleh kan?" tanya Elis antusias.
Vina terdiam seketika. Dia bingung harus menjawab apa. Antara boleh dan tidak. Dia tisak bisa membiarkan orang lain menaburkan duri dalam pernikahannya. Dan, bahkan dia yang menginjak duri itu sendiri. Vina terus menahan rasa sakit sendiri. Demi tetap bisa bersama dengan Albert.
"Em, kenapa kamu tidak tanya alamat pada Albert sendiri?" tanya Vina.
"Gak, mau! Albert dari kemarin nomornya tidak aktif. Entah kenapa dia. Dia menjauh dariku," kata Elis. "Kemarin juga. Dia mematikan panggilan telfonnya begitu saja."
__ADS_1
"Telfon?" tanya Vina memastikan.
jadi kemarin mereka telfonan? Kenapa aku tidak tahu. Dan, sekarang kemana dia pergi? Apa jangan-jangan ada wanita lain lagi? Gumam Vina dalam hatinya.
"Apa kamu tidak tahu?" tanya Elis.
"Em, aku tahu. Kemarin kita berdua sangat sibuk. Mungkin Albert tidak sengaja mematikan ponselnya."
"Jadi kalian menikmati liburan bersama. Wah, sebentar lagi aku jadi tante dong." ucap antusias Elis.
Vina hanya terkekeh kecil. "Oh, ya! Aku mau pergi. Nanti kamu segera kirimkan alamatnya. Aku tunggu, bye, kak Vina yang cantik," ucap Elis. Dia memastikan ponselnya begitu saja. Sebelum Vina menjawab ucapan Vina.
"Kebiasaan," gerutu Vina.
"Siapa?" suara berat dan sedikit serak khas seorang laki-laki itu mengejutkan Vina. Dia perlahan mengangkat kepalanya. Vina memincingkan salah satu matanya. Melihat sosok Albert sudah ada di depannya.
"Dari mana?" tanya Vina.
"Tadi siapa yang telfon?" tanya Albert lagi.
"Em, itu.." Vina terdiam, dia takut mengatakan sebenarnya pada Albert. Gimana jika dia ingin bertemu dengan Elis.
"Kenapa kamu diam?"
Vina menarik bibir bawahnya masuk ke dalam sela-sela giginya. Dalam satu tarikan napasnya. Vina memberanikan dirjnya mengatakan sebenarnya. Di tidak bisa berbohong pada Albert. "Em, itu tadi Elis. Dia minta alamat Vila ini?"
"Elis? Kenapa dia minta alamat vila ini?"
"Entahlah, katanya dia ingin pergi liburan kesini?" ucap Vina.
__ADS_1
Albert terdiam seketika. Apa Albert akan memberikan alamatnya? Dan, membiarkan mereka tinggal bertiga dalam Vila?