Cowok Dingin VS Cewek Bar-Bar

Cowok Dingin VS Cewek Bar-Bar
7-Panti Asuhan


__ADS_3

Selama disekolah Gerald hanya diam, lebih cuek daripada biasanya, bahkan belajar pun tidak fokus. Ia terus memikirkan adik kandungnya yang belum pernah bertemu sebelumnya.


Sekarang sedang jam istirahat pertama. Adit sedang melancarkan aksinya mengganggu teman-teman sekelas.


"Lo ngapain sih? Dari tadi bengong mulu," sungut Nathan kesal.


"Berisik."


Nathan berdecak kesal, "mikirin utang ya, lo?"


Gerald diam tak menggubris pertanyaan Nathan.


"ADITTTT!! BALIKINN BEKEL GUEEE!!" Teriakan kesal berasal dari Alya perempuan paling cantik dikelas Gerald.


"Jadi pacar gue dulu!"


Alya menekuk alisnya kesal, "Gak! Apaansi!"


"Yaudah, gak gue balikin,"


"Balikinn cepetannnn!!!"


"Jadi pacar gue dulu makannya,"


"Gak mau ya gak mau! Pacaran aja sana sama Nadia!" Adit melotot mendengar Alya menyebutkan nama Nadia, Si cewek culun yang seringkali dibully.


"Ihh ga mau ga suka gelayy!" Alya memandang Adit dengan tatapan jijik.


Nathan tertawa, "jangan nolak gitu Al, nanti bisa aja lo yang kepincut sama temen gue,"


"Diem lo!"


"Galak bener njir," gumam Nathan pelan.


"Adittt cepetan balikinn, gue laperr..." Suara Alya terdengar ingin menangis.


"Eh? Jangan nangis dong, nih gue balikin," Adit menyodorkan kotak bekal milik Alya.


Alya menerimanya kasar, ia masih kesal dengan Adit.


Adit kembali ke tempat duduknya, ia masih memperhatikan Alya yang sedang memakan bekalnya. Gadis itu terlihat cantik dengan rambut panjang yang tergerai.


"Kedip Dit, kedip," Nathan terkekeh melihatnya.


Adit menoleh kearah Nathan kemudian menyandarkan punggungnya ke kursinya.


Adit menghela napas, "gue suka dia, tapi rasanya susah banget buat digapainya." Ujarnya kemudian menatap Alya kembali.


"Kenapa?" Tanya Nathan sedangkan Gerald diam menyimak.


"Dia anak konglomerat, sedangkan gue? Gue anak orang ga punya, buat makan sehari-hari aja kadang kurang.  Temenan sama lo berdua aja kadang gue ngerasa minder, takutnya nanti lo ga bakal mau temenan sama gue lagi." ujar Adit terus terang.


Gerald menegakkan punggungnya, " jadi, lo mikir kalo gue sama Nathan temenan sama lo cuma pura-pura?"


"B-bukan gitu maksud gue. Gue takut aja lo berdua malu punya temen miskin kayak gue,"


"Lo mau tau kenapa gue mau temenan sama lo? Karna lo tulus. Gue juga ga pernah ngerasa malu punya temen kayak lo. Berhenti ngerendahin diri lo sendiri." Kemudian Gerald berdiri dari kursinya dan berjalan keluar kelas.


Gerald sedikit kecewa dengan sahabatnya, bisa-bisanya Adit berpikir seperti itu.


Gerald menaiki tangga yang mengarah ke rooftoop sekolah. Dia mengambil kursi yang tidak terpakai disitu. Ia diam memikirkan adik kandungnya sembari menikmati angin yang berhembus.


Seorang gadis dengan rambut terkuncir terkejut melihat keberadaan Gerald, ia juga mengambil kursi yang tidak terpakai dan meletakkannya disamping Gerald.


Gerald menoleh ke kanan karena merasa ada seseorang yang mendekat kepadanya.


"Hai, ngapain disini?" Tanya Arania sambil menatap wajah sempurna milik Gerald.

__ADS_1


"Urusannya sama lo apa?" Ujar Gerlad ketus.


Arania menatap ke depan, "gapapa sih, tumben aja kamu disini. Biasanya disini sepi," ujar gadis itu.


"Ngapain lo ngikutin gue?" Tanya Gerald sangat percaya diri.


"Hah? Siapa yang ngikutin? Engga kok! Aku udah biasa disini, hampir setiap jam istirahat malahan." Jawabnya jujur.


"Kamu lagi banyak pikiran ya? Mikirin apa?"


"Yang pasti bukan mikirin lo." Jawab Gerald masih ketus, mungkin berbeda lagi jika mengobrol dengan Sarah, pikir Arania.


"Iya tau kok. Siapa tau aku bisa ngeringanin beban pikiran kamu," ujar Arania.


Gerald merogoh kantong celananya lalu mengeluarkan kertas berisi alamat panti asuhan. "Lo tau tempat ini?" Gerald menyodorkan kertas tersebut.


Arania menerima lalu membaca dengan teliti kemudian ia mengangguk yakin, "iya. Aku sering kesini sama abang." Ia mengembalikan kertasnya kepada Gerald.


"Lo bisa ikut gue nanti."


Mata Arania berbinar, "beneran? Kamu ngajak aku?"


"Ya."


"Kamu gak bohong kan?"


"Kalo ga percaya yaudah. Ga usah ikut."


Arania terbelalak, "percaya kok percaya! Jadi kapan?"


"Pulang sekolah."


...***...


Bel pulang sekolah berbunyi. Seluruh murid bersorak riang tak terkecuali Arania. Gadis itu tersenyum sumringah.


"Lo kenapa sih?" Sarah memandang Arania bingung.


Arania hanya menggelengkan kepalanya. Perjalanan masih berlanjut hingga mereka sampai di depan gerbang sekolah.


"Mau bareng ga?" Tawar Sarah ketika sudah didalam mobil.


"Engga, gue pulang sendiri."


"Ohh, yaudah gue balik dulu ya."


"Iya hati-hati."


Arania menunggu Gerald dengan sabar, ia mengeluarkan ponselnya lalu menelpon Bryan.


"Halo bang?"


'iya? Kenapa?'


"Aku nanti ga langsung ke rumah."


'Lah? Mau kemana?'


"Mau belajar kelompok,"


'lama?'


"Hngg, ga tau deh,"


'yaudah. Gua tutup telponnya ya?'


"Iya."

__ADS_1


Arania kembali memasukkan ponselnya kedalam tas. Tak lama kemudian Gerald datang dengan mobil hitamnya.


"Masuk." Titah Gerald.


Arania mengitari mobil Gerald. "Nanti lewat tol aja gimana? Soalnya kan lumayan jauh," ujarnya kemudian menutup pintu mobil.


Gerald hanya bergumam. Cuaca siang ini cukup terik, Gerald melihat buliran-buliran keringat dipelipis Arania.


Gerald mengambil tissue yang didepannya kemudian memberikannya kepada Arania.


Arania memperhatikan tissue tersebut, "buat aku?"


Gerald berdecak kesal, "bukan. Buat pak satpam."


Dahi Arania mengernyit bingung, "kok ngasihnya ke aku?"


Kemudian Gerald menarik tangan Arania tak sabar. "Kan, emang buat lo." Ujarnya.


Jantung Arania berdegup kencang, pipinya memerah seperti kepiting rebus. "Makasiihhh calon pacarrrr!!!"


Gerald memandang kesal Arania. "Jangan mimpi. Gue ga bakal jadi pacar lo." Ujar Gerlad lugas.


"Kalo hari ini ga jadi pacar kamu, Berarti besok bisa dong?"


"Diem." Gerald mulai melajukan mobilnya menjauhi sekolah.


Arania menurut karena takut diturunkan oleh Gerald. Duduk bersebelahan seperti ini saja sudah membuat Arania senang, apalagi jika duduk berdua di pelaminan.


Keduanya hanya diam, hanya suara musik mengalun dari radio mobil. Arania bernyanyi tanpa sadar, suaranya nyaman untuk didengar. Gerald ingin memuji Arania, tetapi gengsi nya terlalu besar.


D


itengah perjalanan Arania hampir lupa untuk izin bekerja. Buru-buru ia mengambil ponselnya yang berada didalam tas ranselnya kemudian mengetikan pesan yang ingin dikirim ke teman kerjanya.


Tiba-tiba Gerald mengerem mendadak membuat dahi Arania terpentok dashboard mobil, ponselnya juga jatuh untungnya tidak rusak.


"Kamu kenapa?" Tanya Arania sambil mengusap-usap dahinya.


"Hampir nabrak kucing." Pandangannya tetap lurus kedepan, nampaknya Gerald juga masih terkejut.


"Yaudah lanjut jalan aja,"


Gerald kembali melajukan mobilnya.


...***...


Sekitar dua jam diperjalanan akhirnya mereka berdua tiba di panti asuhan, Arania sedikit kelelahan tetapi rasa lelahnya hilang saat ia memandang wajah tampan Gerald. Benar-benar bucin.


Salah satu anak kecil yang sedang bersepeda melihat keberadaan Arania dan Gerald sangat senang kemudian meninggalkan sepedanya dan berlari menghampiri mereka, lebih tepatnya hanya ke Arania. "Kak Araaa!!!" Teriak bocah itu.


Arania dan Gerald menoleh ke sumber suara itu. Mata Arania membulat dan tersenyum gembira. "Lila, sini sayang!" Arania berjongkok dan merentangkan kedua tangannya.


Bocah itu langsung menyambut pelukan hangat Arania, "kangennn..." Ujar bocah berumur empat tahun itu sambil memeluk Arania erat.


"Kakak juga. Kamu udah makan belum?"


Lila mengangguk cepat, "Udah! Tadi aku makan pake ayam goreng! Enakkkk bangettt!!" Kedua matanya berbinar.


"Ayo deh kakak ikut Lila!" Lanjut Lila sambil menarik-narik tangan Arania. Arania menurut kemudian meninggalkan Gerald sendiri, seakan jika ia berangkat bersama Gerald.


Gerald pun menyusul Arania, ia bertanya dimana keberadaan pengurus panti.


Setelah bertemu, Gerald buru-buru menanyakan tentang adiknya. "Bu, saya mau tanya. Ibu pernah ngurus dia gak?" Tanya Gerald sambil memberikan foto adiknya.


"Ini... Ini Rangga. Iya, saya yang ngurus dia. Kalau boleh tau, kamu siapanya ya?" Tanya ibu panti itu.


"Saya kakak kandungnya."

__ADS_1


...———...


__ADS_2