Cintaku Tak Bisa Dalam Diam

Cintaku Tak Bisa Dalam Diam
6 Hati 6 Rasa


__ADS_3

“Ehem! Apa cuman gue yang merasa situasi di mobil ini agak menegangkan ya?” tanya Devan memecahkan keheningan. Devan langsung diam saat semua pandangan mengarah ke arahnya.


“Bisa diam aja nggak sih?” bisik Keira geram dengan cowok yang duduk disebelahnya.


“Kan aku penasaran key. Lagian nggak seru ah kita diam aja selama perjalanan,” keluh Devan.


“Udah! Diam aja ya, simpan tenaga buat acara nantik,” bisik Keira menahan kesal.


“Loh kok gitu? Kan kita---“ Devan tidak melanjutkan omongannya saat melihat Keira melotot ke arahnya.


“Udah! Mending kita dengar lagu aja deh, nih!” keira mengeluarkan earphone dari tasnya. Dan memasang salah satunya ke telinga Devan. Devan hanya diam dan menahan senyum saat Keira menyalakan lagu.


“Kita kayak udah pacaran aja lo. Pacaran aja yok?” tanya Devan berharap. Keira yang baru saja ingin menutup mata, langsung melotot saat sebelah telinganya yang bebas mendengar dengan jelas suara Devan.


“Udah! Diam aja deh!” jawab Keira dan langsung memejamkan mata. Devan hanya terkekeh sebagai respon penolakan Keira.


“Ditolak ya?” tanya Bintang meledek. Devan hanya mendengus dan ikut memejamkan mata mendengar pertanyaan Bintang yang duduk didepannya.


“Kalau ngantuk, kalian tidur aja. Nantik kalau udah sampai saya bangunin,” ucap Alex tanpa menoleh kebelakang.


“Kamu juga tidur aja Fan. Nantik saya bangunin.”


“ga usah kak. Kalau tidur semua, nantik kakak bosan lagi. Kan bisa ngantuk kalau nggak ada teman ngobrol,” tolak Fanny yang duduk di bangku samping kemudi.


“Nggak apa, lagian saya emang jarang ngobrol,” jawab Alex melirik sekilas ke arah Fanny.


“Fanny belum ngantuk kok.” Alex diam dan kembali fokus. Fanny pun memilih kembali melihat keluar jendela mobil mengisi kebosanan selama perjalanan.


Semenjak kejadian perkenalan antara dia dan Irene yang ternyata tunangan Bintang, gebetannya, Fanny permisi ke kamar mandi dan ketinggalan bus.


Saat kembali ke lapangan, ternyata semua sudah berangkat duluan kecuali mereka berenam. Dan berakhirlah mereka berenam terjebak didalam 1 mobil dengan suasana hening.


Fanny melirik ke bangku tengah melalui layar hp yang dipegangnya. Sementara itu, Alex melirik ke arah Fanny yang tidak bersuara lagi.


Ternyata bener, dia suka bintang, batin Alex tersenyum tipis.


Selama perjalanan, tidak ada obrolan sama sekali. Semua orang di dalam mobil memilih diam dengan pikirannya masing-masing.


Alex yang memikirkan Fanny,

__ADS_1


Fanny yang memikirkan perasaannya terhadap Bintang,


Bintang yang memikirkan perasaannya,


Irene yang memikirkan kejanggalan yang dicurigainya,


Devan yang memikirkan langkah selanjutnya untuk mendekati Keira,


Dan keira yang masih memikirkan kevin.


“Bangun! Kita udah sampai!” teriak Devan membangunkan Bintang yang duduk didepannya. Irene yang duduk disamping Bintang ikut terbangun mendengar suara Devan.


“Oh? Udah sampai ya?” gumam Keira seraya memasukkan earphone dan merenggangkan punggung.


“Loh? Kok bangun kei?” tanya Devan tersenyum.


“Terus lo mau gue tidur nggak bangun-bangun lagi gitu?” tanya Keira heran.


“Bukan gitu, bahaya kalau kamu nggak bangun. Aku sama siapa dong habisin sisa umur aku?” jawab Devan terkekeh.


“Terus ngapa?” tanya keira lagi.


“Lo playboy ya?” tanya Keira cepat menutupi kegugupannya.


“Nggak kok! Aku aja baru kamu cewek yang aku kejar. Biasanya aku yang dikejar. Serius lo! Iya kan Bin?” tanya Devan meminta dukungan Bintang.


“Mana gue tau,” Devan melotot mendengar jawaban Bintang. Dan menatap sinis Bintang yang keluar tanpa mau membantunya memyakinkan Keira.


“Aku serius lo key! Aku nggak pernah ngejar cewek. Kamu yang pertama,” Keira mendengus pelan dan langsung keluar mobil tanpa berniat menjawab.


“Bintang nggak setia kawan! Apa salahnya coba bilang iya aja,” dumel Devan dan ikut keluar.


“Alex sama Fanny mana?” tanya Bintang saat Devan sudah keluar.


“Mana gue tau!” jawab Devan kesal.


“Hahahahah! Dendam amat lo!” kekeh Bintang.


“Udah keluar duluan tadi. Mau cek duluan,” jawab Devan akhirnya.

__ADS_1


“Eh! Biar aku aja yang bawain!” teriak Devan saat melihat Keira mengeluarkan tas punngung dari bagasi.


“Nggak perlu! Nggak berat kok, gue bisa,” tolak Keira malas.


“Nggak usah, aku aja ya?” kekeh Devan.


Bintang hanya geleng-geleng kepala melihat Devan yang ngotot dan dibalas ngotot juga oleh Keira. Matanya menatap sekitar, dan langsung terdiam saat melihat Fanny mendekat.


“Ayo! Kok masih pada disini? Yang lain udah siap mau jalan ke dalam,” ajak Fanny.


“Iya nih si Keira bandel fan! Jalan kedalam kan lumayan jauh, tapi dia nggak mau di bantu bawa tasnya,” teriak Devan saat berhasil menarik tas Keira dan langsung dibawanya lari.


“Devan! Nggak usah! Biar gue aja!” teriak Keira mengejar Devan dan meninggalkan 3 orang yang terdiam tanpa alasan.


“Yaudah, yok kita jalan,” ujar Irene.


“Yok.”


“Yuk.”


“Kok lama banget kalian?” tanya Alex saat mereka sudah bergabung dengan rombongan.


“Iya! Tadi kumpulin nyawa dulu!” jawab Bintang.


“Yaudah, kita langsung jalan aja!” teriak Alex memberi aba-aba ke barisan paling depan. Dan semua rombongan mulai berjalan santai.


“Kan, bagus aku bawain tas kamu. Cuacanya agak panas key,” sahut Devan berjalan di samping Keira yang menatapnya kesal.


Iya sih, panas juga hari ini, batin Keira mengakui.


“Keira! Hai!” teriak seseorang yang suaranya sangat Keira kenali tanpa harus melihat siapa. Langkah Keira terhenti saat melihat orang yang berdiri disampingnya. Matanya menatap sinis orang yang berdiri di samping kanannya dan tersenyum lebar ke arahnya.


“Siapa sih?’ bisik Devan yang ikut berhenti dan berdiri di samping kiri Keira.


“Keira, aku-“


“Apa sih? Nggak usah sok kenal deh,” potong Keira menatap sinis dan jijik ke arah cowok di sampingnya.


Siapa sih? Batin Devan heran.

__ADS_1


__ADS_2