Cowok Dingin VS Cewek Bar-Bar

Cowok Dingin VS Cewek Bar-Bar
14-Tawa & Air Mata


__ADS_3

Dua bulan berlalu.


Hubungan Arania dan Gerald sudah membaik, itu yang membuat Arania merasa bahagia. Arania melirik nilainya di rapotnya lalu menghembuskan napas panjang.


"Gue dapet peringkat satu, tapi Abang malah belom bangun. Padahal biasanya dia yang paling semangat ngeliat nilai-nilai adiknya." Arania menyeka air matanya. Hal itu yang membuatnya sedih, Bryan belum juga membuka matanya.


Ting!


Arania mengambil ponselnya kemudian membuka aplikasi hijaunya.


...Gerald Sanjaya...


ga usah nangis, Lo jelek kalo nangis.


Napas Arania tercekat, "Kok dia tau kalo gue nangis?" gumamnya pelan.


Kemudian ia membalas pesan dari Gerald.


^^^ga nangis kok, sok tau deh kamu.^^^


"Ga usah bohong, gue ada di belakang lo." Gerald menatap Arania datar.


"Astaghfirullah." Napas Arania tersendat-sendat, ia kaget.


"Kok bisa disini?" tanya Arania.


"Tadi gue kesini, kebetulan kakak Lo ada di luar kata dia Lo nangis makannya gue kesini." Tutur Gerald.


"ohh, terus kamu kesini mau ngapain?"


"Lo siap-siap, abis ini kita jalan-jalan."


Kedua alis Arania terangkat, "Mau kemana?"


"Udah siap-siap aja, nanti juga tau."


"Hmm oke. Kamu tunggu di bawah aja."


Gerald bergumam lalu pergi menuruni tangga menuju motor yang diparkiran di pekarangan rumah Arania sambil menunggu. Gerald sedang memperhatikan kakaknya Arania yang sedang menyiram tanaman menggunakan selang.


"Kok makin kecil sih airnya?" Gerutu Vanya sebal, dia menatap lubang selang itu sampa airnya kembali mengalir.


"HOOOHHH.... OH MY GOD! BAJU GUE JADI BASAH KAN!" Vanya marah-marah saat air itu menyembur ke wajahnya.


Gerald yang sedang memperhatikan itu menahan tawanya, selera humor Gerald itu memang rendah. Vanya melirik sekilas ke arah Gerald, "Ngapain lo nahan ketawa gitu?! Gak gue restuin sama adek gue mau Lo?!" ujar Vanya galak.


Gerald langsung mengubah raut wajahnya menjadi datar, Selang beberapa detik Arania membuka pintu. Gerald terpesona melihat Arania, ia tersenyum tipis. "Kamu cantik banget." puji Gerald.


Arania tersipu, "Makasih,"


"kimi cintik bingit" Vanya menye-menye sambil mematikan kran air.


Arania dan Gerald saling bertatapan. "udah sekarang aja yuk," Arania mencolek lengan Gerald .


Gerald mengangguk sembari menyodorkan helm, "Pake nih,"


Arania memandang helm itu. "Nanti aja ya?"


Pandangan itu beralih ke Gerald.


Menghela napas, Gerald langsung memasangkan helmnya ke kepala Arania. "Pake sekarang ya sayang? biar selamat."


Arania menahan senyumnya sampai wajahnya memerah, pada akhirnya Arania tertawa geli. "aaaa perhatian bangett pacar akuu,"

__ADS_1


Gerald tersenyum, "ayo naik,"


...***...


"GERALD!"


"APA?"


Mereka berdua sedikit berteriak saat berbicara, karena jalanan sore ini sangat ramai dan juga suara motor sport Gerald membuat berisik.


"ANTERIN AKU KE MAKAM DULU BOLEH GA?"


"IYA."


sampai di makam Arania langsung pergi membeli bunga. Gerald menunggu Arania sambil melihat sekitar, matanya menyipit saat melihat sosok mencurigakan masuk ke dalam makam. Wajahnya tak terlihat karena tertutup masker dan kacamata hitam. "penampilannya mencurigakan banget, tapi kenapa gue ngerasa nggak asing sama gerak-gerik dan postur badannya?" kata Gerald dalam hati.


"Gerald ngeliatin siapa?" Arania tiba-tiba menepuk pundak Gerald membuat Gerald terkejut.


"hah? enggak kok. ayo masuk." Jawab Gerald.


Arania berjalan di depan Gerald menuju makam ayahnya. Ia mulai menaburkan bunga yang dibelinya tadi kemudian berdoa, ia menyeka air matanya yang membasahi pipinya.


Selesai berdoa di makam ayahnya, ia langsung pergi ke makam ibunya yang letaknya tak jauh dari tempat ayahnya. Alisnya bertaut saat melihat seseorang dengan pakaian serba hitam meletakkan bunga di makam ibunya, "permisi, maaf anda siapa ya?" Tanya Arania hati-hati.


"ini bukannya orang yang tadi?" Ujar Gerald dalam hati.


orang itu tersentak kemudian berdiri dan meninggalkan tempat itu. Arania menatap bunga yang diletakkan orang tadi, bunga yang diletakkan itu adalah bunga akasia kuning. "kenapa bunga akasia? maksudnya apa?" Batin Arania.


...***...


Pergi ke pantai adalah tujuan Gerald sejak tadi, waktu sudah menunjukkan pukul empat sore, Sangat memakan waktu banyak untuk pergi ke tempat ini.


Mata Arania berbinar, "ini serius kita pergi ke pantai?" senyuman senang terbit dari Arania.


Arania mengangguk, "iyaa, tapi kita makan dulu yuk!"


Gerald menggandeng erat tangan Arania, "Kita beli nasi goreng seafood disana aja mau kan?"


"Mau aja yang penting kenyang." jawab Arania.


Mereka berdua berjalan beriringan, Arania tersenyum melihat sekelilingnya. "Gerald, kamu suka pantai juga ya?"


"iya. Kenapa emangnya? Lo juga suka kan?"


"Suka banget, soalnya dengerin suara ombak plus nikmatin semilir angin gitu rasanya tenang."


"Indah banget ya ciptaan tuhan."


"Iya."


Mereka berdua masuk ke dalam restoran kemudian memesan makanan beserta minuman untuk di nikmati.


Arania dan Gerald duduk memilih duduk dekat kaca agar dapat makan sambil menikmati pemandangan yang indah.


"Siapa ya orang yang tadi di makam bunda?" gumam Arania masih terdengar oleh Gerald.


"Bunga akasia kuning bukannya melambangkan cinta yang terpendam ya?" Batin Gerald kemudian ia mengambil ponselnya sambil mencari makna bunga akasia kuning. Gerald memencet artikel tentang akasia kuning. "kan bener, melambangkan cinta yang terpendam." ujar Gerlad dalam hati lagi.


Tak lama kemudian pesanan mereka datang. "Silahkan di nikmati."


"Makasih mba." Arania tersenyum sekilas.


"Rald,"

__ADS_1


"kenapa Ra?"


"Kira-kira orang tadi siapa ya?"


Gerald diam sejenak, "udah gak usah dipikirin."


Arania menghembuskan napas kecewa. "Yaudah deh."


"Gerald."


"Makan dulu Arania, jangan ngomong terus." Gerald menatap Arania jengah.


"hehe iya-iya."


......***......


Arania berjalan bersama Gerald di bibir pantai. Saat air mengenai kaki Arania, pasti ia terkejut.


"Pengen berenang."


"Emang lo bawa baju ganti?"


"enggak." Arania menyengir.


Arania duduk di hamparan pasir kemudian diikuti oleh Gerald. "Rald cita-cita kamu apa?"


"Dulu mau jadi pilot."


"Terus kalo sekarang?"


"Mau jadi suami lo."


Perut Arania terasa ada yang menggelitiki. "Hahaha kamu diajarin siapa kayak gitu?" Arania tertawa geli dengan pipi yang memerah seperti kepiting rebus.


"Gue serius Ra. Lulus SMA nanti gue janji bakal ngelamar lo."


Arania tersenyum lembut. "Bisa-bisanya kamu bikin aku makin cinta gini." Pandangannya beralih menatap langit senja yang berwarna orange keemasan dan digradasi warna ungu violet, sangat indah.


"Langitnya indah ya Ra? Kayak senyum Lo."


Lagi-lagi Arania dibuat terbang oleh Gerald.


"Hp Lo bunyi tuh."


Arania mengambil ponselnya yang berdering. "Halo? Kenapa kak?"


"Lo ke rumah sakit sekarang. Abang udah bangun."


Air mata bahagia keluar dari sudut mata Arania . "Iya."


"Rald, langsung ke rumah sakit yuk. Abang udah bangun."


...***...


Arania berlari menuju ruang dimana abangnya dirawat. "Abang?"


"Ra? Sini." Bryan memanggil.


"Kangen banget." Arania memeluk Bryan sambil menangis.


"Vanya dimana?" Tanya Bryan, tatapannya kosong kedepan.


Napas Arania tercekat, "I-itu kak Vanya di belakang aku. Coba aja Abang liat." Keringat dingin mulai membasahi pelipisnya. Vanya juga sama dengan Arania, bingung.

__ADS_1


Bryan tersenyum. "Gelap Ra. gak kelihatan."


__ADS_2