Cintai Aku, Suamiku

Cintai Aku, Suamiku
Meluapkan kesedihannya


__ADS_3

Manda terlihat bingung dengan pelukan tiba-tiba dari Vina, dengan suara tangisan Vina yang semakin sesegukan, Manda semakin bingung di buatnya. Manda membalas palukannya. Mengusap punggung Vina beberapa kali


“Vin!!” panggil manda, memegang ke dua bahu Vina, melepaskan pelukan Vina padanya.


Manda mantap wajah Vina, yang menunduk ke bawah, an air mata yang terus menetes di matanya.


“Da, Aku akan pergi, dan mungkin aku gak tahu. Kapan kita akan bertemu lagi” ucap Vina, seketika membuat Manda terkejut, tak percaya dengan apa yang di katakan Vina itu.


“Apa kamu berkata jujur, atau hanya kamu mau berbohong padaku Vin.” Ucap Manda yang masih tidak percaya.


“Aku jujur, Da. mungkin ini terakhir aku di sini, besok sore aku akan pergi” ucap Vina.


“Kenapa mendadak sekali?” tanya Manda


“Orang tua aku yang pindah kerja di sana. Mereka mendirikan perusahaan di sana, jadi aku harus pindah iku mereka juga” ucap Vina, yang terus menunduk.


Ia tidak mau cerita, tentang apa sebenarnya yang terjadi pada Manda. Kalau sebenarnya alasannya bukan hanya orang tuanya yang pindah. Tapi ia juga ingin pindah karena Albert.


“Kenapa kamu tidak pulang” tanya Albert, menatap ke arah Vina, yang masih meneguk minumannya.


“Vin, yan kamu katakan itu benar kan? Bukan masalah lain yang selama ini kamu pendam? Atau kamu marah dengan aku” tanya Albert yang terlihat khawatir dengan keadaan Vina selama ini. Ia tahu cinta Vina tidak pernah bisa bersatu dari dulu, namun banyak sekali halangan yang menganggu mereka. Dan sekarang sepertinya ada masalah yang membuat ia benar-benar terpukul. Ia juga takut jika Vina marah dengannya.


Vina mengusap air matanya dengan punggung tanganya, ia mencoba tersenyum di hadapan Manda. Meski dalam.hatinya menyimpan beribu luka yang tak bisa dia ceritakan satu persatu padanya. Termasuk kejadian malam itu bersama dengan Albert. Temannya itu pasti akan marah sekaligus menyalahkan dirinya sendiri. Karena dia yang pertama ajak Vina dengan Albert untuk pergi, dan dia mengingkharinya.


“Gak, ada da. Hanya orang tua aku yang ajak aku mendadak pindah. Jadi aku mau gak mau, juga harus ikut pindah mereka” ucap Vina, mencoba beralasan.


Manda yang tidak tau alasan sebenarnya, ia hanya menarik napasnya dalam-dalam, mencoba menenangkan perasaan Vina saat ini.


“Ya, sudah kalau gak ada masalah lain, aku itu khawatir dengan kamu. Kalu kamu ada masalah, bilang sama aku ya. Aku gak mau kamu menyimpan perasan kesal kamu dengan orang lain kamu penda sendiri.” Ucap Manda mengusap lembut rambut Vina.


“Udah kamu jangan Khawatir ya, aku gak apa-apa kok.” Ucap Vina, mencoba terpaksa tersenyum di hadapan manda.


“Oya, soal kemarin aku minta maaf ya, Vin. Aku gak tahu kalau aku tiba-tiba melahirkan. Padahal aku baru ajak makan kue buatan suami aku. Eh langsung lahiran” ucap Manda, “Padahal kemarin, aku juga ajak semuanya tapi


gak jadi berangkat.” Lanjutnya.


Maaf Vin, aku memang sengaja membuat kamu dekat dengan Albert lagi. Karena aku gak mau kamu sakit hati mengharapkan Vino. Yang akan segera manikah dengan Vina. Aku tidak mau melihat sahabat aku sedih gara-gara cinta. Aku mau kamu bahagia, Vin. pikir Manda, yang masih terus mengusap rambut Vina lembaut dengan senyum tipis memandang wajah cantik Vina.


“Gak, apa-apa, Da. Kunjuga kemarin lagi gak ada kejaan ya sekalian saja liburan, di sana. Cari tempat hiburan yang bikin pikiran tenang.” ucap Vina.


“Terus gimana hubungan kamu dengan Albert, apa kamu di sana bertemu dengannya? Terus apa dia masih marah-marah lagi saat bertemu dengan kamu? Atau kalian masih sama ya, seperti tikus dan kucing” tanya Manda tak ada

__ADS_1


jeda sama sekali. Vina mendengar nama Albert seakan sudah tidak mau mendengarnya, ia benar-benar sudah sangat marah dengan apa yang suda di lakukan Albert padanya. Tapi Vina tidak mau menyalahkan Manda, lagian Manda gak salah. Yang salah adalah Albert. Dia yang memulai semuanya, dia yang membuat aku jadi semakin benci dengannya, dia juga yang mempermainkan persaanku. Pikir Vina.


“Vin, kenapa kamu diam?” apa dia marah-marah dengn kamu?” tanya Manda yang mulai khawatir lagi dengan Vina. “kalau iya, dia cari gara-gara lagi dengan kamu. Aku akan memarahi dia, besok aku akan menyuruh dia ke sini, dan memarahi dia habis-habisan. Aku gak mau jika teman aku ini di sakiti lagi” lanjut Manda


“udah da, aku gak apa-apa. Aku kemarin bertemu dengan albert, baik-aik saja gak ada pertengkaran di antara kita. Hanya saling berbimcang, memandang pantai, dan..” ucapan Bina terhenti seketika, saat mengingat itu, malam itu, malam yang membuat ia hilang semuanya.


“Dan, apa?” tanya Manda semakin penasaran”


“Iya, da, Aku akan selalu ingat apa kata kamu.


“udah gak usah Di bahas da. Oya Vino katanya ada di rumah ini ya. Sekarang di mana dia?” tanya Vina, yang memang dari tadi tidak melihat Vino sama sekali.


“Vino dan Kesha pergi, sama Duke dan Lia entah kemana perginya mereka. Aku juga gak tahu, sudah hampir 3 jam mereka pergi. Tapi belum juga pulang”


“Oo.. mereka sekarang sudah baikan ya. Kapan rencana mereka akan menikah?” tanya Vina.


“Aku gak tahu, semua tergantung mereka. Mereka yang jalani cinta mereka. Dan Lagian baru kemarin dia balikan dengan Kesha.” Ucap Manda, melirik ke arah Vina di sampingnya yang hanya diam menunduk. “Apa kamu sakithati gara-gara Vino?” tanya Manda.


“enggak, aku hanya bangga saja, mereka sudah bisa bersatu sekarang. Dan aku harap mereka cepat menikah, agar tidak yang mengganggu hubungan mereka lagi”


“Aku harap juga begitu, tapi aku juga gak tahu. Aton , suami ku juga sudah siapkan semuanya buat pernikahan mereka.”


“Gak, apa-apa” ucap Manda mengusap punggung Vina.


“Tapi, kamu benar gak apa-apa kan mendengar kabar itu?” tanya Manda lagi.


“Iya, aku gak apa-apa” ucap Vina tegas. “Udah, kamu gak usah pikirin aku, Da. Yang penting aku mendengar semua orang yang pernah ada dalam hatiku bahagia. Aku juga sudah bahagia” ucap Vina. Membuat Manda, langsung memeluknya erat.


“Kamu sabar ya, Vin. Aku yakin jika suatu sata ada laki-laki yang akan datang memohon cinta padamu’” ucap Manda.


“Iya, Da. Semoga saja begitu. Aku berharap begitu” gumam Vina, tersenyum tipis, dan. Tes...


Air mata tiba-tiba menetes lagi di mataya. Dengan sigap Vina mengusap air matanya sebelum Manda tah, dan malah membuat ia kepikiran natinya.


Vina melepaskan pelukannya mentap ke arah Manda. “Oya, Da. tapi sekarang aku mau bilang sesuatu padamu’ Ucap Vina.


“Mau bilang apa, katakan saja Vin” ucap Manda yang terlihat panik.


Vina tersenyum tipis. “ jika aku ingin melihat anak kamu” ucap Vina, membuat Manda menarik napasnya kesal. Ia mengira Vina akan berbicara sesuatu yang penting.


“kenapa kamu tegang gitu, lagian sekali-sekali hiburan, Da” gumam Vina.

__ADS_1


“Aku kira kamu bicara serius,” ucap Manda.


“udah, mana anak kamu. Aku mau lihat, ponakan aku yang tampan pastinya” ucap Vina antusias.


Dia di kamar sekarang dengan papanya. Kalau kamu mau melihat sekarang kita ke atas.”ucap Manda,bergegas berdiri.


“Baiklah” Vina beranjak berdiiri mengikuti langkah kaki Manda menuju ke kamarnya. Manda perlahan membuka pintu kamarnya, melihat Aron terbaring lagi di rajangnya.


“Haahh.. suamiaku memang seperti itu, Vin. Aku bangunkan dia dulu” ucap Manda, yang beranjak merangkak ke ranjangnya.


“kamu lihat anak aku ada di boks” ucap Manda.


“Mereka kembar?” tanya Vina.


“Iya,”


“Waahh... lucu ya, kalau punya anak kembar gini” ucap Vina, mengusap ke dua pipi anaknya itu.


“Tapi, mereka tidak kembar identik. Hanya saja lahirnya bersamaan, hanya selang beberapa menit saja” ucap Manda.


“Tapi, mereka semua tampan dan lucu, Da.” Ucap Vina.


Manda segera membangunkan Aron lebih dulu, ia tidak mau jika Aron terus saja tidur di saat ada tamu. “Syang, bangun!!” ucap manda, menggoyang-goyangkan tubuh Aron.


‘Syang, cepat bangun” ucap Manda lagi.


"Apa, syang. Aku masih ngantuk" gumam Aron.


"Ada Vina, syang. sekarang kamu cepat bangun" ucap Manda.


"hmmmm ... masih males syang"


"Bangun gak?" tanya Manda semakin meninggikan suara.


"Iya, iya aku bangun" gumam Aron, beranjak duduk menatap ke arah Manda sejenak. Mengusap ujung kepala Manda. "Kamu itu ngeselin tai aku cinta" gumam Aron.


ia melirik ke arah anaknya. "Eh.. Sha.. Sudah lama?" tanya Aron.


"Baru saja" ucap Vina pada Aron.


"Ya, sudah! Kalian di sini saja ya. Aku mau mandi di kamar Duke." ucap Aron bergegas pergi dari kamar Manda.

__ADS_1


__ADS_2