
‘Lo yakin mau ikut kemah?” tanya Fanny sambil memasukkan beberapa makanan ke keranjang.
Setelah kejadian Keira menangis, mereka pergi ke swalayan membeli stok makanan yang mulai menipis. Keira yang mendengar pertanyaan Fanny yang entah sudah berapa kali dilontarkan, hanya menjawab dengan anggukan dan menatap malas Fanny yang seolah menganggap remeh dirinya.
“Nantik disana gak sama kayak di apartemen lo? Gak ada kasur, AC, mandi juga gak bisa lama-lama. Masih yakin mau ikut?” tanya Fanny lagi menatap serius Keira yang justru cemberut.
“Kok lo kayak raguin gue sih? Emang gue anak mami yang harus lo khawatirin?” protes Keira kesal dan mengambil banyak cemilan.
“Bukan raguin, gue takut aja kalau lo gak nyaman disana. Gue kan panitia juga, kalau lo ada masalah misalnya, kan gue gak bisa terus bantuin lo,” jelas Fanny dan mengembalikan cemilan yang diambil Keira ke rak diam-diam.
Bisa-bisa habis uang buat bulan depan,gumam Fanny dalam hati menatap belanjaan yang diambil Keira.
“Yaelah. Gak mungkinlah gue ada masalah terus. Lagian gue ini orangnya mudah beradaptasi kok,” bela Keira.
“Ok deh. Tapi jangan minta-minta pulang kalau udah sampai disana,” ucap Fanny memperingati.
“Siap buk bos!” jawab Keira semangat.
Setelah membayar, mereka langsung pulang. Karena swalayan tidak jauh dari apartemen, mereka memutuskan untuk jalan kaki saja. Saat melewati taman, mereka berhenti dan heran saat melihat ada keramaian di tengah taman.
“Kesana yok? Kepo gue,” ajak Keira dan langsung menarik Fanny.
“Ada apa sih? Tumben banget taman ini ramai,” gumam Keira berusaha melewati orang-orang yang membentuk lingkaran. Saat sudah bisa melihat apa yang menjadi objek tontonan semua orang, ternyata suasana sedang tegang.
“Ada apa sih mbak?” bisik Fanny ke cewek yang berdiri disebelahnya.
“Ceweknya minta pertanggung jawaban karena hamil mbak, tapi cowoknya bantah kalau itu bukan anaknya,” jawabnya.
“Gila, hamil. Ntah siapa yang jujur disini,” komentar Keira menatap perempuan yang menangis sambil berlutut di depan si cowok. Keira tidak habis pikir, kalau emang itu anak mereka, tega sekali cowok itu.
Lagian, kok mau-maunya nyerahin kehormatan. Seganteng apa sih tu cowok sampai si cewek mau-mau aja kasih kehormatannya? Tanya Keira dalam hati.
Karena posisi Keira dan Fanny dibelakang si cowok, mereka tidak bisa melihat wahjah si cowok.
“Kamu tega gak mau ngakuin dan tanggung jawab?” tanya si cewek menangis tanpa memedulikan sekitar yang sudah ramai menonton. Ada yang menatap iba, dan juga ada yang menatap jijik ke arah si cewek.
“Emang kamu yakin itu anak aku? Emang kapan kita ngelakuin itu? Aku gak ingat pernah melakukan itu,” bela si cowok tenang.
__ADS_1
“Kamu mungkin gak ingat karena mabuk, tapi aku sadar dan ingat kejadian malam itu!” bentak si cewek tidak terima.
“Gak! Walaupun aku gak ingat kejadian malam itu, aku yakin aku gak mungkin lakuin itu!” bentak si cowok tegas.
“Brengsek!” teriak Keira menatap tajam punggung si cowok. Teriakan Keira langsung menarik perhatian semua orang yang ada disana. Fanny yang sadar sudah menjadi pusat perhatian, langsung menarik Keira menjauh dari sana. Baru beberapa langkah, mereka langsung berhenti saat ada yang memanggil.
“Tunggu!” Keira dan Fanny langsung berbalik dan terkejut saat ternyata yang memanggilnya si pemeran utama kejadian di taman ini.
“Kamu tadi teriak brengsek itu aku?” tanya si cowok menatap Keira intens. Keira yang sadar kesalahannya berucap, menatap Fanny meminta bantuan. Fanny yang tau arti tatapan Keira, langsung menatap ke arah lain.
Jahat banget lo fan, mana gue pakek acara kebawa suasana lagi. Lagian gue berasa lagi nonton sinetron tadi,dumel Keira menatap kesal Fanny yang menghindari tatapannya.
“Gue keceplosan! Maaf! Gue tadi berasa nonton sinetron! Lagian gue juga gak nuduh lo salah! Gue aja belum tau siapa yang benar disini,” jawab Keira cepat tanpa menatap ke arah lawan bicaranya.
Saat tidak mendengar suara apapun disekitarnya, Keira mengangkat kepala dan menatap sekitar. Semua orang menatapnya, dan Keira memberanikan diri menatap si cowok. Dan Keira dibuat terpana dan binggung menatap wajah dan reaksi si cowok.
Ganteng banget, senyum juga manis. Eh, kok senyum sih? Itu senyum ngejek gue ya? Tanya Keira dalam hati.
“Lo lucu,” sahut si cowok tersenyum meledek.
“Devan! Masalah kita belum selesai!” teriak si cewek mendekat, yang tidak terima saat semua orang justru menatap kearah Keira yang justru menatap bingung mendengar ucapan cowok didepannya.
“Ka-kamu? Kamu tau?” tanya si cewek takut.
“Iya! Aku tau semua perbuatan kamu dibelakang aku selama kita pacaran! Jadi? Kamu masih mau ngaku-ngaku itu anak aku?” jawab Devan tenang tapi penuh tekanan.
Keira yang mendengar ucapan Devan, membulatkan mulutnya tanda kalau dia tau apa kebenaran sebenarnya. Si cewek langsung menunduk dan pergi saar sadar semua orang menatap jijik kearahnya.
Setelah si cewek pergi, semua orang yang menonton langsung bubar sambil berbisik. Keira dan Fanny juga langsung beranjak pergi.
“Si ceweknya fitnah si cowok. Dan tuh cowok tau kalau itu bukan anaknya. Apalagi tuh cowok tau kalau selama ini dianya diselingkuhin. Kayaknya itu deh faktanya,” bisik Keira ke Fanny yang mengangguk setuju. Dan ucapan Keira masih bisa didengar Devan yang masih berdiri di tempat tadi.
“Iya! Kesimpulan kamu benar,” sahut Devan yang membuat langkah Fanny dan Keira kembali berhenti.
“Lo sih! Kok suara lo besar sih!” omel Fanny berbisik.
“Mana gue tau tuh cowok masih disini,” bela Keira dan terkejut saat si cowok sudah berdiri didepan mereka.
__ADS_1
“Perkenalkan, nama aku Devan. Devan doang nama kepanjangan aku. Supaya ada beda antara nama kepanjangan dan panggilan, nama panggilan aku Dev,” ucap si cowok memperkenalkan diri. Keira dan Fanny menatap bingung saat si cowok juga menyodorkan hp ke arah Keira.
“Minta no WA lo,” jelas Devan saat Keira menatap heran ke arahnya.
“Gak ah!” jawab Keira cepat.
“Kenapa?” tanya Devan masih tersenyum menatap Keira. Fanny justru tertawa melihat Keira yang masih memasang wajah bingung.
“Kan gue gak kenal lo! Ngapain juga gue kasih lo!” jawab Keira.
“Loh, tadi kan aku udah kenalkan diri aku,” jawab Devan terkekeh.
“Yang suruh kenalkan diri siapa? Kan gue gak nanya tadi.”
“Apa salahnya sih aku kenalkan diri sama cewek yang aku taksir?” jawab Devan tersenyum. Keira yang disenyumin seperti itu, langsung salah tingkah.
“Kan kita baru ketemu. Lo anggap gue pelarian habis putus sama tuh cewek ya?” tanya Keira curiga.
“Kamu percaya cinta pada pandangan pertama gak? Aku lagi ngalamin itu soalnya. Dan kayaknya kamu salah paham deh. Cewek tadi itu mantan aku yang tiba-tiba aja datang setelah kami putus 2 bulan lalu. Jadi, kami tadi itu bukan habis putus lo,” jawab Devan detail.
“Gak percaya! Gue habis patah hati sama cinta pandangan pertama gue!” jawab Keira kesal sendiri saat teringat dengan kak Kevin. Fanny tertawa tanpa suara mendengar jawaban jujur temannya. Devan yang mendengar jawaban Keira kembali mengangsurkan hp ke arah Keira.
“Makanya, kasih aku nomor kamu. Jadikan aja aku pelampiasan kamu yang lagi patah hati,” ucap Devan tersenyum manis.
“Udah, sini gue aja yang ketik,” sahut Fanny yang gemas dengan obrolan panjang hanya karena masalah no WA. Keira melotot saat Fanny meraih hp Devan, dan mengetik nomornya. Fanny yang sadar tatapan tidak terima Keira, tetap mengetik dan tidak menghiraukan.
“Nih, udah,” ujar Fanny mengembalikan hp Devan.
“Nomor udah. Sekarang nama kamu siapa?” tanya Devan. Keira tidak langsung menjawab, Devan menatap heran saat Keira memelototinya.
“Keira, Keira Resyaldi,” jawab Keira akhirnya.
“Keira- kei. Aku panggil kei aja ya?” tanya Devan.
“Kei, sama kayak bahasa inggrisnya kunci key. Kamu kan sekarang kunci buat hati aku,” goda Devan sebelum Keira menolak.
“Devan!” teriak seseorang dari belakang Fanny dan Keira. Devan yang namanya dipanggil, langsung melambai menyuruh orang yang memanggilnya mendekat.
__ADS_1
Lo! Kok dia bisa disini? Heran Fanny menatap cowok yang baru saja berdiri dan tersenyum ke arahnya.
“Hai. Kita ketemu lagi.”