
Hari kedua berjalan lancar. Meskipun ada sedikit kendala dalam beberapa hal, semua dapat diselesaikan dengan arahan Alex. Ketua panitia sekaligus ketua ketua Mapala itu, bukan sembarangan ketua. Di balik sifat dinginnya, jiwa kepemimpinannya justru sangat besar. Itulah alasan utama kenapa dia dipercaya seluruh anggota Mapala.
“Seperti biasa, malam ini saya juga tidak suka basa-basi. Saya cuma ingin bilang kalau saya berterima kasih kepada semua peserta yang mau ikut acara ini dengan semangat sampai akhir acara. Dan saya juga berterima kasih dengan seluruh panitia yang berhasil bertahan sampai akhir walaupun ada kendala saat acara berlangsung. Dan saya sebagai ketua menutup acara malam ini dengan api unggun. Jika ada kesempatan lain, semoga kita bisa bikin acara seperti ini,” ucap Alex lalu menyalakan api unggun dengan obor yang sontak membuat malam penutupan semakin meriah.
“Hmm key! Hari minggu kamu biasanya sibuk gak?” teriak Devan di tengah keramaian akibat api unggun.
“Kamu mau mulai pendekatan ya?” tanya Keira ikut berteriak. Devan tersenyum menatap penuh arti ke arah Keira yang berusaha menahan senyum mendengar pertanyaannya.
__ADS_1
“Nggak mau?” tanya Devan menggerling jahil. Keira tertawa dan menoyor pelan pipi Devan agar berhenti menatapnya.
“Kamu kalau senyum kayak gitu mirip banget sama tipe playboy. Aku merinding liatnya,” bisik Keira tersenyum geli.
“Nggak apa-apa kalau sekarang kamu merinding liatnya, nantik juga lama-lama kamu berdebar kalau liat aku,” jawab Devan menggoda. Tawa keira lepas saat mendengar jawaban Devan yang terlalu percaya diri. Bisa dipastikannya kalau cowok ini belum pernah ditolak.
“Kalau aku berdebar sekarang gimana? Kamu mau tanggung jawab?” tanya Keira menggerling. Devan yang mengerti maksud Keira langsung menarik tangan Keira dan memeluknya.
__ADS_1
“Kenapa harus malam ini sih kita resminya?” bisik Devan kesal tiba-tiba. Keira yang mendengarnya langsung melepaskan diri dari pelukan hangat Devan dan menatap tajam cowok yang memasang wajah polos yang kini sudah berstatus sebagai pacarnya.
“Maksud aku, kan besok kita harus pisah. Aku nggak mau ikut aja deh,” ucap Devan menimang.
“Yaudah nggak usah ikut. Aku juga nggak yakin kamu bisa jaga hati kalau aku lepas ke gunung,” jawab Keira dan beranjak meninggalkan Devan. Devan yang baru sadar maksud ucapan Keira terkekeh pelan dan langsung mengejar cewek itu.
Berbeda dengan dua sejoli yang baru resmi itu, di lain tempat justru ada yang sedang patah hati. Fanny yang tidak berminat gabung di tengah acara memilih kembali ke tenda membereskan barangnya. Beberapa langkah lagi mendekati tenda, Fanny mematung melihat adegan di depan matanya. Tanpa bisa dicegah, air mata menetes tanpa disadarinya. Berusaha menahan sakit dan sesak di hati, Fanny memilih pergi membatalkan niatnya.
__ADS_1
Berakhir. Semua sudah benar-benar berakhir. Sudah tidak ada sedikitpun kesempatan buat dirinya, walaupun secuil. Sekuat apapun usaha yang dia keluarkan, tidak akan ada hasilnya kalau yang diusahakan tidak juga berusaha. Mungkin benar ucapan Keira, ini hanya obsesi. Tetapi, jika ini obsesi, kenapa sangat menyakitkan? Kenapa rasanya sulit menerima? Kenapa hanya melepaskan serasa mati rasa? Apa itu akibat obsesinya selama ini?.
Gue nggak bisa egois lagi, ini hanya akan sia-sia. Di sini hanya gue yang tersakiti, dia nggak! Gue udah nyerah, gue bisa lepas kontrol kalau tetap berusaha. Ini mungkin memang obsesi. Pasti setelah beberapa waktu semua hanya akan jadi masa lalu yang bahkan akan dilupakan. Lo hanya secuil kenangan indah buat gue bin… meskipun singkat dan menyakitkan, tapi juga ada hal yang menyenangkan. Tapi kalau gue tetap berusaha dapatkan lo, gue bisa jadi cewek bodoh. Dan apa yang gue lihat tadi, udah cukup buat yakinin diri gue buat lupain lo. Gue nyerah, untuk pertama kalinya dalam hidup, gue nyerah, batin Fanny tersenyum miris menjauhi tenda.