Cintai Aku, Suamiku

Cintai Aku, Suamiku
Keputusan terakhir


__ADS_3

Vina memutuskan untuk pergi meninggalkan Albert. Kali ini dirinya benar-benar sangat muak harus berhubungan dengannya. Rasa sakit hatinya menjadi. Saat dia melihat layar ponsel Albert kemarin. Apalagi dia masih saja berhubungan dengan Aira.


Rasa ceritanya mulai tumbuh lagi. Beberapa kali, Vina memergoki Aira yang terus menghubungi Albert. Dan, dia juga sering melihat suaminya bersama dengan Aira. Baik saat menikah atau sebelum menikah. Albert belum juga berubah. Vina merasa sangat lelah dengan semuanya.


**


Albert yang tidak hentinya terus mencari Vina. Dia merasa menyesal dengan apa yang sudah di perbuatnya. Ingin sekali mencari dia dan minta maaf. Dia akan mencoba untuk mencintai dia. Dan bertanggung jawab jika kelak terjadi apa-apa denganya.


Tetapi sifat playboy dan suka bermanis lidah di depan wanita tak bisa begitu saja dia hilangkan. Kaarena itu sudah ada sejak lama tertanam dalam dirinya. Perlu cinta sejati untuk menghilangkan itu semuanya. Tetapi sangat sulit mendapatkan itu semuanya.


Vina yang dari tadi pagi belum pulang ke rumahnya. Sesudah ia keluar dari hotel, ia tidak menginjakkan kakinya sama


sekali di rumahnya. Hingga membuat orang taunya khawatir. Bahkan ayahnya mondar-mandiri di belakang pintu menunggu ajaknya untuk pulang.


Tetapi Vina merasa pikirannya benar-benar kacau, ia tidak bisa pulang lebih dulu. Dan baru saja dia mengirimkan pesan untuk ayah dan ibunya di rumah. Agar dia tidak terlalu khawatir dengannya. Vina memutuskan untuk mencari hiburan di luar


Bersenang-senang, di club malam.Meski dia tidak pernah ke sana sama sekali. Lalu kembali mampir di sebuah restauran untuk makan sejenak.


Ini bukan dirinya yang asli. Vina yak pernah sama sekali seperti itu sebelumnya. Vina jauh dari kata minum. Dan masalah kali ini benar-benar membuat dia semakin hancur. Sangat hancur, sekarang pendirian teguh dalam dirinya mulai hancur. Bersama dengan hancur hatinya saat ini.


Aku ingin hidup tenang sekarang... Lagian kenapa ngga aku masih memikirkan orang yang sama sekali tidak pernah suka denganku. Dan apalagi Albert, hanya menjelajahi tubuhku. Tidak pernah sama sekali dia suka denganku. Melirik saja sepertinya, ogah! Jika harus, berada dalam bayang-bayang penyesalah.


Ia seharian mencari ketenagan mengelilingi kota. Dan berhenti di supermarket untuk membeli beberapa minuman. Dan juga makanan ringan untuk dia sendiri. Ia berencana untuk tidur di dalam.mobil selama beberapa hari ke depan. Meski beresiko baginya. Tetapi dia malu dengan orang tuanya. Vina merasa malu jika dirinya sudah tidak terhormat lagi. Dia sudah ternodai berkali-kali.


Vina menghela napasnya, mencoba untuk tetap sabar. Kemudian memutar mobilnya keseberang jalan. Dan segera pergi lagi menuju jembata yang menjulang panjang menghubungkan kota. Dia menghentikan mobilnya tepat di tengah-tengah jembatan. Bibirnya tersenyum tipis. Melihat begitu indahnya pemandangan laut di malam hari. Sangat gelap, tak terlihat jelas warna laut di bawahnya itu.


Hingga malam tiba, ia berhenti di sana, keluar membawa beberapa minuman dan

__ADS_1


duduk di pinggiran jembatan mentap ke laut luas di depanya.


“Pemandangan yang sangat indah” ucap Vina, dengan tangan membuka minuman dingin yang ia beli tadi, meneguknya perlahan. Kembali lagi menatap ke arah laut. Suasana hatinya seakan sudah lepas tak ada beban jika berbicara sendiri meluapkan emosi hatinya yang menggebu.


“Tapi tak seindah hatiku sekarang, aku merasa tidak ada orang yang sangat menyayangiku. Tidak ada yang perduli dengan aku. Dan Vino juga pasti sekarang bersama dengan Kesha.” Ucap Vina, meneguk lagi minumannya lagi, meletakkan di atas mobilnya. Sembari tersenyum tipis saat membayangkan kenangan indah bersama dengan Albert. Entah sejak kapan pikirannya tentang Albert semakin membuat dia benar-benar stres.


“Semoga kalian bisa bersama lagi, Aku harap hubungan kalian membaik” Vina tak


berhenti terus berbicara sendiri, dan. Tes..


Tiba-tiba air mata keluar dari mata indahnya, wajah yang semula tersenyum , berubah jadi sebuah tangisan yang semakin menjadi. Air mata itu semakin derasnya membasahi ke dua pipinya. Vina menyeka air matanya dengan punggung tangannya. Beranjak berdiri, merentangkan ke dua tangannya. Merasakan hembusan angin malam yang menerpa tubuhnya.


“Aku benci kehidupanku..” teriak Vina, meneguk minumanya sampai tak tersisa,


mencengkram erat botol minuman itu, melemparanya jauh ke depan.


pernah jatuh cinta pada seseorang tetapi di sakiti. Karena cinta dia hanyalah bertepuk sebelah tangan.


Vina terdiam sejenak, ia mulai teringat dengan kenangan lalu yang membuat ia jadi seperti ini, di mana saat ia kecil bertemu dengan seorang laki-laki, dan memberinya sebuah permen saat dia menangis. Dan setelah itu mereka selalu bertemu di tempat yang sama. Bermain bersama, Vina yang dulu tidak punya teman, dan selalu di jauhi teman-temannya. Ia merasakan punya teman


baru saat bertemu dengannya, bahkan dia mau begitu saja menerimanya sebagi


teman.


Hingga mereka berjanji, akan selalu jadi teman selamanya. Tapi stelah berbicara itu, keesokan harinya ia sudah tidak bertemu lagi dnegannya. Bahkan, sudah tidak ada lagi kabar darinya. Hingga, Vina lupa dengannya. Dan di saat seperti ini, ia kangaen dengannya yang selalu menghiburnya dulu. Teman


masa kecil yang selalu ia rindukan.

__ADS_1


“Kamu di mana?” tanya Vina pada dirinya sendiri, dengan pandangan kosong menatap ke depan. Dan air mata seakan sudah habis tak tersisa lagi. Hingga matanya mengering. Vina terseyum tipis, mengambil minumannya lagi, meneguknya setengah botol.


Merasa bosan , ia beranjak berdiri merasakann hembusan angin


pantai yang membuat hatinya semakin sejuk. Vina memejamkan matanya,


merentangkan ke dua tangannya, merasakan angin pantai yang mulai masuk ke dalam pori-porinya dan dinginya semakin menusuk ke tulang nya.


“Aku merasa sangat tenang. Sanga damai seperti ini” ucap Vina.


~~


Albert yang dari tadi cemas mencari Vina, ia sampai menelusuri setiap sudut kota. “Vina, kamu di mana? Aku harap kamu tidak melakukan hal bodoh” gumma Albert, menggigit jemarinya, menghilangkan rasa cemas yang semakin menjadi. Hingga ia tidak sadar melintas di melewati mobil Vina. Ia melirik sejenak, orang yang berdiri di atas jembatan. Sekujur tubuhnya gemetar, merasa sangat khawatir dengan keadaan Vina sekarang. Dia takut jika wanita itu akan berbuat nekat nanti.


 Ia menggelengkan kepalanya. “Apa dia sudah gila mau bunuh diri” ucap Albert. “Sepertinya, memang dia sudah gila” Albert menghentikan mobilnya, dan beranjak turun, berlari menghampiri wanita di atas jembatan itu. Ia tidak sadar jika mobil Vina ada di depanya.


“Eh... turunlah, apa yang kamu lakukan” ucap Alber, dengan kepala sedikit mendongak entap wanita itu.


“Turunlah!!” ucap Albert lagi, mengulurkan tanganya ke atas.


Ajah wanita itu tertutup rambut panjangya, membuat Albert tidak bisa melihat jelas siapa wanita di depannya itu. Vina hanya diam, ia merasakan relaksasi angin laut yang membuat ia tak mendengarkan semua suara mobil yang lewat bahkan orang yang dari tadi menyuruhnya turun.


“Ehh.. Gadis gila, cepatlah turun!!” ucap Albert yang sudah semakin kesal, ucapanya tidak di hiraukan dari tadi.


“Kamu mau turun sekarang tidak,, peganglah tanganku.. Jangan bertindak bodoh wahai gadis gila.. “ ucap Albert, menguluran tanganya lagi ke depan.


Vina perlahan membuka matanya, ia melihat ke bawah seorang laki-laki yang terus memanggilnay gadis gila dari tadi.

__ADS_1


“Vina??” ucap Slbert terekjut.


“Albert! Kenapa kamu ada di sini” ucap Vina yang terkejut saat Albert ada di dekatnya.


__ADS_2