Cintaku Tak Bisa Dalam Diam

Cintaku Tak Bisa Dalam Diam
Pengakuan Yang Telat


__ADS_3

“Wow! Keren banget nih pantai. Nggak nyesel deh ikut camping,” teriak Keira saat mereka sudah tiba di tempat.


“Jangan norak ya kei, malu gue,” bisik Fanny. Keira memutar bola mata dan langsung mengeluarkan kamera dari tasnya. Fanny terkekeh melihat tingkah temannya yang mulai berlari kesana kemari mencari spot bagus.


“Teman kamu kayaknya senang banget. Nggak ikut foto?” tanya Bintang yang ikut berdiri di samping Fanny. Fanny melirik sekilas ke samping dan menghebuskan nafas pelan mendapati Bintang ikut berdiri memandang Keira.


“Lagi nggak pengen foto aja,” jawab Fanny berusaha tersenyum tipis.


“Keira lucu ya, cocok banget kalau jadi sama Devan.” Fanny menunduk tanpa merespon ucapan Bintang. Bintang yang sadar tidak ada suara dari Fanny ikut terdiam.


“Gue nggak nyangka lo udah tunangan,” ucap Fanny akhirnya setelah terdiam beberapa saat. Bintang terdiam memandang Fanny lekat. Fanny langsung mengalihkan pandangan saat merasa matanya pedih ingin menangis.


“Kami dijodohkan. Biasalah, orang tua kami yang berulah,” jawab Bintang tanpa mengalihkan tatapannya dari Fanny.


“Hmm, tapi kayaknya kalian nggak ada masalah dengan perjodohan itu. Kalian kayaknya cocok banget, saling mengerti deh kayaknya,” sahut Fanny melirik sekilas Bintang.


“Jadi kayak gitu ya pandangan orang-orang terhadap kami,”


“sebenarnya, kami nggak terlalu akrab. Sudah 6 bulan semenjak kami tunangan. Tapi, kami bahkan nggak pernah kencan. Kami lebih kayak, mencoba terlihat akrab di depan semua orang,” ucap Bintang terkekeh.


“Udah 6 bulan, dan kalian belum pernah pergi kencan?” tanya Fanny heran.


“Iya, aneh ya? Saya jujur keberatan dengan perjodohan ini. Tapi, saya nggak punya hak buat nolak.”


“Kenapa nggak ada hak? Ini kan hidup lo?” tanya Fanny kesal. Bintang langsung tertawa melihat ekspresi kesal Fanny.

__ADS_1


“Kamu lucu ya, kok malah kamu yang kesal?” kekeh Bintang.


“I-Itu karena—“


“Nggak salah kok kamu kesal. Emang bikin kesal sih dengarnya,” potong Bintang.


“Jadi? Lo bakalan tetap diam dan menerima perjodohan ini?” tanya Fanny takut.


“Kenapa? Khawatir sama saya?” tanya Bintang terkekeh.


“Gu-Gue, Gue cuman—“


“Jujur ya, saya ini orangnya peka lo sama sekitar.” Fanny mengerutkan alis bingung mendengar jawaban Bintang.


“Saya juga tahu kalau kamu udah kenal saya dari lama. Saya juga tahu kamu nyari saya selama ini, tapi kamu nggak dapat hasil apapun. Saya tahu kamu masih suka saya sampai sekarang, benar kan?” tanya Bintang serius.


“Gue, gue nggak tahu harus jawab apa. Gue justru merasa ada yang aneh di sini,” jawab Fanny linglung.


“Aneh?” tanya Bintang. Fanny mengangguk pelan dan berusaha menatap mata Bintang.


“Aneh karena lo bisa tahu semuanya. Kalau lo tahu semuanya, kenapa lo nggak pernah muncul saat gue nyari lo? Terus kenapa bertingkah seolah kita baru bertemu akhir-akhir ini?” tanya Fanny lirih.


“Kalau saya jawab saya juga penasaran dan mencari tahu tentang kamu, kamu percaya?”


“Ha?” tanya Fanny heran. Bintang tersenyum tipis melihat wajah bingung Fanny.

__ADS_1


“Iya, saya juga suka kamu pada pandangan pertama. Pada pertemuan pertama kita yang diawali dari tragedi tabrakan, saya tertarik sama kamu. Saya tahu kamu nyari saya sampai keliling sekolah tiap jam istirahat. Tanpa kamu sadari saya melihat kamu diam-diam.” Fanny terkejut mendengar pengakuan Bintang sampai tidak tahu harus bicara apa. Bintang tersenyum tipis dan melanjutkan ucapannya saat Fanny tidak merespon apapun.


“Saya suka kamu, tapi saya juga pengecut. Saya nggak berani dekatin kamu terang-terangan. Kamu cinta pertama saya, jadi saya nggak tahu bagaimana cara mengungkapakannnya ke kamu. Dan saat mau kuliah, saya cari tahu kamu lanjut kemana. Dan saya memutuskan buat ikut kamu lanjut ke Jogja. Tapi, saat saya bilang ingin kuliah di kampus kamu, orang tua saya tidak setuju. Mereka suruh saya buat kuliah di kampus saya sekarang. Apa kamu tahu apa alasan mereka tidak setuju?” tanya Bintang lirih. Fanny menggeleng menatap sendu Bintang.


“Karena kata mereka, anak teman mereka kuliah di sana. Dan saya disuruh buat kuliah di sana agar bisa lebih mengenal dia sebelum kami menikah.” Air mata Bintang tanpa sadar jatuh saat teringat masa dimana dia harus terpaksa menyerah mengejar Fanny.


“Saya kacau saat itu. Saya kacau mikirin kamu yang bahkan belum saya dekati sekalipun. Kamu yang saya tahu juga suka saya, tapi saya nggak berani mendekat. Dan saat saya mau mendekat dengan cara satu kampus dengan kamu, saya justru harus dipaksa menyerah dengan keadaan.” Ucap Bintang pelan.


“Kenapa lo nggak coba bicarakan dengan orang tua lo kalau lo keberatan dengan keputusan mereka?” tanya Fanny terisak.


“Saya sudah bilangkan? Saya nggak punya hak buat nentang mereka fan,” jawab Bintang lirih.


“……”


“Saya tahu kedengaran jahat, tapi saya senang bisa dekat dan kenal kamu. Walaupun saya udah nggak bisa lagi dekati kamu dalam artian PDKT. Saya juga minta maaf udah lukai perasaan kamu, saya nggak bermaksud. Tapi, saya juga nggak mau kamu mendam dan terluka sendiri tanpa tahu perasaan saya yang sebenarnya buat kamu,” lanjut Bintang mendekat dan mengapus air mata Fanny.


“Terus sekarang apa? Lo mau gue apa bin? Lo mau gue buat nyerah bahkan sebelum gue berjuang terang-terangan? Lo mau nyuruh gue apa dengan pengakuan lo yang tiba-tiba ini?!” bentak Fanny menghempas tangan Bintang dari pipinya.


“Lo tau bin? Lo lebih kejam dari cowok yang selingkuhi pacarnya! Kita bahkan nggak ada hubungan apapun, tapi lo nyakitin perasaan gue tanpa ampun. Seharusnya lo nggak usah ngaku suka gue sekarang bin! Buat apa coba? Pengakuan lo nggak berguna sama sekali! Yang ada malah nyakitin gue yang udah lama berharap lo bisa gue miliki,” lirih Fanny semakin terisak.


“Seharusnya lo tetap pura-pura nggak tahu perasaan gue! Dengan begitu gue bisa mencoba move on tanpa tahu itu!” bentak fanny dan langsung beranjak pergi tanpa mau mendengar penjelasan Bintang.


Bintang tidak bergerak dan tetap diam tanpa berniat mengejar Fanny. Tanpa dia sadari, ada sepasang mata yang menyaksikan dan mendengar dengan jelas obrolan mereka. Setelah memenangkan pikiran, Bintang beranjak menuju rombongan.


Ini sudah berakhir bin! Lo udah nggak ada kesempatan buat dapatin Fanny lagi. Buat dekat juga nggak ada bin, lo harus terima kenyataan bin! Jangan memaksa kehendak lo! Ini udah berakhir, cinta pertama memang nggak selalu berakhir manis. Lo pasti bisa lupain dia akhirnya! Batin Bintang meyakinkan diri sendiri.

__ADS_1


__ADS_2