Cintaku Tak Bisa Dalam Diam

Cintaku Tak Bisa Dalam Diam
Pengakuan Tak Terduga


__ADS_3

“Ok! Setelah ini kami akan membacakan nama-nama kelompok buat tenda. Dan buat jadwal masak, juga akan dibacakan sekarang. setelah pembagian kelompok dibacakan, saya harap waktu setengah jam cukup untuk mendirikan tenda. Lalu, setelah itu kita kumpul lagi di sini. Ada pertanyaan?” tanya Alex selaku ketua panitia perkemahan umum kali ini.


“Baiklah, karena tidak ada pertanyaan, kita mulai saja pembacaan kelompok. Kalau begitu, saya tinggal dulu,” pamit Alex meninggalkan perkumpulan.


“Lex! Mau kemana lo? Kita kan satu kelompok. Lo mau kabur bikin tenda ya?” teriak Bagas mengejar Alex.


“Gue pergi bentar, nantik balik lagi kok,” jelas Arkan tanpa menghentikan langkah. Dengan sedikit perasaan kesal, Bagas berhenti mengejar dan memilih kembali ke tempat perkumpulan masih berlangsung.


Di lain tempat, Fanny memilih duduk jauh dari perkumpulan. Setelah mendengar pengakuan dari Bintang, Fanny bingung harus seperti apa. Merasa sudah terlalu lama menghilang dari yang lain, Fanny berniat kembali. Baru saja membalikkan badan, jantung Fanny serasa di hantam palu saat melihat Bintang dan Irene berpelukan tidak jauh dari tempat dia berdiri saat ini. Tidak ingin ketahuan dirinya melihat mereka, Fanny memutuskan memilih jalan yang berlawanan.


Belum hilang rasa terkejut Fanny, dirinya makin terkejut saat mendapati kak Alex berdiri di belakangnya. Sama seperti dirinya, kak Alex juga menyaksikan dua orang yang masih tetap berpelukan.


“Kak—kok…” belum selesai Fanny bertanya, Alex sudah menarik tangan Fanny menjauh dari sana.


Setelah cukup jauh dari tempat tadi dan juga jauh dari perkumpulan, Alex berhenti melangkah dan melepas peganggan tangannya.


“Maaf,” ucap Alex ketika sudah melepas tangannya. Fanny hanya mengangguk pelan sebagai jawaban. Lama mereka terdiam tanpa ada suara, hingga akhirnya Fanny bersuara duluan.


“Kakak kok bisa ada di sana tadi?” tanya Fanny akhirnya.


“Nyari kamu,” jawab Alex menatap mata sembab Fanny.


“Nyari saya?” tanya Fanny heran. Menghela nafas pelan, Alex mengeluarkan permen dari saku jaketnya. Fanny semakin heran saat kak Alex justru memberinya permen bukannya menjawab pertanyaannya. Meskipun begitu, dia tetap mengambil tanpa bertanya lagi.


“Kita duduk dulu, nanti aja balik ke kemah,” ajak Alex dan langsung duduk d atas pasir menghadap indahnya pantai. Fanny pun memilih ikut duduk di samping kak Alex dan menatap indahnya pantai yang berbanding terbalik dengan suasana hatinya saat ini.


“Sebenarnya, kakak tadi liat dan dengar obrolan kamu sama bintang,” ucap Alex membuka obrolan.


“Ja-Jadi kakak udah—“ terkejut Fanny.


“Iya. Kakak tau masalah kalian. Kakak juga tau perasaan kamu terhadap Bintang.”


“Sebenarnya dari awal Bintang datang ke kampus, kakak udah tau kamu suka dia. Malah, jauh dari sebelum itu, kakak udah tau semuanya,” lanjut Alex saat Fanny hanya diam menunduk menatap tangannya.


Mendengar kalimat jauh dari sebelum itu, Fanny mengangkat kepala menatap kak Alex bertanya. Alex yang mengerti maksud tatapan bertanya Fanny, mengehela nafas mempersiapkan diri sebelum menjawab.


“Kamu ingat kan saat kakak kelahi sama cewek di depan swalayan waktu itu?” tanya Alex.


“Iya, itu bukannya Irene tunangan Bintang ya kak?” tanya Fanny saat teringat pertanyaan yang sudah ingin dia tanya dari tadi. Alex mengangguk pelan dan melanjutkan penjelasannya.


“Dia teman dekat kakak dulu. Bisa dibilang lebih dari sekedar teman,” lanjut Alex menjelaskan.

__ADS_1


“Kakak sama Irene pacaran?” tanya Fanny shock.


“Bukan, kami nggak pernah pacaran. Dulu kakak nggak percaya yang namanya cinta. Dan untuk pertama kalinya dalam hidup, kakak percaya. Dan orangnya itu Irene. Tetapi, meskipun kakak percaya, kakak nggak sampai berani buat ngajak dia pacaran. Sampai akhirnya kami terjebak friendzone,” jelas Alex menatap sendu pantai saat teringat masa-masa dengan Irene.


“kakak masih suka dia?” tanya Fanny pelan menatap Alex dari samping.


“Udah nggak,” jawab Alex tanpa ragu.


“Kok bisa? Dia kan cinta pertama dan paling berarti buat kakak? Dia yang udah berhasil runtuhkan perasaan kakak?” tanya Fanny sedikit tidak terima.


“Nggak semua cinta berakhir seperti yang kita mau,” jawab Alex menatap Fanny sekilas.


“Meskipun begitu, bukannya cinta pertama itu yang paling sulit buat dilupakan? Kok kakak bisa lupain dia sih? Apa kakak yakin perasaan kakak udah berubah?” tanya Fanny lagi.


“Iya! Kakak yakin, karena perasaan kakak udah diambil alih sama yang lain,” jawab Alex terkekeh pelan.


“kakak lagi naksir cewek lain?" tanya Fanny terkejut. Bagaimana tidak terkejut, seorang Alex yang terkenal dingin dan cuek terhadap cewek yang mendekatinya, bisa jatuh cinta juga ternyata, pikir Fanny terkejut.


“Loh? Emang nggak boleh? Kan ini perasaan kakak?” tanya Alex pelan. Fanny menghela nafas dan menggeleng pelan sebagai respon.


“Gimana sih caranya move on kak? Bagi tips nya dong,” lirih Fanny.


“Kakak juga dulu mikirnya nggak bakalan bisa move on dari Irene. Waktu itu kakak kelahi sama dia saat mendekati UN waktu SMA. Kami nggak saling kontak. Sampai waktu hari kelulusan, kami baikan lagi. Terus kami sama-sama milih lanjut ke Jogja, tetapi beda kampus. Awalnya kami masih sering ketemuan buat sekedar jalan bentar, tetapi lama-kelamaan kami mulai jarang ketemu karena sibuk kuliah. Lalu ntah kenapa, Irene sulit kakak hubungin. Kakak kira, mungkin dia memang sibuk dengan kuliah, tenyata enggak,” jelas Alex kembali murung.


“Terus kakak milih langsung pergi gitu aja?” tebak Fanny.


“Yah enggaklah, kamu kira kakak suka mendam gitu aja?” jawab Alex kembali terkekeh. Melihat kekehan Alex yang seperti tersenyum, Fanny ikut tersenyum. Jarang sekali bisa melihat kak Alex tersenyum, pikirnya.


“Kakak samperin Irene saat Bintang sudah pulang. Dia terkejut saat kakak datangin, lalu dia ajak kakak masuk buat jelasin. Terus dia ceritakan semua kejadian perjodohan antara mereka,” lanjut Alex.


“Jadi semenjak itu kakak mencoba move on?” tanya Fanny penasaran.


“Nggak, kakak saat itu hancur banget saat tau dia nggak nolak perjodohan itu. Kakak kira, dia suka kakak tetapi kayaknya dia nggak punya perasaan yang sama dengan kakak, begitu awalnya kakak kira. Terus setelah itu, kakak mulai sibukin diri dengan kegiatan kampus. Salah satunya, kakak gabung Mapala yang awalnya kakak nggak tertarik. Tetapi karena Bagas terus ngajakin kakak gabung buat move on katanya, yaudah kakak iyain aja. Sampai akhirnya kakak udah kuliah setahun aja, nggak terasa udah selama itu juga kakak jauhin Irene,” kekeh Alex.


“Selama itu kakak nggak pernah komunikasi lagi dengan Irene?” tanya Fanny tidak percaya. Alex terkekeh dan mengambil permen yang masih dipegang Fanny. Setelah membuka bungkusnya, Alex mengangsurkan permen ke mulut Fanny. Dengan perasaan bingung dan canggung Fanny membuka mulut dan menerima suapan permen kak Alex tanpa bersuara.


“Nggak, tetapi saat libur semester dia datangin kakak,” jawab Alex.


“Ngapain?” tanya Fanny kepo.


“Kamu pengen tau? Yakin sanggup dengernya?” ledek Alex terkekeh. Fanny memasang wajah heran tidak mengerti maksud ucapan Alex.

__ADS_1


“Dia datang ke apartemen kakak sambil nangis nggak mau dijodohin. Kakak nggak tau mau jawab apa, jadi kakak diam aja selama dia nangis. Terus dia bentak kakak karena nggak mau perjuangin dia, kakak nggak terkejut sih kalau dia sadar perasaan kakak. Kakak justru merasa, ah…dia tau tapi dia nggak nolak perjodohan itu dari awal, berarti dia juga nggak berjuang kan?” tanya Alex tersenyum sinis.


“Jadi setelah kejadian itu kakak tetap jauhin dia, tapi dia tetap nggak nyerah buat bikin kakak mengakui perasaan kakak. Kakak udah bilang kakak nggak ada perasaan lagi ke dia, tetapi dia nggak percaya. Jadi kakak milih diam tidak lagi meladeni semua ucapan dia,” lanjut Alex menunduk.


“Kakak beneran udah move on sekarang?” tanya Fanny memastikan.


“Iya, udah ada yang buat kakak move on. Dia nggak ngelakuin apa-apa ke kakak, tapi dia berhasil buat kakak penasaran dan suka dia. Sebenarnya kakak udah lama tau dia, tapi baru ketemu lagi di Jogja,” jawab Alex tersenyum lebar. Fanny yang tidak menyangka bisa melihat kak Alex tersenyum, entah mengapa justru salah tingkah.


“Suka gitu aja? Yakin kak?” tanya Fanny berusaha bersikap biasa.


“Iya, tapi sayang dia suka orang lain. Jadi kakak nggak bisa masuk ke hati dia. Kakak nggak mau maksa masuk ke hati seseorang secara paksa, jadi kakak nggak ada berusaha dekatin dia,” jawab Alex pelan.


“Kok kakak nyerah gitu aja sih? Bukannya kalau suka kita harus berjuang ya? Kita emang nggak tau gimana akhirnya, tapi bukannya kita harus berjuang?” tanya Fanny akhirnya.


“yah, walaupun nggak semua perasaan akan berakhir dibalas, kayak nasib aku,” lanjut Fanny pelan.


“Memang boleh maksa masuk ke hati seseorang di saat dia lagi galau?” tanya Alex menatap sendu mata Fanny.


“Maksudnya kak?” tanya Fanny salah tingkah ditatap.


“Iya, emang kakak boleh maksa masuk ke hati seseorang yang lagi galau? Karena cewek yang kakak suka lagi galau karena patah hati,” tanya Alex lagi.


“Hmm, itu—“ binggung Fanny.


“Kamu ini orangnya nggak peka ya?” tanya Alex terkekeh.


“Ha?’ heran Fanny.


“Iya, kamu nggak peka sama perasaan kakak ke kamu. Kakak tanya, emang boleh maksa masuk ke hati kamu yang lagi galau?” tanya Alex.


Fanny yang masih binggung menatap heran tatapan serius kak Alex, setelah beberapa saat dirinya baru sadar dan melotot. Alex yang melihat wajah terkejut Fanny menghela napas bersiap mendengar penolakan Fanny yang akan membuat dirinya patah hati untuk kesekian kalinya.


“Kok bisa? Kan—“ bingung fanny bertanya pelan.


“Fan,” panggil Alex pelan meraih pundak Fanny agar menghadapnya.


“Kakak tau kamu lagi patah hati. Kakak juga tau nggak seharusnya kakak berusaha dekatin kamu yang lagi terluka. Kakak tau kedengarannya seperti memanfaatkan suasana hati kamu yang lagi galau. Tapi kakak juga nggak mau lagi mendam perasaan kakak. Udah cukup dulu kakak nggak berjuang dapatin cinta kakak. Mungkin kakak bisa bangkit setelah terluka karena Irene, tapi kalau itu kamu kakak kayaknya nggak sanggup,” jelas Alex lirih.


“Kak, aku—“


“kakak tau kamu masih bingung dan terkejut. Kakak juga nggak minta jawaban kamu sekarang kok. Kakak cuman minta, kamu juga pertimbangkan kakak sebagai cowok yang suka kamu, kakak mau kamu tau perasaan kakak,” potong Alex sebelum Fanny menjawab dengan pernyataan yang takut dia dengar.

__ADS_1


Kenapa hari ini perasaan gue dibikin terkejut terus-menerus sih? Tadi gue galau, sekarang gue galau lagi dengar pengakuan kak Alex… batin Fanny bingung.


__ADS_2