Cintai Aku, Suamiku

Cintai Aku, Suamiku
Bertemu sahabat


__ADS_3

“Kamu turun dulu.. Jangan bertindak bodoh Vin, kamu turun ya sekarang. Kita akan bicarakan baik-baik” ucap Albert, mengulurkan tanga ke atas lagi, berharap Vina akan menerima uluran tanganya.


Vina mengerutkan keningnya, ia tidak tahu apa maksud Albert.


“Vina, turunlah... Jangan mencoba bunuh diri. Aku gak mau jika kamu melakukan hal bodoh itu. Kasihan keluarga kamu yang dari tadi juga mencari kamu”


Vina menatap semakin aneh, dan tertawa. “ Apa kamu pikir aku akan bunuh diri.” Ucap Vina.


Albert terdiam, ia mengerutkan keningnya. Menarik kembali tanganya yang mengulur ke atas.


Vina mencoba untuk duduk. Sreetttt...


Aaaa..


Vina terpeleset hampir jatuh ke laut. Dengan sigap tangan Albert memegang tangan Vina. Mencoba mengangkat tubuh Vina yang menggantung di bawah jembatan itu.


“ Vina peganglah erat tanganku” ucap Albert, mencoba menarik tangan Vina ke tas secara perlahan, dan. Bukkk..


Tubuh Vina jatuh tepat di atas tubuh Albert, dalam dekapan erat tangan Albert. Tangan Albert mendarat di pinggang Vina. Ke dua mata mereka saling tertuju. Dengan detak jantung saling berpacu cepat.


“Maaf!” ucap Albert, yang tidak melepaskan tanganya, di atas pungung Vina.


“Kamu jangan berdiri lagi di situ bahaya” ucap Albert lirih, dengan tangan kanan, mengusap lembut pipi Vina.


“Emangnya kenapa, dan kenapa juga kamu menolongku. Bukanya kamu sangat benci dnegan aku” ucap Vina beranjak berdiri, duduk di mobil depannya.


“Aku menolong kamu, karena kau gak mungkin tega melihat orang mau jatuh ke bawah. Entar di kira aku yang membuat kamu celaka” ucap Albert, duduk di samping Vina.


“Ini minuman, minumlah” ucap Vina, mengulurkan sisa minuman yang ia beli tadi di supermarket.


Albert menerima, lalu membuka botol minuman itu, meneguknya perlahan, kemudian meletakkan minuamn di samping duduknya.


***


Tokk... tokk.. tokk..

__ADS_1


“Permini tuan, maaf mengganggu” ucap pembantu Manda.


Manda adalah orang yang sangat peduli dengan Vina. Dia sahabat baiknya. Saat Vina ada masalah apapun. Dia selalu meminta bantuan Manda untuk menyelesaikan setiap masalahnya. Tapi, sayang sekali kali ini Vina tidak menurut pada Manda. Dia tahu Albert sperir apa. Tapi, karena Vina sudah terlanjur ingin menikah secepatnya. Dia menerima ajakan menikah Albert begitu saja. Tanpa mengenal jauh tentang Albert. Bagaiamana sifat dia. Dia hanya tahu keluarga Albert. Adik yang selalu dekat dengan Albert. Bahkan kedekatan Albert dan adik tirinya seperti kekasihnya sendiri. Mereka sangat akrab. Membuat Vina merasa sangat iri dengan kedekatan mereka.


Manda yang sedang bermanja dia dengan Aron suaminya. Seketika Aron mengakhiri permainan tangan nakalnya. Ia beranjak duduk, merapikan kembali baju Manda, dan mengusap lembut rambut Manda yang terlihat berantakan.


Manda sudah lama menikah dengan Aron. Sudah di karyanya 2 orang anak. Wanita dan laki-laki. Mereka sangat menggemaskan sekali. Pernikahan mereka berbanding balik dari Vina. Meskipun awalnya juga pernikahan mereka penuh dengan cobaan.


Manda duduk mentap wajah Aron di depannya, yang terlihat bergitu perhatiannya dengan dirinya. Wanita itu, memegang ke dua pipi Aron, lalu mengecup bibir Aron beberapa detik.


“Suami ku yang paling aku cinta, bahkan sangat aku cinta. Berkat kamu kita sudah punya tiga anak. Yang sudah aku lahirkan normal” ucap Manda, mengusap ujung kepala Aron, agak mengaak-acak rambutnya, membuat rambut Aron yang semula sudah berantakan jadi tabah berantakkan.


“Iya, sekarang tanya siapa yang datang” ucap Aron pada Manda


“Ada apa, bi?" tanya Manda.


“Non, Vina datang non, dia sudah menunggu di ruang tamu” ucap pembantu Manda.


Manda mengerutkan keningnya sangat dalam. Dia menatap ke arah suaminya. "Vina datang?" tanya Manda pada suaminya.


"Tidak, apa jangan-jangan dia ada masalah dengan suaminya. Jadi Lebih baik kita lihat saja dulu. Sapa tahu emang dia ada masalah." kata Manda. Dia segera beranjak dari ranjangnya.


“Baik bi, aku akan segera keluar,” ucap Manda


“Syang ada Vina. Sekarang kita keluar dulu ya. Atau aku saja yang keluar menemuinya.” Ucap Manda.


“Baiklah, tapi ada satu syarat kamu pergi dari sini” ucap


Aron menggoda, denganjemari tangan mengusap pipi Manda.


“Apa syang, cepetan. Nanti Vina keburu lama menungu ku” ucap


Manda.


“Kecup aku. Di bibir, lima menit saja, setelah itu pergi.

__ADS_1


Dari pada taman kamu menunggu lama” ucap Aron, yang memang belum puas dengan kecupanya di ranjang tadi.


“Baiklah, tapi hanya bentar ya. Lima menit gak lebih” ucap Manda, yang langsung menarik kepala Aton mendekat ke arahya, ia mulai mengecup bibir Aron, tanpa balasan dari Aron. Aron memang membiarkan Manda yang memainkan


bibrinya sendiri. Ia ingin melihat sebarapa mahirnya dia sekarang.


Manda melepaskan kecupannya, dan megusap bibirmya dengan punggung tanganya. Ternyata kamu mahir juga syang" ucap Aron.


“Bukannya kamu yang ajari aku. Udah sekarang aku mau pergi. Vina sudah lama menunggu aku di bawah. Nanti kamu bisa lanjut lagi,” gumam Manda, bergegas pergi  meniggalkan ke dua anaknya dan Aron.


"Jangan lupa, kamu jaga anak-anak dengan baik. Jangan sampai dia nangis. Ingat, buatkan susu juga." kata Manda pada Aron.


"Iya, sayang!"


"Oke, aku pergi!" Manda segera keluar dari kamarnya. Berjalan menuruni anak tangga. Dan, bersiap untuk turun menemui temannya Vina.


“Vin, kamu sudah menunggu lama, ya.” Manda berjalan mendekati Vina yang duduk tanpa eskpresi di wajahnya. Manda mengerutkan keningnya. Saat dia melihat wajah Vina yang terus tertunduk. Seolah benar apa yang di pikirkan. Jika Vina pasti ada masalah


“Gak, kok Da” ucap Vina, datar.


"Sudah terlihat jelas dari wajahnya. Jika kamu pasti ada masalah!" Kata Manda. Vina mengangkat kepalanya. Dia menciba tersenyum palsu di depan Manda.


"Memangnya wajahku terlihat begitu menyedihkan. Sampai kamu terus bilang jika aku ada masalah," kata Vina. Mengedipkan kedua matanya beberapa kali.


Manda duduk di samping Vina, memegang pundak Vina. “Apa kamu ada masalah?” tanya Manda.


"Tidak, Manda." jawab Vina menekankan suaranya.


"Vina. Aku sudah mengenal kamu snagat lama. Aku tahu bagaimana. Jika kamu kesal, kamu ada masalah. Ekspresi wajah kamu juga beda-beda. Aku selalu mengingat hal itu." kata Manda. Dia mengusap bahu Vina.


"Jujur saja padaku. Aku tidak mau jika kamu merahasiakan semuanya sendiri. Meskipun akh tidak bisa memberi solusi. Kamu bisa melupakan kekesalanmu padaku." lanjutnya.


Vina menghela napasnya. Hatinya mulai terketuk dengan ucapan Manda. Tapi Vina hanya diam, ia memeluk sahabatnya itu sangat erat, dan tangisan seakan pecah membasahi pipinya. Dia tidak bisa menyimpan lagi rasa sakit hatinya. Kekecewaan yang di hadapi olehnya.


Entah apa bisa aku bahagia? Aku tidak tahu, tapi hatiku snagat terluka, apa aku bisa percaya pada diriku sendiri sekarang. Aku sudah kehilangan hatiku. Aku kehilangan rasa kepercayaan.

__ADS_1


__ADS_2