
Gerald sedang berada disofa depan televisi yang menyala. Bukan Gerald yang menonton TV itu, tetapi TV yang menonton Gerald. Lelaki itu berbaring disofa dengan kaki terangkat sebelah. Pikirannya memutar kejadian di sekolah tadi. Kenapa tiba-tiba dia mengaku kalau Arania adalah pacarnya? Dan kenapa ia tidak suka melihat Arania disakiti orang lain? Ah, memikirkannya saja sudah membuat dia pusing.
"Kamu kenapa melamun terus? Lagi mikirin apa?" Tanya Bunda Gerald.
Gerald tersadar dari lamunannya, "ngga mikir apa-apa kok bunda," jawabnya berbohong.
Rumah besar ini hanya ditempati oleh 3 orang yaitu Gerald, Bunda, dan pembantunya. Sejak kepergian ayahnya keadaan rumah menjadi sepi, tak ada candaannya.
"Andai ayah kamu masih ada disini. Pasti ga bakal sepi gini," ujar bunda sedih.
Gerald mengubah posisinya menjadi duduk, dia tidak bisa melihat bundanya sedih. "Bunda ga usah ngerasa sedih, bunda masih punya aku."
Bunda tersenyum menatap Gerald, "iya. Kamu bener. Bunda masih punya kamu, cuman kamu yang bunda punya sekarang. Bunda bersyukur bangett punya kamu, jangan pergi dari bunda, ya?"
Gerald mengangguk yakin, "iya bunda,"
"Gerald,"
"Ya bunda?"
"Sebenernya ada sesuatu penting yang harus kamu tau,"
Gerald menatap bunda serius, "apa bunda?"
"Kamu itu pu–"
Ting tong
Ting tong
Ting tong
"Permisi paket!" Suara seseorang dan bel berbunyi berkali-kali membuat Gerald mendengus kesal, ia sudah tahu siapa pelakunya. Siapa lagi kalau bukan kedua temannya itu? Nathan yang hobi memenceti bel rumah Gerald dan Adit hobi menirukan kurir pengantar paket. Rasanya ingin sekali Gerald menenggelamkan mereka di rawa-rawa.
Bunda berdiri berniat membukakan pintu ditahan oleh Gerald, "aku aja yang bukain pintunya," ujar Gerlad dibalas anggukan oleh bunda.
Gerald berjalan dengan langkah malas kemudian membuka pintunya.
"Apa benar ini rumah bapak Gerald Sanjaya?" Tanya Adit bercanda, Nathan disampingnya juga tertawa melihat muka kesal Gerald.
"Saya ga pesen apa-apa. Lebih baik anda pergi dari rumah saya." Ujar Gerlad
"Baru dateng diusir, ngajak gelut?" Tanya Nathan sambil menampilkan otot-otot lengannya.
Adit melotot lalu memencet-mencet otot lengan Nathan, "keras njir! Ajarin bikin ginian dong,"
Nathan tersenyum senang, "santai, nanti gue ajarin. Perhari bayar lima ratus ribu doang kok, ga mahal."
"Sialan! Dahla gue ga jadi berguru ama lo," ujar
"Yaudah lo bayar empat ratus sembilan puluh sembilan ribu aja. Udah murah kan?"
__ADS_1
"Murah gigi lo gendut!" Adit semakin kesal sedangkan Nathan tertawa terbahak-bahak.
Gerald menatap mereka malas, "cepet masuk. Kalo lama gue tutup."
Adit dan Nathan masuk kerumah Gerald dan disambut baik oleh bunda.
"Ehh ada Nathan sama Adit. Gimana kabarnya, nak?" Tanya bunda sambil tersenyum ramah.
Nathan dan Adit menyalimi tangan bunda bergantian, "baik kok bun!" Jawab mereka kompak. Sejak pertama kali mereka main di rumah Gerald, bunda menyuruh mereka memanggil dengan sebutan bunda bukan tante.
"Mau dibuatin minum apa nih?" Bunda menawarkan minuman kepada anak-anak itu.
"Sirup aja bun, kalo boleh sama cemilan hehehe," Ujar Adit sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal.
"Ohh boleh dongg. Kalo Nathan mau minum apa?" Tanya bunda lagi.
"Air putih dingin juga gapapa kok bun," Jawab Nathan. Sebenarnya dia juga ingin minuman yang manis-manis beserta camilan. Tetapi ia tidak mau dicap sebagai tamu yang tidak tahu diri.
"Oke, sebentar ya,"
Setelah bunda pergi ke dapur, Nathan dan Gerald menatap Adit heran.
"Rald, temen lo bener-bener malu-maluin deh," ujar Nathan menatap Adit kemudian Gerald.
"Temen lo, bukan temen gue." Jawab Gerald bercanda tetapi nadanya terdengar serius.
Adit memutar bola matanya malas. "Gue tau Than, Lo pengen sirup juga kan? Lagian kan bunda nawarin. Ga enak kalo gue tolak,"
"Ya kaga lah! Gua ngejar dia dari jaman SMP terus baru empat bulan pacaran masa gue putusin," Jawab Nathan.
Adit manggut-manggut kemudian beralih kepada Gerald, ia memicingkan matanya curiga. "Kalo Lo ada hubungan apa sama adek kelas itu?"
Gerald menatap Adit malas, "ga ada."
"Masa? Boong lu ya? Kok tadi lo bilang dia pacar lo?" Adit mulai kepo sekarang.
"Kapan?"
"Tadi."
"Tadi kapan?"
Adit berdecak kesal, "tadi anjir! Pas dia digangguin sama Naya ama Rachel."
"Dia siapa?" Lagi-lagi pertanyaan Gerald membuat Adit emosi.
"Arania, anjrit!"
"Oh. Cuman nolongin dia doang." Jawab Gerald jujur.
Nathan yang sejak tadi hanya menyimak sekarang dahinya mengernyit. "Sejak kapan lo peduli sama cewe yang ga lo kenal? Kecuali Sarah ama bunda,"
__ADS_1
Gerald diam, ia bingung harus menjawab apa karena ucapan Nathan ada benarnya. Biasanya ia tampak masa bodo jika ada perempuan yang sedang dibully di sekolahnya.
"Nah kan, kicep," kemudian Adit dan Nathan tertawa.
"Lagi ngobrolin apa sih? Kayaknya asik banget," Bunda datang sambil membawa nampan berisi minuman beserta bolu pisang yang tadi sempat dibuat oleh bunda.
"Gerald punya pacar tau,bun!" Ujar Adit memanas-manasi Gerald. Tampaknya Gerald tidak terpancing emosi.
"Wahh! Bener itu sayang?" Tanya bunda kepada Gerald.
Gerald menjawab dengan santai, "engga kok bun,"
"Gerald bohong tuh,bun!"
Gerald mendelik tajam kearah Adit, "Lo yang bohong."
Adit meringis ketakutan sementara Nathan berusaha menahan diri agar tidak tertawa karena melihat wajah Adit.
Bunda menghela napas pelan, "udah jangan berantem, itu bolu nya dimakan."
Gerald mengambil dua potong bolu tersebut lalu berjalan menuju lemari es. Ia mengambil minuman bersoda-nya kemudian meneguknya sampai habis.
Bunda melongo melihat Adit yang memakan bolu dengan begitu lahap. "Bolunya kurang banyak bunda!" Nathan melotot melihat Adit. Ah, tamu yang tidak tahu diri, pikirnya begitu.
Bunda tertawa kecil, "iya, besok bunda bikin yang banyak,"
...***...
Setelah teman-temannya pulang, Gerald membantu bunda merapikan gelas-gelas tadi. Kemudian, ia balik ke sofa dan bersandar.
Melihat bunda yang ingin menaiki tangga Gerald buru-buru menahannya. "Bunda tunggu!"
"Tadi bunda mau ngomong apa?"
Bunda diam sejenak, "sebenernya kamu punya adik, Gerald."
Gerald mematung, matanya mengarah ke bunda. Tidak ada kebohongan yang terlihat, tetapi kesedihan. "Kenapa aku gak pernah tau?"
"Dulu ayah ngelarang bunda buat ngasih tau. Karena ayah tau sejak kecil kamu itu orangnya nekat, ayah takut kamu kepikiran, terus kamu nyari dia sendiri. Tapi sekarang kamu udah besar,jadi bunda baru kasih tau sekarang."
"Terus kenapa dia gak serumah sama aku?"
"Dia dibawa pembantu lama kepercayaan bunda, dulu bunda juga ga tau dia dibawa kemana. Dan sekarang bunda udah tau dia dimana."
"Kamu mau kan, cari dia?" Lanjut bunda penuh harapan.
"Dia sekarang dimana, bunda?"
"Panti asuhan tempatnya jauh dari sini. Nanti bunda kasih alamatnya ke kamu,"
......***......
__ADS_1