Cowok Dingin VS Cewek Bar-Bar

Cowok Dingin VS Cewek Bar-Bar
1-Awal Mula Terjadinya


__ADS_3

bughh!!


BUGH!


Seorang lelaki berbadan tegap meninju wajah preman yang mengganggu gadis di jalanan yang terbilang cukup gelap. "bangun lo bangsat!" ia menarik kerah baju lawannya lalu mendorongnya hingga preman itu tersungkur di aspal.


Setelah lawannya tak berdaya lelaki itu mencari perempuan yang ia tolong tadi. ternyata perempuan itu bersembunyi dibalik pohon besar, tubuhnya bergetar karena takut.


Lelaki tadi berjongkok di depannya. "Lo gapapa?"


Arania tersentak kemudian mengangkat wajahnya. "i-iya gue gapapa."


Mata Arania menatap wajah Gerald lalu meneguk Saliva-nya "gila! ganteng banget!!" jeritnya dalam hati.


"Ngapain lo liatin gue?" Terdengar nada ketus dari Gerald karena lelaki itu tidak suka dipandang seperti itu.


Arania tersadar dari lamunannya, "E-enggak kok! Makasih yaa udah nolongin gue."


Gerald hanya bergumam sebagai respon kemudian bangkit lalu berjalan menuju motornya.


"EHH!! LO MAU NINGGALIN GUE?!" Tanya Arania sambil berteriak.


"Berisik."


"Boleh minta tolong lagi ngga?" Tanya Arania sedikit ragu.


"apa?"


"anterin gue pulang, soalnya tadi gue ga bawa kendaraan." ujarnya sambil meringis.


Gerald diam sejenak lalu menjawab, "yaudah, ayo!"


"Makasis yaaa!!!!"


"gak usah teriak!" ucap Gerald jengkel karena perempuan itu suka sekali berteriak.

__ADS_1


Arania mengerucutkan bibirnya, "galak banget sih!"


Gerald diam tak menggubris ucapan Arania. ia memakai helm-nya kemudian menyalakan motornya. setelah motor menyala Arania langsung naik ke motor.


"Gue ga tau rumah lo."


Arania berdecak, "ntar gue arahin."


Gerald mendengar tanpa menjawab kemudian ia langsung melajukan motornya dengan kecepatan sedang. Angin yang dingin membuat Arania sedikit mengantuk, tetapi ia tidak boleh tertidur karena Ia sedang mengarahkan jalan rumahnya.


Setelah berlama-lama berada di motor Arania memilih turun dekat pos hansip kompleknya. Arania melepaskan helm yang dipakai tadi kemudian mengembalikan kepada Gerald. "Makasih ya!" Gerald mengangguk kemudian melajukan motornya meninggalkan Arania.


"dari mana neng malem-malem baru pulang?" tanya hansip yang sedang berjaga.


"tadi saya abis dari rumah temen jadi lupa waktu deh," Jawabnya berbohong tetapi dipercayai oleh hansip itu.


"saya pulang dulu ya, pak." pamit Arania kepada hansip tadi.


"iya neng,"


Arania berjalan menuju kerumahnya, sesekali ia melirik jam tangannya yang menunjukkan pukul 22:30 . Lampu sudah dimatikan pasti sudah pada tidur, pikirnya. Kemudian ia membuka pintu dan ternyata hanya lampu ruang tamu yang menyala disitu juga ada Kakak lelakinya sedang menatap Arania nyalang.


"Dari rumah temen, hehe," jawabnya sambil cengengesan lalu duduk di sofa.


"bohong. kemaren juga bilangnya kerumah temen. kesana aja terus, pulang malem gak ing–"


"Apa? Mau nyalahin gue? Lo gak tau kan tadi gue kenapa? gue digangguin preman dijalan sepi bang. Gue nelpon lo tapi gak di angkat-angkat, untung tadi ada yang nolong gue. kalo engga gak tau deh gimana nasib gue." Selak Arania cepat membuat Bryan diam.


"Maaf, hape gue mati. gue gatau kalo Lo nelpon gue. maaf." ujarnya menyesal.


Arania menghela napas, "iya, gapapa. Udah ah, gue mau ke kamar." ujarnya dibalas anggukan oleh Bryan.


Arania berjalan menaiki anak tangga, ia berharap kakak keduanya tidak melihat dia tapi harapannya tak terkabul karena kakaknya itu menatap Arania sinis


"ngapain pulang?" tanya Vanya sinis.

__ADS_1


Alis Arania terangkat sebelah, "kenapa? masalah buat lo?emang ini rumah punya Lo doang?"


Vanya geram lalu melayangkan tangannya berniat menampar Arania, tetapi ia kalah cepat Arania menghindar dan Vanya menampar angin. "Gak usah nyari ribut kak. dah malem mending lo tidur sana!" kata Arania lalu meninggalkan Vanya.


Arania mengunci pintunya kemudian berjalan menuju kamar mandi untuk mencuci muka dan buang air kecil. Kini ia keluar kamar mandi dengan wajah lebih fresh kemudian mematikan lampu kamar dan membungkus dirinya menggunakan selimut.


......***......


Berhubung hari ini libur, Gerald sedang berada di sebuah cafe, ia sedang berhadapan dengan laptopnya sembari menunggu pesanannya. Tak lama kemudian Caffe latte pesanannya datang. Ia sedang membaca pelajaran-pelajaran yang dicari melalui internet, sesekali meneguk minumannya.


Setelah selesai belajar ia melihat-lihat foto yang berada di laptop itu dan ternyata masih tersimpan satu foto perempuan yang pernah mengisi hari-harinya. Dengan berat hati ia menghapus foto itu kemudian menutup laptopnya.


Gerald beranjak kemudian menuju kasir untuk membayar pesanannya kemudian keluar dari cafe.


Dukk!


Ia tak sengaja menabrak gadis yang tingginya hanya mencapai sebatas dadanya.


Gadis tadi menggerutu dan memegangi keningnya yang berdenyut karena menubruk Gerald, "Lain kali kalo jalan liat-liat dong!" Ujarnya kemudian mengangkat wajahnya, matanya membulat sempurna, "Lo?Lo yang semalem nolongin gue kan?!" Pekik gadis itu, gadis itu adalah Arania.


"Ya." jawab Gerald singkat kemudian berjalan meninggalkan Arania, tetapi tangannya dicekal oleh Arania. Alis Gerald terangkat sebelah, "lepas."


"bentar deh! sini gue bisikin!!" Arania Menekan bahu Gerald agar tingginya sejajar kemudian mendekatkan bibirnya ke telinga Gerald, "Kalo besok kita ketemu lagi, berarti lo harus jadi cowok gue!" bisik Arania lalu tertawa.


"Cewek gila." tekan Gerald kemudian meninggalkan Arania.


"sembarang Lo kampret!"


Arania tersenyum senang saat bertemu Gerald, Pagi-Pagi dikasih liat cogan, pikirnya. Arania datang ke Cafe bukan untuk menongkrong seperti yang lainnya, tetapi ia bekerja disini.


Walaupun ia orang berada tetapi ia tidak mau menghamburkan uangnya hanya untuk bersenang-senang seperti kakak perempuannya. Terkadang ia sedih jika mengingat bahwa ia sudah menjadi yatim piatu, dan Abangnya juga terkadang lelah jika pulang bekerja. Uang yang dimiliki itu adalah hasil kerja Abangnya dan juga warisan dari ayahnya, jadi Arania tidak ingin menyusahi abangnya.


Ia masuk dengan perasaan senang kemudian melakukan pekerjaannya. Mungkin jika Abangnya tahu kalau Arania bekerja pasti ia akan dimarahi habis-habisan karena jika terlalu lelah ia akan sakit nantinya.


Arania ingin menjadi seperti almarhumah ibunya, Seorang wanita tangguh dan mandiri. Almarhumah ibunya adalah seorang desainer dan memiliki butik, Kalau Almarhum Ayahnya adalah seorang dokter bedah sekaligus pengusaha.

__ADS_1


Ibunya meninggal saat melahirkan Arania, Kalau ayahnya meninggal saat ia menduduki bangku kelas 3 SMP. Jika orang-orang melihat Arania sebagai sosok yang selalu ceria itu salah. Arania bersikap seperti itu untuk menutupi lukanya. Ia sosok gadis yang rapuh.


Gadis yang tak pernah merasakan hangatnya pelukan ibu.


__ADS_2