Cintaku Tak Bisa Dalam Diam

Cintaku Tak Bisa Dalam Diam
Ini Tunangan Saya


__ADS_3

“Udah semuanya kan?” tanya Keira memeriksa isi tas sebelum mengunci apartemen.


“Udah kok,” jawab Fanny menenteng tas dibelakang Keira.


Hari ini hari acara kemah diadakan. Seperti yang dibahas tadi malam, mereka berangkat menggunakan mobil ke kampus terlebih dahulu. Dan setelah itu mereka akan berangkat dengan rombongan lain ke tempat perkemahan.


“Apa sih nama tempat kemahnya Fan? Lupa gue,” tanya Keira sambil menatap fokus jalanan saat menyetir.


“Pantai Ngerumput, bagus deh pokoknya. Gue sama panitia lain udah cek sebelum kami tentukan tempatnya kok. Kita bakalan kemah 2 hari 3 malam disana. Baru besoknya kita mendaki. Tapi, kalau mendaki ini nggak semuanya ikut. Soalnya ramai banget, susah ngontrolnya. Jadi ya, cuman panitia dan anak-anak yang udah berpengalaman mendaki. Makanya lo gue larang ikut mendaki, ikut kemahnya aja,” jawab Fanny di sela makannya. Keira mendengus kesal saat teringat kalau ternyata bukan hanya kemah saja acaranya, tetapi ada mendaki yang pesertanya dibatasi.


“Ooo, bagus banget ya?” tanya Keira memilih membahas tempat kemah saja.


“Iya, spotnya keren deh, cantik. Tapi nantik sebelum masuk ke pantai, kita jalan sekitar 15 menit buat turun kesana,” jelas Fanny dan menutup bekal sarapannya.


“Makanya kemaren kami harus kirim barang yang diperlukan buat acara dari jauh-jauh hari, supaya kita nggak capek bawak banyak barang waktu turun,” lanjut Fanny menjelaskan.


“Oo, makanya lo tadi larang gue bawa banyak barang,” angguk Keira faham.


“Iya, lagian ngapain sih lo bawa selimut tebal. Jaket aja cukup.”


“Kan takutnya kedinginan pas malam,” gumam Keira.


“Nantik gue peluk biar lo hangat,” jawab Fanny terkekeh.


“Berasa banget jomblonya kalau kita pelukan,” kekeh Keira.


“Hahahaha, selagi sama-sama jomblo kita nikmati aja. Mana tau setelah kemah lo udah taken lagi,” ledek Fanny tertawa mendapat tatapan kesal Keira.


“Mana ada! Gue nggak suka sama si Devan itu ya,” jawab Keira kesal.


“Loh, kan gue nggak bilang orangnya Devan. Cieeee…” ledek Fanny makin semangat.


“Udah ah! Males gue bahas itu. Eh, parkir dimana nih?” tanya Keira saat sudah memasuki gerbang kampus.


“Di halaman depan ruangan mapala aja, yang lain juga nitip kendaraan disana kok,” jawab Fanny dan bersiap turun.


“Eh? Ada calon pacar lo tuh nungguin,” ledek Fanny tersenyum jahil.


“Apa sih, lagian kok dia disini sih? Kan dia harusnya berangkat sama rombongan kampusnya,” gumam Keira heran.


“Namanya usaha buat dapatin gebetan kei. Jadi harus dikejar terus, jangan sampai kasih orang lain kesempatan,” sahut Fanny dan langsung keluar saat Keira sudah selesai memakirkan mobilnya.


Keira hanya mendengus pelan dan ikut keluar membantu Fanny membawa tas di bagasi. Baru saja Keira ingin menenteng tas, tiba-tiba saja seseorang mengambil alih tugasnya.


“Biar aku aja ya, berat nih.” Ucap Devan tersenyum. Keira memasang wajah datar tetapi tidak menolak saat Devan membawa tasnya.


“Hmm.. banyak nyamuk disini,” sindir Fanny.


“Hahahaha…maaf ya Fan. Maklumin aja ya,” jawab Devan terkekeh. Fanny mengacungkan jempol menyahuti perkataan Devan. Keira memutar bola mata melihat Fanny mengangkat sebelah alisnya seolah meledeknya.

__ADS_1


“Lo sendirian Dev?” tanya Fanny seraya melirik sekitar lapangan yang sudah penuh dengan mahasiswa yang mengikuti perkemahan.


“Ngapa? Mau nyari gebetan ya?” sindir Keira.


“Fanny udah ada gebetan? Siapa?” tanya Devan kepo.


“A-Adalah pokoknya,” jawab Fanny salah tingkah.


“Ck ck ck… mau gue kasih tau nggak?” tanya Keira membuat Fanny melotot marah ke arahnya.


“Siapa?” tanya Devan ikut memanasi Fanny.


“Cocok banget kalian berdua! Gue doain langgeng deh,” jawab Fanny kesal dan beranjak pergi meninggalkan dua sejoli yang tertawa puas.


“Kan, teman kamu aja udah doain kita nih. Kapan nih resminya?” tanya Devan yang langsung membuat tawa Keira berhenti total.


“A-Apa sih? Nggak jelas ah!” jawab Keira dan langsung menyusul Fanny .


“Hm, jauh nih perjuangan gue. Pokoknya gue perjuangin sampai akhir!” ucap Devan menyemangati diri sendiri sambil tersenyum menatap punggung Keira.


“Dev?” panggil seseorang dari arah belakang Devan. Devan berbalik dan menatap heran cewek yang berdiri di hadapannya.


“Bintang mana ya?”


“Ha? Bintang? Dia ikut rombongan dari kampus kita. Lagian kok lo bisa ada disini?” tanya Devan heran.


“Masa sih? Gue nggak tahu. Mungkin dia ada di sana,” tunjuk Devan ke arah kumpulan panitia yang membentuk lingkaran.


“Yaudah, ke sana aja yuk kita cek,” ajak Devan dan diangguki si cewek.


“Fanny! Kamu tolong cek rombongan bus 1,2,3 ya. Cek udah lengkap atau belum anggotanya,” seru kak Bagas saat Fanny baru saja sampai di lapangan tempat bus dan rombongan peserta berkumpul sebelum berangkat.


“Iya kak, ini udah lengkap semua kan daftar namanya kak?” tanya Fanny menerima map data peserta.


“Udah kok,” jawab kak Bagas dan langsung pergi mengecek hal lain.


Baru saja Fanny berjalan ke arah bus yang akan dicek, langkahnya terhenti saat seseorang memegang pergelangan tangannya.


“Perlu bantuan nggak?” Fanny melotot melihat orang yang bertanya sambil memegang pergelangan tangannya.


“Kok melotot gitu sih?” tanya Bintang terkekeh. Fanny mengerjap beberapa kali dan langsung melepaskan tangannya.


“Kok bisa ada disini?” tanya Fanny.


“Iya, saya mau ikut rombongan kalian aja. Alex udah izinin kok.”


“Jadi? Ada yang bisa saya bantu?” tanya Bintang lagi.


“Hmm, nggak sih. Tapi biar lebih cepat selesai, bantu gue cek aja yuk,” ajak Fanny.

__ADS_1


“Boleh,yuk!” jawab Bintang semangat.


“Bintang! Kok lo nggak bilang sih ke sini juga?” teriak suara yang sudah sangat Bintang kenali tanpa harus melihat siapa. Bintang dan Fanny langsung membalikkan badan kebelakang.


“Kalau tau gitu, gue kan nggak perlu bawa mobil. Mending nebeng lo aja,” omel Devan kesal saat sudah berhadapan dengan Bintang.


Bintang terdiam tidak merespon omelan Devan selanjutnya. Matanya melotot melihat cewek yang berdiri di sebelahnya.


“Kamu kenapa nggak angkat telfon aku?”


“Aku daritadi telfon kamu terus, tapi nggak diangkat.”


“Woi! Kok melamun sih? Jawablah!” panggil Devan menyadarkan Bintang dari lamunannya.


“Maaf, hp aku suaranya aku matikan. Kamu kenapa bisa disini?” tanya Bintang lembut.


“Aku mau ikut kemah juga.”


“Nantik kamu capek ren, gausah ya,” jelas Bintang lembut. Fanny yang mendengar suara dan tatapan Bintang yang lembut, merasakan nyeri di dada.


Tapi kok ini cewek kayak nggak asing ya, batin Fanny menatap lekat cewek cantik didepannya.


“Nggak kok, cuman kemahnya aja. Aku nggak bakalan ikut mendakinya kok, tenang aja,” mohonnya memelas.


“Fanny? Udah selesai ngeceknya?” tanya Alex berlari ke arah Fanny dan yang lain. Saat sudah berdiri di dekat Fanny, Alex terdiam melihat cewek yang berdiri di samping Devan.


“Hai lex.”


“Oh, hai,” jawab Alex pelan.


Semua mata menatap Alex dan cewek yang saling tersenyum canggung.


“Kamu kenal Alex?” tanya Bintang.


“Iya, dia teman aku.”


Teman? Eh.. gue baru ingat. Dia kan cewek yang bicara sama kak Alex di depan swalayan waktu itu. Eh, bukan bicara tapi debat keknya, batin Fanny sibuk menebak sendiri.


“Oooo, oh iya Fan,” panggil Bintang menyadarkan Fanny.


“Iya? Ada apa?” tanya Fanny menatap Bintang.


“Kenalin, ini tunangan saya. Namanya irene,” ucap Bintang menunjuk ke cewek yang ternyata bernama irene.


“Hai. Gue Irene, Irene Arsyad.” Fanny menatap kosong uluran tangan Irene yang mengajaknya berkenalan.


“Fanny, Fanny Atthaya.” Akhirnya dengan perasaan campur aduk Fanny membalas uluran tangan Irene.


Emang lucu banget nih skenario cinta gue. Udah ketemu dan tau namanya, eh dikasih tau juga nama tunangan gebetan gue. Kasihan banget sih lo fan, batin Fanny tersenyum sinis menertawakan keadaannya.

__ADS_1


__ADS_2