Cowok Dingin VS Cewek Bar-Bar

Cowok Dingin VS Cewek Bar-Bar
10- Jadi Pacarnya


__ADS_3

Arania sudah sembuh. Hari ini ia kembali bersekolah dengan hati yang gembira. Saat ia masuk ke kelasnya Arania diam kebingungan. Saat itu juga Sarah datang.


"Eh? Ra?! Lo udah sembuh?!" Pekik Sarah.


"Udah dongg. Btw, itu ditempat duduk gue tasnya siapa?" Tanya Arania.


Sarah memandang tas yang berada disamping tempat duduknya. "Kemaren ada anak baru. Terus dia disuruh duduk disitu."


Arania mengangguk paham. Sarah berjalan ketempat duduknya lalu memindahkan tas milik Athaya ke bangku kosong paling belakang. "Udah gue pindahin. Ayo duduk," ujar Sarah.


Arania menurut lalu menduduki kursinya.


"Eh Ra, semalem Gerald minta nomor lo ke gue. Dia ngechat lo?"


"Iya."


"Ngechat gimana?"


Arania diam. "Kalo gue ceritain lo ga bakal marah ke gue kan?"


"Mmm.. ngga kok,"


"Nanti gue disuruh pulang bareng sama dia. Katanya bunda dia mau ketemu sama gue,"


Dada Sarah terasa nyeri. Sejak ia berpacaran dengan Gerald belum pernah Gerald memberi tahu ke bunda kalau dia pacarnya. Yang bunda tahu Sarah hanyalah sahabat Gerald. Bukan pacar. "Ra.. bahagia terus ya sama Gerald."


Arania merasa tidak enak hati, seharusnya ia tidak menceritakannya tadi. "Tapi gue sama Gerald gak pac–"


"Lo spesial Ra." Sarah memotong ucapan Arania.


"Kok bisa?" Ucapan Arania memelan.


"Lo belum pacaran sama dia aja bunda mau ketemu sama lo. Dulu gue belum pernah denger Gerald ngajak gue kerumahnya karna bunda mau ketemu sama gue. Justru dulu gue yang mau ketemu bundanya."


Sarah tersenyum tipis. "Semoga Lo bisa secepatnya jadi pacar Gerlad ya. Lo dan Gerald sahabat gue. Lo dan Gerald bahagia terus ya?"


"Duh Sar.. Lo ga marah kan kalo gue suka sama Gerald?"


"Enggak kok. Gue cinta sama dia berarti gue juga harus bisa ikhlasin dia buat yang lain."


"Makasih ya Sar."


Sarah mengangguk. Athaya datang dengan raut wajah yang bingung.


"Loh?? Sarah, tas aku mana? Kok jadi dia yang duduk sini?"


"Tuh tas lo dibelakang."


Athaya melihat kebelakang lalu mengambil tasnya. "Eh kamu minggir dong! Ini kan tempat aku!" Athaya mengusir Arania.


Arania berdiri. "Sopan dikit kek," Arania memasang muka judesnya. Ia terganggu.


"Makannya kamu pindah!"


"Dih! Ogah banget! Orang gue duluan yang duduk sini. Lo aja yang pindah." Arania semakin geram.


"Kok kamu ngeselin sih?!"


"Lo yang ngeselin!"


Terjadilah adu mulut antara Arania dan Athaya.


"Udah dongg jangan berantem!" Teriak Sarah frustasi.


"Dia yang mulai bukan gue!" Bantah Arania.


"Kok aku?!"


Sarah melihat sekitarnya. Tidak ada yang mau membantu melerai, semuanya hanya asyik menonton.


"Emang lo yang mulai kok!"


"Kam–"


"KALIAN BERDUA KELUAR!" Semua orang dikelas itu terkejut karena kehadiran guru BK secara tiba-tiba.


"K-kenapa bu?"


"Kalian berdua keluar."


"Tapi bu–"


"Sekarang!"

__ADS_1


Arania menghela napas berat. Dia menatap Athaya tajam.


...***...


...S...


udah hampir setengah jam Arania dan Athaya berdiri di tengah lapangan dengan wajah yang memerah karena kepanasan. Arania sedang menggerutu sekarang.


Keduanya berdiri dengan berjauhan. Tiba-tiba seorang memasangkan topi ke kepala Arania dari belakang.


Arania menoleh ke belakang. "Gerald??" Jantungnya berdegup kencang.


"Hm."


Arania meneguk ludahnya. "Kamu kok disini? Emang udah boleh istirahat?"


"Boleh. Gue selesai duluan tadi."


"Ohh gitu."


Tiba-tiba Gerald menyelipkan anak rambut Arania ke telinga Arania, lalu menghapus buliran-buliran keringat yang membasahi kening Arania. "Panas banget ya?"


Arania jadi salting. "J-jangan gini." Ia sedikit meringis.


"Kenapa?"


"Nanti aku jadi makin baper hehehe,"


Athaya memandangi Arania dan Gerald kesal. Seolah-olah dilapangan ini hanya ada mereka berdua.


"WOY GERALD! NGAPAIN DISITU!" Dari lantai atas Nathan berteriak kencang.


Gerald, Arania, dan Athaya menoleh ke atas secara refleks. "Gue duluan. Nanti pulang sekolah lo tunggu aja di  halte depan sekolah." Ujar Gerlad kepada Arania.


"Siap!"


Hari ini Gerald tidak sedingin biasanya, ada yang berbeda darinya. Arania bingung tetapi juga bahagia karena Gerald semakin membuat Arania jatuh cinta.


Arania melirik Athaya, tetapi Athaya membuang muka.


...***...


Sekarang sudah waktunya pulang sekolah. Arania mampir ke kamar mandi sebentar hanya untuk sekedar bercermin.


"Kucel amat nih muka," ia bergumam.


Kemudian ia keluar lagi. Saat itu juga Gerald keluar dari kamar mandi laki-laki. "Rald!"


Gerald menoleh ke Arania. "Ayo," Gerald menghampiri Arania lalu merangkulnya.


"Dia kenapa sih?" Batin Arania.


"Ra?"


"Iya?"


"Masih suka sama gue?" Pertanyaan Gerald mampu membuat Arania gemetar.


"I-iya.."


"Jadi pacar gue mau?"


Arania berhenti jalan. "Serius? Tapi kemaren kamu nyuruh aku jauhin kamu,"


"Kemaren bercanda."


"Bercandanya jelek banget!" Gerutu Arania kesal.


"Udah jawab aja. Mau atau engga."


"Mau!"


"Mau apa?"


Arania memukul lengan Gerlad pelan. "Mau jadi pacar kamu lah!"


"Yaudah. Sekarang lo punya gue."


...***...


Mereka berdua sedang berada di perjalanan pulang.


"Rald, kamu udah nyari adik kamu?"

__ADS_1


"Belum."


"Kenapa ga nyari?"


"Besok aja. Lo mau ikut?" Gerald tidak juga mengubah gaya bicaranya. Menurutnya itu hal yang tidak terlalu penting.


Arania berpikir. "Kayaknya engga deh. Soalnya besok aku kerja,"


"Kerja?"


Arania mengangguk. "Iya. Kamu inget cafe yang pas kita ketemu yang kedua kalinya?"


"Inget. Lo kerja disitu?"


"Iya."


"Kenapa kerja? Bukannya lo orang kaya? Buktinya tinggal di komplek yang isinya rumah gede-gede semua."


Arania berdecak. "Emang orang kaya ga boleh kerja?"


"Boleh-boleh aja. Tapi kenapa dari sekarang?"


"Karna ga mau nyusahin abang. Kasian dia kalo pulang mukanya capek banget. Apalagi dia juga masih kuliah, kadang aja dia tidur jam empat pagi terus jam setengah enam udah bangun. Istirahatnya keganggu."


"Lo punya kakak berapa?"


"Dua."


"Kalau adik?"


"Ngga punya. Aku kan anak terakhir."


"Nanti kerumah aku dulu ya? Mau bersih-bersih dulu. Boleh kan?" Lanjut Arania.


"Iya boleh," Gerald tetap fokus ke arah depan.


Mereka kembali diam, terhanyut dengan pikirannya masing-masing. Akhirnya Gerald kembali berbicara.


"Aneh ya Ra? Padahal waktu itu gue udah bilang benci sama lo. Tapi sekarang? Gue malah ngajak lo pacaran. Kemarin pas lo ga masuk sehari aja gue udah bingung."


"Namanya juga manusia. Hatinya bisa berubah-ubah kapan aja."


...***...


"Ikut masuk ngga?" Arania keluar dari mobil Gerald. Kini mereka sedang berada di depan rumah Arania.


"Ga."


"Yaudah tunggu bentar ya?"


Gerald mengangguk kemudian Arania pergi meninggalkannya. Jika dilihat-lihat dari depan, rumah Arania sama besarnya dengan rumah Gerald. Biasanya Gerald hanya mengantar sampai pos hansip saja, tidak ke depan rumah Arania seperti sekarang.


15 menit kemudian Arania keluar dengan keadaan lebih rapi dan juga wangi.


"Lama ya?"


"Ngga."


...***...


"Ini rumah kamu?" Arania menganga melihat rumah Gerald yang besar itu. Padahal rumahnya juga besar.


"Iya. Yuk masuk," sebenarnya Gerald agak takut-takut karena salah satu mobil Jeep terparkir didepan rumahnya. Itu mobil pamannya, orang yang selalu melarang Gerald dekat dengan keluarga Arania. Gerald menggenggam tangan Arania erat.


Mereka berdua masuk. Dan benar saja, disitu ada pamannya yang sedang duduk di sofa ruang tamu. Gerald semakin mengeratkan genggaman tangannya, seolah-olah takut kehilangan Arania.


Paman menatap Gerald dan juga Arania, kemudian beralih menatap genggaman tangan itu. "Gerald baru pulang? Itu siapa?" Tanya paman sambil tersenyum ramah ke Arania lebih tepatnya pura-pura.


"Saya Arania om,"


"Oh Arania. Yaudah saya pamit pulang dulu," Paman tersenyum lagi ke arah mereka berdua.


"Ngeri banget anjir," Batin Arania saat menatap paman.


Setelah paman pergi. Gerald langsung menghampiri Bunda. "Bunda gapapa kan?"


"Kok nanya nya begitu? Bunda Gapapa kok," ujar bunda kemudian menatap Arania. "Ini Arania?"


"Iya tante. Saya Arania." Jawab Arania sambil tersenyum ramah.


"Panggil bunda aja." Ujar bunda.


"I-iya bunda."

__ADS_1


Lalu mereka mulai berbincang-bincang . Gerald hanya menyimak kedua wanita yang ia sayangi. Ternyata bunda menyambut Arania hangat.


......***......


__ADS_2