Cintaku Tak Bisa Dalam Diam

Cintaku Tak Bisa Dalam Diam
Jalan


__ADS_3

“Fan, lo beneran mau pulang?” tanya Keira pelan. Fanny yang sedari tadi diam dan menatap keluar jendela mobil, mengalihkan perhatiannya ke Keira yang duduk di samping kemudi.


“Iya, gue nggak enak badan kei. Gue udah izin sama kak Alex dan yang lain kok,” jawab Fanny tersenyum tipis. Keira yang melihat raut muka tidak baik-baik saja Fanny, tersenyum sebagai respon dan tidak kembali bertanya.


“Terus lo ngapain ikut-ikut pulang?” tanya Keira sebal ke arah Devan yang tersenyum tanpa menatap ke arahnya sama sekali.


“Aku udah mikirin semalaman yang. Dan aku rasa aku nggak akan bisa ikutin acara kalau pikiran dan hati aku selalu mikirin kamu. Jadi, aku batalin ikut nanjak dan lebih milih buat ajak kamu kencan besok malam, oke sayang?” jelas Devan tersenyum tanpa melirik ke arah Keira.


‘Bisa aja tuh mulut ngomong manis ya?” ledek Keira terkekeh pelan.


“Bukan manis, tapi ini keluar sendiri dari hati aku,” bantah Devan serius. Fanny yang sedari tadi hanya diam mendengarkan obrolan mereka, menggeleng heran mendengar topik aneh dua sejoli itu. Merasa ngantuk dan perjalanan masih jauh, Fanny memilih memejamkan mata mencoba untuk tidur.

__ADS_1


Tidak butuh waktu lama, Fanny sudah tidur. Keira yang sempat melirik ke belakang, tersenyum tipis melihat Fanny tertidur. Bukannya dia tidak tau kalau temannya itu ada masalah, hanya saja dia ingin memberi Fanny waktu buat berpikir sendiri.


“Sebenarnya apa sih hubungan Fanny dengan Bintang?” tanya Devan memecahkan lamunan Keira. Keira yang cukup terkejut dengan pertanyaan Devan, terdiam beberapa saat berpikir apakah lebih bak bercerita ke Devan atau tidak. Devan yang sadar apa yang sedang dipikirkan pacarnya, memelankan laju mobil dan menggenggam tangan Keira lembut.


“Kamu bisa cerita sama aku. Kalau kamu takut aku beberkan ke Bintang, kamu nggak usah takut. Aku nggak akan kasih tau Bintang kalau kamu nggak mau. Hanya saja, aku penasaran sama mereka. Apalagi tatapan Bintang ke Fanny itu beda banget. Ke Irene aja dia nggak pernan natap gitu,” yakin Devan tersenyum.


“Mereka nggak ada hubungan apa-apa, dan itu dia masalahnya. Fanny itu udah ngejar-ngejar Bintang dari masa SMA. Walaupun cuman ketemu beberapa kali, dan bahkan nggak saling kenal, dia jatuh cinta sama cowok itu. Aku nggak yakin sih, Fanny itu suka karena cinta atau hanya tertarik karena penasaran. Dan yang aku takutin itu, dia malah jadi obsesi ke Bintang karena rasa penasarannya. Aku takut dia salah mengartikan perasaannya. Dia itu luarnya aja nampak kuat, tapi dia itu rapuh. Sedari kecil dia nggak pernah benar-benar bahagia. Makanya aku takut dia terluka. Apalagi dia itu kalau udah ingin sesuatu, pasti susah buat nyerah,” curhat Keira pelan.


Mereka berteman sudah cukup lama, dan tentu saja Keira tau banyak tentang Fanny. Dia tau kalau selama ini senyum dan tawa Fanny tidaklah nyata semuanya. Apalagi sedari kecil orang tuanya tidak pernah memerhatikannya. Bagi orang tua Fanny, asalkan sudah memberi uang dan fasilitas lebih untuk Fanny, mereka kira sudah cukup membahagiakan Fanny. Dan Keira takut Fanny salah mengira jatuh cinta hanya karena ingin dicintai.


“Cowok aku bijak banget sih,” puji Keira mencubit gemas pipi Devan. Devan terkekeh membalas cubit pipi Keira.

__ADS_1


“Kamu mulai sekarang harus siapin mental kamu sayang. Karena mulai sekarang kamu bakalan aku bikin jatuh cinta lagi setiap lihat sisi aku yang belum kamu ketahui,” saut Devan bangga. Keira yang mendengar kalimat percaya diri pacarnya menggeleng tak percaya.


“Fan, gue mau jalan dulu ya. Lo mau nitip sesuatu nggak nantik?” tanya Keira di ambang pintu. Fanny yang seharian ini menghabiskan waktu di depan tv, menatap jengkel Keira yang mengganggu aktivitasnya.


“Nggak usah! Gue bisa delivery aja. Lo pergi sana, jangan ganggu gue,” jawab Fanny kesal. Keira yang hanya berniat bertanya, mendengus mendengar jawaban Fanny. Karena tidak ingin membuat Fanny makin kesal, akhirnya Keira pergi tanpa bersuara lagi.


Setelah mendengar suara pintu tertutup, fanny menghempaskan badan ke sofa. Ada perasaan tidak enak karena sudah menjadikan Keira korban emosinya. Lama Fanny hanya terdiam dan menatap langit-langit apartemennya, suara bel membuyarkan lamunan Fanny. Heran karena tidak ada janji bertamu, Fanny beranjak dengan sedikit kesal karena harus bergerak.


Saat pintu sudah terbuka, mata Fanny menyipit heran melihat siapa yang datang.


“Kakak ngapain? Kok bisa ada disini? Bukannya lagi nanjak ya” tanya Fanny heran melihat kak Alex berdiri di depannya dengan pakaian santai namun tidak mengurangi pesonanya.

__ADS_1


“Mau ngajak kamu jalan, mau?” jawab Alex datar.


“Ha?”


__ADS_2