Cowok Dingin VS Cewek Bar-Bar

Cowok Dingin VS Cewek Bar-Bar
9- Satu Hari Tanpa Arania


__ADS_3

Hari ini Sarah duduk sendirian tanpa teman. Guru kelasnya sedang keluar sebentar karena sedang ada kepentingan, suasana kelas menjadi sangat ramai. Ada yang bermain game dipojokkan kelas, bermain bola menggunakan botol minum , ada juga sekumpulan siswi yang sedang bergosip.


Sarah enggan untuk ikut bergosip jadi ia memilih diam ditempatnya.


"WOI! WOI! BU IDA DATENG WOI!" Seru salah satu lelaki yang menjadi satpam dadakan.


"DIA JUGA BAWA MURID BARU DEH KAYAKNYA!" Lanjutnya.


"Cewek atau cowok?" Tanya Kafka setelah semuanya duduk.


"Cewek, cakep lagi!" Sahut temannya. Tak lama kemudian Bu Ida datang bersama murid baru yang sejak tadi disebut-sebut.


"Anak-anak, hari ini kita ada murid baru. Ibu harap kalian mau berteman sama dia. Nak, kamu perkenalkan diri dulu ya,"


Perempuan itu mengangguk kemudian mulai memperkenalkan diri. "Hai semuanya, kenalin nama aku Athaya Laurencia. Salam kenal ya!" Perempuan itu tersenyum manis membuat para laki-laki dikelasnya terpana, tetapi ada juga yang tidak peduli.


Sarah menegakkan punggungnya, ia merasa tidak asing dengan nama itu. Ia mencoba mengingat kembali nama itu.


7 tahun yang lalu...


Sarah sedang kebingungan karena topi yang harus ia pakai saat upacara menghilang.


"Kamu nyari apa?" Tanya Gerald saat melihat sahabatnya itu kebingungan.


"Topi aku hilang!"


"Aku cariin dulu ya?" Ujar Gerlad kemudian pergi dari tempat itu.


Tiba-tiba seorang gadis kecil seusianya itu menepuk pundak Sarah dari belakang. "Nama kamu Sarah Angelica bukan?"


"Iya, kenapa?"


Gadis itu menyodorkan topi berwarna merah putih itu kepada Sarah. "Ini topi kamu, tadi jatuh terus aku ambil deh."


"Makasih ya," Ucap Sarah kemudian mengambil topinya.


Gadis itu mengulurkan tangannya, "Nama aku Athaya Laurencia. Oh iya, yang cowok tadi itu siapa?" Yang Athaya maksud adalah Gerald.


"Sahabat aku, kenapa memangnya?"


Pipi Athaya bersemu, ia mengulum senyumnya. "Dia ganteng ya?  Dia kelas berapa?"


"Dia kelas 4. Kenapa?" Sarah agak sensi sekarang.


"Aku suka deh!"


Muka Sarah menjadi merah karena kesal. "Oh." Ia pergi begitu saja meninggalkan Athaya yang masih bersemu.


"WOI SARAH!" Sarah terkejut setengah mati karena seluruh kelas meneriaki namanya.


"I–– iya?! Kenapa?" Jantungnya berdegup begitu kencang karena keterkejutannya.


Bu Ida menggelengkan kepalanya pelan, "Athaya, kamu duduk disebelah Sarah dulu untuk sementara ya,"


"Ohh, iya bu."


Wajah Sarah menjadi kusut, padahal Athaya tidak berbuat apa-apa.


"Nama kamu siapa?"


"Sarah Angelica." Jawab Sarah tanpa menatap Athaya.


Athaya mengangguk kemudian melepaskan tasnya, sepertinya ia lupa dengan Sarah.


Jam pelajaran berlanjut. Sarah sama sekali tidak bersuara.


...***...


"Sarah, kamu istirahat sama siapa?"


Sarah yang sedang memasukan bukunya kedalam tas berhenti. "Kenapa?"


"Istirahat bareng aku mau gak? Sekalian biar aku tau isi sekolah ini."


Sarah ingin menolak tetapi tidak enak, jadi ia memilih mengiyakan ajakan Athaya.


"Ayo," Selesai memasukan buku, Sarah langsung mengajak Athaya.


Banyak yang memperhatikan mereka berdua tetapi hari ini Sarah tidak menanggapi mereka.


"Lo mau pesen sendiri atau gue pesenin?" Tanya Sarah saat mereka sampai di kantin.


"Pesenin aja deh."


Athaya mengambil uangnya kemudian memberikan kepada Sarah. "Nih uangnya,"


Sarah mengambil lalu pergi menuju tukang soto. Saat itu juga ia berpas-pasan dengan Gerald. Sarah tersenyum tipis dan dibalas juga oleh Gerald.

__ADS_1


"EKHEM!!" Adit mengacaukan suasana.


"Keselek lo?" Nathan terkekeh.


"Iya njir, keselek duren."


Gerald memandang temannya malas.


"Eh kok tu orang sendiri aja dah? Biasanya sama Arania," ujar Nathan.


Gerald baru sadar kalau hari ini ia belum juga bertemu Arania.


"Iya juga ya? Lo ga kangen Rald?"


Gerald menatap Adit tajam. "Gak."


...***...


Arania kangen Gerald.


Itu yang dirasakan Arania sekarang. Gadis itu masih berbaring di kasurnya. Suhu badannya sudah agak mendingan tetapi ia menjadi lemas setelahnya.


"Aaaa kangennn diaaa...." Ujar Arania sambil memejamkan matanya.


"Dia siapa?"


Arania terkejut lalu langsung duduk. Abangnya sungguh membuat dia terkejut. "Ee.. a-anuu! K-kangen temen-temen!"


"Bohong kan?"


"Enggak kok! Gak bohong!"


Bryan memutar bola matanya malas. "Terus kenapa garuk-garuk jidat?"


Arania diam ia tidak bisa menjawab. Akhirnya ia jujur. "Kangen gebetan,"


Bryan yang sedang berdiri di ambang pintu kemudian mendekati adiknya. "Apaan dah? Gua ga denger."


"Kangen gebetan," ujar Arania, pipinya memerah seperti kepiting rebus.


"Bujug deh! Gue aja belom punya!"


Arania tertawa. "Cari dong bang,"


"Males. Pengen seneng-seneng sendiri dulu,"


"Udah sembuh?"


"Iya nih, udah."


...***...


"Jadi kamu belum ketemu dia?" Bunda mengambilkan minum untuk Gerald.


"Belum,"


Ada sorot kecewa dimata bunda. "Tapi aku dikasih alamat dia yang sekarang kok bun," lanjut Gerald. Tak ingin bunda kecewa.


Bunda tersenyum senang. "Syukur deh kalau begitu. Kamu ke panti asuhan sama siapa kemarin?"


Gerald menghentikan tangannya yang ingin menyuap makanan. "Temen."


"Nathan sama Adit? Atau Sarah?"


"Bukan bunda,"


"Terus siapa?"


"Arania."


"Cewek?"


Gerald mengangguk lalu mengambil air minumnya.


"Besok ajak dia kesini,"


Gerald terkejut tapi tidak sampai tersedak air yang diminum. "M-mau ngapain bunda?"


"Bunda mau kenalan."


...***...


Setelah makan, Gerald langsung masuk ke kamarnya. Ia memikirkan ucapan bunda. Gerald mengambil ponselnya lalu mengetikan sesuatu.


Sarah


Online

__ADS_1


^^^Sar^^^


Iya, kenapa?


^^^Minta nomernya Arania boleh?^^^


Buat apa?


^^^Ada urusan.^^^


Iyadeh boleh. Bentar ya


👤Arania


^^^Makasih^^^


Setelah itu Gerald mengirimkan pesan kepada Arania. Perempuan itu sedang online.


Arania


Online


^^^Ra.^^^


^^^Bsk plg sklh jgn lgsg plg.^^^


Elu siapa anjrot?


^^^Gerald^^^


Hah? Demi apazi? Bohong ah!


^^^Bnr^^^


MASA SIH?😳


^^^Y^^^


Kenapa emang ga boleh langsung pulang?


^^^Bunda w mau ktmu^^^


Dirumahnya Arania langsung melompat-lompat kegirangan.


"HUAAA DEMI APASIIII?!!!!"


"ARANIA BERISIK!" Teriak Vanya dari kamar sebelah.


"Iya kak maaf!! Gue lagi seneng nihh!"


"SUKA-SUKA LO AJA, RA!"


"Bundanya Gerald mau ketemu??? Berarti gue???"


"OMAIIGAAATTTT!!!!"


"GUEE DIRESTUINNN AAAAA!!"


BUGH


Sebuah bantal mendarat di wajah Arania. "Berisik lo!" Teriak Vanya sebal.


Arania langsung memeluk kakaknya erat-erat. "GUE SENENG BANGETT!!"


"JANGAN TERIAK DIKUPING GUE ANJIR!"


Arania tak peduli. Ia melepaskan pelukannya kemudiab menyodorkan ponselnya ke wajah Vanya. "Nih! Lo harus liat kak!"


Vanya membaca pesan Arania dan Gerald. Dahinya berkerut bingung. "Dia siapa?"


Arania mengulum senyumnya malu-malu. "Calon pacar." Ujarnya berbisik.


Vanya meneguk Saliva-nya. "I-itu bundanya m-mau ketemu sama lo?"


Arania menangguk semangat. "Iyaa!! Gue aja gatau kenapa tiba-tiba bundanya mau ketemu gue! Jangan-jangan..." Ia menggantung ucapannya.


"Apa?"


"Jangan-jangan Gerald bilang kalo gue pacarnya!"


"HUAAA!! PENGENNNN!" Pekik Vanya.


Mereka berdua tak sadar bahwa Bryan sedang memperhatikan mereka. "Udah teriak-teriaknya?"


Arania dan Vanya menoleh kompak. "E-eh? Abang belom tidur?"


"Masih nugas. Lo pada berisik jadi keganggu."

__ADS_1


Vanya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. "Hehe maaf."


__ADS_2