
Arania sedang sarapan pagi bersama kakak-kakaknya, ia makan dengan lahap seraya tersenyum-senyum sendiri membuat kakaknya bingung.
"Lo apa-apaan sih, Ra?!" Vanya menatap Arania dengan tatapan aneh.
"apaan dah? gue aja lagi makan." jawab Arania lalu melanjutkan makannya.
"Ga usah senyum-senyum gitu bisa ga?!"
"Lo kenapa sih kak?! emang salah kalo gue senyum-senyum?! emang itu ngerugiin lo?!" kata Arania kesal.
"Lo kayak orang gila tau gak?!"
"Emang kenapa kalo gue gila? masalah buat lo?"
Vanya ingin menjawab tetapi Bryan menahannya. "Lo berdua itu kenapa sih gak bisa akur?" Tanya Bryan heran.
"Karna gue benci Arania!" Jawab Vanya marah, Arania dan Bryan mematung.
Arania meletakkan Sendok dan garpu-nya kemudian beranjak dari kursi sembari menggendong tas nya. Ia lelah dengan sikap Vanya, mengapa kakaknya begitu membencinya? memikirkan hal itu membuat Arania pusing. lebih baik ia berangkat sekolah lebih awal agar bertemu Gerald.
Bryan melihat Arania berdiri di depan pagar lalu menyusul adiknya. "Ayo berangkat."
Arania menoleh ke belakang, "gak usah, gue sendiri aja."
"kenapa?"
"udah deh bang. mending lo nganterin Mak Lampir itu!"
"Dia kakak lo."
"TAPI DIA GAK NGANGGEP GUE ADIKNYA!" Bentak Arania.
Bryan menghela napas, ia harus extra sabar jika menghadapi kedua adiknya. "Udah ayo berangkat nanti telat,"
Arania mengiyakan saja lalu berjalan kedalam rumahnya menuju mobil yang belum dikeluarkan dan meninggalkan Bryan sendiri di depan pagar. "UDAH AYO!" Teriak Arania agar Bryan berjalan cepat.
Sementara itu, didalam rumah Vanya kesal dengan Arania. Vanya memilih menghubungi pacarnya agar menjemput dirinya.
......***......
Arania sudah sampai di sekolah beberapa menit yang lalu, ia mengeluarkan kotak bekalnya untuk diberikan kepada Gerald, ia membuat nasi goreng seafood. Karena waktu masuk masih lama, Arania mencari Gerald sekarang.
Arania mencoba mencari Gerald dikelasnya tetapi sosok Gerald tidak ada dikelas. Tiba-tiba Arania merasa bahunya ditepuk dari belakang lalu ia menoleh. "Nyari siapa?" Tanya lelaki berpostur tubuh tinggi.
"Nyari Gerald."
Lelaki itu manggut-manggut, "Kenapa nyari Gerald? ada perlu apa?" Tanya Lelaki yang bername-tag Nathaniel Mahendra.
"Lo temennya ya?"
"Iya."
Arania menyodorkan kotak bekalnya, "ini kasih dia nanti ya. Jangan dimakan!"
__ADS_1
Nathan menerimanya, "et dah! suuzon aja lo."
Arania tertawa, "ya kali aja lo laper terus pengen. Udah ah gue mau ke kelas dulu." Katanya lalu berbalik badan meninggalkan Nathan.
"WOY NAMA LO SIAPA?!" Tanya Nathan saat Arania sudah menjauh.
"ARANIA PUTRI ADIWIDYA, KELAS X IPA 3!" balasnya tak kalah kencang.
Setelah mendapat jawaban Nathan mengacungkan jempolnya lalu masuk kedalam kelas. "Wih! pagi-pagi udah dapet makanan dari cewek!" Kata salah satu temannya yang bernama Aditiya Nugroho.
Nathan menduduki kursinya lalu memasukkan kotak bekal tadi kedalam meja Gerald. "Bukan punya gue." ujar Nathan memberi tahu.
"Punya Gerald?dari siapa? dari Sarah?" Tanya Adit ingin tahu.
"bukan."
Dahi Adit berkerut, "Lah? dari siapa?"
"Anak kelas X IPA 3 juga. Namanya Arania, temennya Sarah juga kali." Jawab Nathan.
Adit mengangguk paham, tak lama kemudian Gerald datang hari ini ia datang lebih telat daripada biasanya.
"Tumben bener lo telat?" Tanya Nathan.
"Ban bocor." Jawab Gerald singkat, ia melirik Kearah Adit. Lelaki itu sedang tersenyum jahil menatap Gerald kemudian bersikap biasa saja tanpa mau menatap Adit lagi.
Adit terus menatap Gerald, lebih tepatnya ke kolong meja Gerald. "ciee punya cewek baru, enak ye pagi-pagi udah dapet makanan tanpa minta," goda Adit membuat Gerlad menatap bingung.
"Lo dikasih makanan tuh, tadi. gue taro dikolong meja lo." Sahut Nathan cepat, seolah mengerti apa yang dipikirkan Gerald.
...Dari Arania untuk Gerald...
dimakan yaa bekelnya!! gue bikin dari jam 4 subuh lohh!! masa ga di makan? semoga Lo suka yaaa!!
Gerald meremas kertas tersebut lalu mengoper bekal yang diberikan Arania kepada Nathan, "Buat Lo." Ujar Gerlad lalu memasukkan kertas tadi kedalam kantong celananya.
"Kenapa ga lo makan? itu kan bekel buat lo." Ujar Nathan kebingungan, Adit menatap Nathan malas kemudian merebut kotak bekal tersebut. "Lama lo, Than! Mending gue makan." ucap Adit kepada Nathan.
"Yeee! mauan lo kampret!"
"Emwang Araniwa udwah jwadi pwacwar lu?" Tanya Adit sambil mengunyah makanannya tadi.
"Telen dulu napa!" Ujar Nathan kesal.
"Gue ga kenal dia, dia bukan siapa-siapa gue, dan gue juga ga mau kenal dia." ujar Gerlad sambil menatap lurus kedepan.
...***...
Dikelasnya, Arania sedang berpikir apakah masakannya enak atau tidak. "Kalo ga enak gimana ya? tapi tadi udah pas kok rasanya," kata Arania bermonolog.
Ia membayangkan Kalau nanti Gerald datang dan memuji masakannya. membayangkannya saja sudah membuat Arania mesem-mesem, andai ia tahu kalau makanannya tidak dimakan oleh Gerald pasti ia langsung uring- uringan.
Salah satu teman sekelasnya menatap Arania aneh, "Ra! ngapain lo senyum-senyum gitu? gue jadi ngeri!" Kata Kafka sambil tertawa geli.
__ADS_1
"Ada deh!"
"Pasti lagi jatuh cinta ya?" Ujar Kafka dengan senyum jahilnya.
"Kok tempe?!"
"Wihh lagi jatuh cinta sama siapa tuh?" Tanya Kafka kepo.
"Sama lo aja gimana?" Jawab Arania bercanda membuat salah satu siswi yang menyukai Kafka tersedak.
"Bercanda Kaf," Ujar Arania merasa tidak enak.
"Sans aja Ra," Sahut Kafka.
Tak lama kemudian guru bahasa Indonesia datang membawa setumpuk kertas yang diyakini kertas ulangan, seisi kelas menegang karena tak tahu akan ada ulangan.
"Bu, hari ini ulangan?" Tanya Arania was-was.
"Enggak, ini pengumuman dari kepala sekolah." Jawab Bu Novi.
Seisi kelas menghela napas lega karna tidak jadi ulangan mendadak.
...***...
Arania berjalan di lorong sekolah untuk mencari Gerald, Arania melihat Gerald bersama teman-temannya dari jarak jauh kemudian berlari menghampiri mereka.
"Geraldd!!" Panggil Arania sambil berlari.
Merasa namanya dipanggil Gerald pun menoleh, karna sosok yang memanggilnya itu Arania ia berbalik badan.
"Lah kok balik?" Tanya Adit bingung.
Gerlad diam tak menggubris pertanyaan Adit, ia memasuki dua tangannya kedalam kantong celananya.
"GERALD KOK KABUR SIH?!" Teriak Arania, Dia mempercepat larinya.
Adit dan Nathan menatap mereka heran.
Kini Arania tepat berada dibelakang punggung Gerald sambil mencekal seragam Gerald dari belakang, "Jangan cepet-cepet dong! Capek tauuu!!" Kata Arania sambil mengatur napasnya.
"Suka-suka gue." Jawab Gerald tanpa menoleh ke belakang.
"Madep sini dong!" Perintah Arania. Gerald membalikkan badannya dan menatap Arania dingin.
"Ada apa? kalo ga penting ga usah ngejar gue." ujar Gerlad.
Arania mendongak menatap Gerald yang lebih tinggi darinya, "Bekel yang tadi gue kasih udah lo makan?" Tanya Arania sambil berharap Gerald menjawab 'iya'.
"Gue kasih Adit tadi. Lo ngejar gue cuma mau ngomong itu? ga penting banget. Buang-buang waktu." Ujar Gerlad.
Arania meneguk Saliva-nya, "t-tapi kan, gue bikin buat lo. kenapa dikasih ke orang lain?" Tanya Arania menahan sakit dihatinya.
"Gue ga laper. besok-besok ga usah ngasih, percuma." Ujar Gerlad lalu meninggalkan Arania.
__ADS_1
"Jangan nyerah, Ra! Lo bisa! pasti bisa!" Batinnya berseru.