
Arania mengintip Gerald sedang bermain basket di lapangan. Lelaki itu tidak bersama teman-temannya. Arania melihat Gerald yang tampak lelah berinisiatif membelikan air minum.
Ini jam istirahat, banyak orang-orang sedang berlalu-lalang di depannya.
Bruk!
Tak sengaja ia menabrak salah satu kakak kelasnya yang sedang membawa semangkuk bakso. Arania panik karena kuah bakso yang masih panas tersebut mengenai tangan serta seragam seniornya.
"Aduhh!!! Lo punya mata gak sih?! Tangan gue jadi perih gara-gara lo! Seragam gue juga jadi kotor!!"
"M-maaf kak, gue ga sengaja." Ujar Arania gugup.
Kemudian tangan Arania ditarik paksa oleh seniornya, Orang-orang sekitarnya hanya menonton tanpa menolong.
Arania dibawa ke gudang sekolah, tubuhnya dihempaskan kasar sehingga punggungnya terkena meja rusak. Arania meringis kesakitan.
Plak!
Pipinya ditampar kencang sehingga memerah, "LO KIRA DENGAN LO MINTA MAAF SERAGAM GUE BISA LANGSUNG BERSIH?!" Seniornya itu berteriak tepat di depan wajahnya. Kemudian ia mencari gunting membuat Arania ketakutan.
"L-lo m-mau ngapain?" Tanya Arania was-was.
Setelah mendapat gunting ia segera berjalan menuju Arania, "Cuma mau gunting seragam lo doang kok." Jawabnya sambil tersenyum seperti psikopat.
"Jangan..." Lirih Arania, badannya terasa lemas sehingga tak mampu menghindar.
Seniornya itu tak mengindahkan ucapan Arania, ia menggunting rok Arania sehingga pahanya terpampang jelas. Dia beralih ke baju Arania, sayangnya pintu gudang tersebut lupa ia kunci seseorang membuka pintu kencang.
Sarah datang, Sarah marah pada seniornya itu. "LO APAIN TEMEN GUE HAH?!!" bentak Sarah, Dia menarik tangan kakak kelasnya kencang seperti apa yang dilakukannya tadi kepada Sahabatnya.
Brak!
Sarah mendorong kakak kelasnya ke tembok lebih kencang daripada yang dirasakan Arania tadi.
"Berani banget lo sama kakak kelas!" Bentak seniornya.
Plak! Plak!
Sarah menampar pipi kanan dan kiri kakak kelas tersebut dua kali lebih kencang, dadanya naik turun karena marah. "Gini ya kelakuan kakak kelas? Bukannya jadi contoh yang baik buat adik kelasnya tapi malah ngebully!" Ujar Sarah dengan nada tinggi.
Sarah membaca name-tag kakak kelas tersebut, "Dea Lorenza? Manusia tapi sifatnya lebih ke hewan bukan manusia. Lo tunggu aja, gue pastiin besok lo ga ada lagi disekolah ini." Ucapan Sarah membuat Dea panas dingin.
"Mumpung pintu masih kebuka mending lo keluar." Perintah Sarah dingin.
Setelah Dea keluar, Sarah menelpon salah satu sahabatnya. "Halo? Kamu bisa ke gudang sekolah gak? Bantuin aku." Tanya Sarah.
__ADS_1
"Iya."
Setelah mendapat jawaban ia mematikan teleponnya, Sarah berjalan menuju Arania. "Ra? Masih sakit?" Tanya Sarah cemas.
"Kepala gue pusing." Jawab Arania. Suaranya sedikit serak, kemudian ia mencoba berdiri tetapi ia malah pingsan.
Sarah tersentak, "Ra?! Kok pingsan?! Bangun dong!!" Sarah menepuk pipi Arania.
Tak lama kemudian sosok yang ditelpon Sarah tadi datang, "Kenapa Sar?" Tanya-nya pelan.
"Bantuin, dia pingsan. Aku ga kuat angkatnya."
Orang itu sedikit terkejut karena yang pingsan adalah Arania. "Kenapa lo lagi?" Batinnya. Orang itu Gerald.
"Jaket kamu siniin! Buat nutupin paha dia, aku mau ke ruangan kepala sekolah dulu." Kata Sarah.
Gerald menutupi paha Arania kemudian mengangkat tubuh Arania untuk membawanya ke UKS.
Hati Sarah sedikit tergores melihat Gerald menggendong sahabatnya, tetapi ia tidak boleh egois karena sahabatnya sedang terkena musibah. Sarah menatap punggung tegap Gerald yang sudah menjauh, ia tersenyum pedih. "Kenapa ngelupain kamu rasanya susah banget Rald? Semoga nanti kita bisa bersatu lagi, tapi kalo engga akuĀ harap suatu saat nanti kamu bakal dapet pendamping yang lebih baik daripada aku." Gumam Sarah.
Sesampainya di UKS, Gerald meletakkan Arania di brankar. UKS tampak sepi, tiba-tiba ponselnya berdenting. Sarah menyuruh Gerald menemani Arania hingga gadis itu sadar.
Mata Gerald beralih kepada Arania, Gadis itu tampak kacau sekarang. "Dia kenapa?" Batin Gerald.
Kemudian ia menggelengkan kepalanya sadar karna sedang memikirkan Arania.
...***...
Sekitar tiga puluh menit Gerald berdiam diri di UKS, Sarah tak kunjung datang membuat Gerald sedikit kesal.
Tiba-tiba Sarah datang dengan napas tersengal, "hhh... Ternyata jalan dari ruang kepala sekolah kesini bikin capek juga ya,"
Gerald menatap Sarah dingin membuat Sarah takut. "Maaf ya?" Ucap Sarah, ia melihat tatapan kesal dari Gerald.
"Kenapa?" Tanya Gerald wajahnya masih dingin.
Sarah meringis, "maaf karna udah bikin kamu nunggu lama. Padahal aku tau kalo kamu ga suka nunggu lama-lama." Ujarnya sambil menyengir.
"Iya, udah ya, gue mau ke kelas." Ucap Gerald lalu beranjak dari kursinya.
"Gerlad," panggil Sarah.
"Kenapa Sar?"
"Apa kita masih bisa kayak dulu lagi?" Tanya Sarah, tatapannya berubah sendu.
__ADS_1
Gerlad mematung, 3 detik kemudian ia tersenyum lalu memegang pundak Sarah. "Enggak Sar, Lo pantes dapetin cowok yang lebih baik. Lo cantik, lo pinter, Lo baik, banyak yang mau sama lo. Lupain gue ya? Semoga bahagia, gue sayang sama lo."
Jawaban Gerald membuat harapan Sarah redup seketika, "Susah banget rasanya ngelupain kamu Rald, tapi aku bakal berusaha ngelupain kamu kok. Rald? Boleh ga kalau aku peluk kamu? Sekali ini aja abis itu ngga lagi,"
Gerald mengangguk kemudian memeluk Sarah terlebih dahulu, "Makasih ya Rald, Makasih karna pernah ada disamping aku terus." Ucap Sarah kemudian melepaskan pelukannya.
"Tapi kita masih bisa sahabatan kan, Rald?" Tanya Sarah.
"Iya."
Mereka berdua tak sadar kalau Arania mendengar semuanya, bahkan ia menahan tangisnya. "Pantes aja kamu nolak aku mulu, ternyata ada yang istimewa ya?" Batin Arania.
Setelah Gerald pergi Arania membuka matanya, "eh? Udah bangun, masih pusing ga Ra?" Tanya Sarah.
"Engga kok, udah mendingan." Jawabnya.
"Yaudah yuk ke kelas!"
...***...
Sesampainya di rumah Arania baru sadar bahwa ada jaket yang terikat menutupi pahanya, "punya siapa?" Gumam Arania.
Ia masuk ke kamarnya lalu melepas jaket tersebut, ternyata ada nama sang pemilik jaket disitu.
Gerald Sanjaya.
Mata Arania membulat, "demi apa sih? Ini punya Gerald? Berarti dia yang nolongin gue dong?!" Pekiknya.
Arania merebahkan tubuhnya sambil memeluk jaket Gerald, "ditolongin Lo aja gue seneng banget!"
Tiba-tiba pintu terbuka membuat Arania terkejut lalu merubah posisinya menjadi duduk.
"Ihhh Abang kebiasaan deh, kalo masuk ga ketok pintunya dulu!" Ucap Arania kesal.
"Padahal tadi gua udah manggil lu juga. tapi lo diem aja yaudah gue masuk," Sahut Bryan.
"Yaudah. Kenapa manggil gue?"
"Makan dulu sana jangan langsung tidur. Ntar maag lo kambuh,"
Arania mengangguk lalu berjalan keluar, tetapi Bryan memanggilnya. "Ra! Sini dulu!"
Arania menghela napas berat kemudian menghampiri Bryan, "kenapa?"
Sebelumnya Bryan melihat-lihat sekitarnya takut ada Vanya yang melihatnya, "ini uang buat lo. Gue tau kalo setiap lo mau berangkat ke sekolah pasti uang lo diambil ama Vanya,"
__ADS_1
"Aaa makasiihhh abanggggg!!" ucap Arania kemudian memeluk Bryan erat.
"Iya sama-sama."