
Canggung, itulah kata yang cocok untuk menggambarkan situasi yang Fanny rasakan sekarang. setelah pengakuan yang tidak diduga sama sekali dari kak Alex, mereka kembali ke tempat perkumpulan acara masih berlangsung. Setelah pengakuan cintanya, Alex benar-benar langsung membuktikan ucapannya tidak bercanda. Dengan berani dan cuek oleh tatapan banyak orang, Alex menggenggam tangan Fanny erat. Tentu saja tingkah Alex menjadi hot topic dalam sekejap. Bagaimana tidak? Ketua Mapala yang terkenal jomblo abadi, akhirnya ada cewek yang disukainya.
Fanny yang juga menjadi bahan tatapan dan omongan sama sekali tidak ambil pusing. Hanya saja, diantara puluhan mata dan bibir orang-orang, ada satu mata yang menatapnya dengan tatapan beda. Entah apa arti tatapan sayu itu, yang jelas Fanny merasa risih.
“Gercep nih ketua kita! Gue kira lo tadi mau cabut dari tugas, ternyata mau laksanakan tugas masa depan,” goda bagas yang hanya dihadiahi helaan nafas Alex.
“Nggak nyangka ya fan, kamu berhasil luluhkan nih batu bata,” takjub kak Kina tersenyum menggoda. Fanny yang akhirnya menjadi bahan godaan, hanya tersenyum canggung sebagai respon. Saat ingin melihat ke arah tatapan yang membuatnya risih, Alex menguatkan pegangan tangannya agar Fanny menatapnya. Fanny menaikkan alis saat Alex diam tidak bersuara.
“Kenapa kak?” tanya Fanny yang tidak tahan ditatap lama oleh Alex.
“Maaf kalau kamu risih, tapi kakak juga nggak mau nyembunyiin dari umum,” ucap Alex merasa bersalah.
“Nggak masalah,” jawab Fanny mengerti. Tentu saja Fanny mengerti rasanya menyukai seseorang dan ingin mengucapkannya tanpa peduli dengan komentar orang lain. Hanya saja, dia tidak bisa seperti Alex yang bisa menampakkan ke orang lain akan perasaannya. Karena orang yang disuka sudah menjadi tunangan orang lain.
“Kamu mikirin apa?” tanya Alex menyadarkan Fanny dari lamunannya.
__ADS_1
“Nggak ---“
“Fanny! Lu kok –“ teriak Keira memotong omongan Fanny. Keira yang sadar sudah mengganggu obrolan langsung berhenti berbicara dan memasang tampang memelas.
“Kok lo ninggalin gue sih?!” lanjut Keira kesal. Fanny yang belum paham maksud Keira terdiam sesaat dan langsung meringis saat teringat dia sudah melupakan Keira yang heboh berfoto ria.
“Eh, gue tadi ada urusan. Makanya gue lupa sama lo, sorry ya,” maaf Fanny cengengesan.
“Hmm, iya gue maafin. Tapi gue mau ngomong sama lo,” jawab Keira dan langsung menarik Fanny menjauh dari Alex. Fanny yang ditarik sampai peganggan tangannya terlepas oleh kak Alex, bernafas lega karena tarikan Keira.
Setelah dirasa cukup jauh dari keramaian dan memastikan sekitar tidak ada yang bisa mendengar obrolan mereka nantinya, Keira baru melepas pegangan tangannya dan menatap Fanny menyelidik.
“Apa aja yang terjadi barusan?” ujar Keira tersenyum sinis. Fanny memutar bola mata mendengar pertanyaan Keira yang lebih seperti perintah dibandingkan pertanyaan.
“Tadi sebenarnya gue lihat lo lagi ngomong sama Bintang. Gue mau ngajak lo balik, tapi gue lihat kalian ngomong serius banget, jadi gue nggak mau ganggu. Eh, pas gue milih sibuk cari angle bagus buat foto, gue cek lagi lo malah udah nggak ada. Cuman tinggal Bintang yang nampak murung. Dan tadi gue balik, lo malah lagi sama ketua lo itu, lagi peganggan tangan lagi! Gimana ceritanya?” tanya Keira panjang lebar. Setelah memikirkan akan memulai cerita darimana, barulah Fanny menatap serius Keira yang setia menunggu dia menjawab.
__ADS_1
“Jadi—“ mengalirlah cerita Fanny tentang pengakuan Bintang dan pengakuan Kak Alex yang berakhir dirinya terjebak rasa canggung dan bingung.
“Sial dan Hoki banget lo,” komentar Keira menggeleng tidak percaya dengan nasib Fanny.
“Maksudnya?” tanya Fanny bingung.
“Iya, sial karena cinta lo berbalas tapi dia udah punya tunangan. Eh, lu hoki di hari bersamaan, gegara ditembak sama cowok cakep,” jelas Keira takjub sendiri. Fanny mendengus kesal mendengar jawaban Keira yang sama sekali tidak membantu. Padahal dia berharap Keira memberinya solusi, nyatanya Keira hanya bisa mendengar saja.
“Udah ah, gue nyesal cerita sama lo! Gak ada gunanya!” kesal Fanny dan beranjak ingin kembali ke acara.
“Fan!” teriak Keira menghentikan langkah Fanny. Masih mencoba sabar, Fanny membalikan badan dan menatap bertanya Keira.
“Gimana kalau lo coba?” tanya Keira ambigu.
“Coba apa?” tanya Fanny. Keira langsung berdiri dan mendekat ke arah Fanny. Setelah berdiri dihadapan Fanny , menghela nafas pelan dan memegang pundak Fanny sebelum akhirnya mulai menjelaskan sesuatu yang dianya juga masih ragu.
__ADS_1
“Gimana kalau lo coba aja sama kak Alex? Gue rasa lo juga belum yakin dengan perasaan lo ke Bintang. Coba aja lo pikir, lo suka dia padahal belum kenal banget dengan dia kan? Bisa aja lo cuman tertarik karena penasaran dan lo nggak bisa bedain antara penasaran dan suka fan. Dan tanpa lo sadari, lo terobsesi dengan rasa penasaran lo. Jadi gue nyaranin, gimana kalau lo coba dekat dengan kak Alex? Kalau hati lo masih mikirin Bintang, itu berarti lo emang suka dia. Tapi, kalau lo suka dengan kak Alex akhirnya, jangan mengelak dengan alasan lo suka Bintang dan udah perjuangin dia dari lama. Itu obsesi fan, bukan cinta! Bukannya Fanny yang gue kenal itu akan berjuang dapatin yang dia mau? Jadi, gue harap lo berjuang emang buat yang pantas diperjuangkan fan, bukan karena obsesi aja,” jelas Keira mencoba membuka pandangan Fanny.
Obsesi? Apa iya selama ini gue obsesi? Tapi gue suka dia pada pandangan pertama. Apa suka walaupun belum kenal itu nggak mungkin? Batin Fanny dilema.