Cowok Dingin VS Cewek Bar-Bar

Cowok Dingin VS Cewek Bar-Bar
13- Asing


__ADS_3

Dua orang laki-laki keluar dari mobil bersamaan, keduanya terlihat mirip hanya saja rambut yang membedakannya. Dia Gerald dan Rangga, kakak dan adik yang terpisah 18 tahun lamanya.


Seluruh orang yang disekitarnya terpaku saat melihat Gerald dan Rangga, ada juga yang teriak histeris. Rangga memandangi sekolah barunya, Lebih besar dan juga lebih bagus dari pada sekolahnya yang lama. Jika dulu ia berangkat sekolah berjalan kaki, sekarang ia bebas ingin menggunakan kendaraan apa saja. Rangga tidak pernah menyangka kalau ternyata dia anak orang kaya.


"Ayo ke kelas." Ajak Gerald.


...***...


"Diem aja Ra dari tadi. Kenapa lo?" Ujar Sarah saat temannya terlihat murung.


"Gerald kemarin marah sama gue."


"Lah kenapa?"


"Gara-gara salah paham. Terus chat gua gak dibales dari pulang sekolah kemarin."


"Salah paham kenapa?"


Arania menahan napas 2 detik sambil melirik Kafka kemudian menghembuskan napasnya, sepertinya ia belum bisa menceritakannya kepada Sarah. Sarah seakan paham dengan Arania kemudian berujar, "kalo gak bisa cerita sekarang lain kali juga gapapa."


"Maaf ya Sar,"


Gerald melewati kelas Arania, ia melihat Arania yang sedang menatap kosong ke depan. Gerald hanya menatap, tidak menyapa. Intinya Gerald masih marah.


Saat Gerald dan Rangga masuk kelas, Adit dan Nathan terlihat kebingungan. "k-kok kembar?" Adit menghentikan kegiatan menulisnya.


Gerald terkekeh geli melihat kedua temannya kebingungan. "Dia adik gue."


"Hah? Sejak kapan lo punya adik?" Gantian Nathan yang bertanya sambil menutup buku PR nya.


Adit menggeplak tangan Nathan. "Gue belom selsai nyonteknya goblok,"


"Lagian pake lupa segala." Gerutu Nathan kesal.


Adit cengengesan. "Weh, Lo ga mau kenalan sama gue?"


Rangga mengulurkan tangannya. "Rangga."


"Rangga Sanjaya." Tambah Gerald.


"AAAAAA!!! NATHANNN TOLONGINNNN!!" Keempat laki-laki itu terkejut saat mendengar jeritan ketakutan dari Sabrina. Nathan kemudian berlari keluar, "Kenapa Sab?!"


"INIIII!! DIPUNDAK AKU ADAA KECOAAAA!! CEPET TOLONGINN!"


Nathan melihat kecoa yang berada di pundak Sabrina. "HIHH! Ogah ah, gue takut!"


"IHH CEPETAN NANTI DIA KE MUKA AKU!" Tiba-tiba Rangga menyentil kecoa itu. Tapi, Kecoa itu malah terbang ke kepala Nathan.


Nathan mematung ditempat kemudian tubuhnya ambruk. Nathan Pingsan Adit tertawa. "otot gede tapi ketempelan kecoa pingsan," ujar Adit diselingi tawa. Nathan itu trauma sama kecoa. Dulu pas umurnya 8 tahun di komplek rumahnya ada fogging untuk nyamuk demam berdarah, nah kan lama-lama banyak kecoa keluar. Pas Nathan main, ada 3 kecoa nempel di tubuhnya, jadi sampai sekarang Nathan masih takut.


"Kok dia yang pingsan sih?!" kata Sabrina.


"diemin aja ntar juga bangun." kata Adit santai.


"Ihh kasian tau!" sungut Sabrina.

__ADS_1


"Aduhh sayang biarin aja, nanti gue kentutin juga bangun." Ujar Adit bercanda. Dia tidak sadar kalau didekatnya ada Alya.


"Katanya suka sama gue, tapi bilang sayang ke semuanya!" Ujar Alya kesal lalu masuk kelas sambil menghentakkan kakinya kencang seolah-olah ia ingin merubuhkan sekolahnya ini.


Adit menoleh kebelakang. "Lah?"


"Nahlo, Lo sih jadi cowok begitu." ujar Gerlad kepada Adit.


"Berarti..." Adit menggantung ucapannya lalu masuk kelas menyusul Alya.


"Ga jelas banget." Gumam Gerald.


"ALYAA! Lo marah sama gue?" Adit membalikan kursi kosong yang berada di depan Alya. Kini keduanya berhadapan.


"IYA! KENAPA?"


"Gara-gara gue manggil Sabrina sayang?"


"IYA!"


"Berarti lo suka sama gue? Lo cemburu kan?"


"IY– ENGGAK! GUE GA CEMBURU! NGAPAIN CEMBURU?" Alya menahan malu saat dirinya hampir keceplosan.


"ngaku aja kalo Lo suka sama temen gue." ujar Gerlad kepada Alya.


"iya, kalo gua punya cewe lain nanti nangess," timpal Adit.


......***......


"Iya, gue nyari dia dulu ya? nanti kalo udah selesai gue langsung nyusul elo,"


"Iya gih sana,"


Arania memasukan bukunya ke kolong meja kemudian segera keluar kelas. Arania berjalan ke arah kantin, ia melihat sosok yang sedang dicari tetapi kenapa penampilan rambutnya agak berbeda ya? ah! mungkin Gerald habis potong rambut.


Arania berlari ke arah Rangga kemudian langsung menarik tangan Rangga. "aku mau ngomong sama kamu." ujar Arania.


Rangga terkejut, "bang bentar ya, nanti saya kesini lagi." Ujar Rangga kepada tukang ketoprak.


"Ayoo," Arania menarik Rangga menuju kursi kosong yang berada di kantin.


"ni orang sebenernya siapa sih?" Batin Rangga.


"Maafin aku ya?"


"Hah?" Rangga mengerutkan keningnya bingung.


"Iya maafin aku plisss... kemaren bukan aku yang mulai, tapi Kafka."


"Apaan sih? Lo siapa? Gak jelas banget,"


Dunia Arania seakan runtuh, bahunya merosot. "Gerald... kamu kok gitu sih?"


"Hah? Gerald? Gue bukan Gerald!"

__ADS_1


"Jangan bercanda! dikira kalo kamu potong rambut gitu aku gak bisa ngenalin kamu gitu?!"


"Lo ga bisa baca name-tag nya?" Arania dan Rangga menoleh ke sumber suara itu bersamaan.


"K-kok Gerald ada dua?!"


"Dia Rangga, gue Gerald. Lain kali baca name-tag nya biar gak salah orang." ujar Gerlad.


"Gerald aku mau ngomong,"


Gerald mengode Rangga lewat tatapannya kemudian Rangga pergi. "Mau ngomong apa?" Gerald menatap Arania dingin.


"A-aku minta maaf,"


"minta maaf soal apa?"


Arania menunduk. "Yang kemarin."


"Lupain aja."


"Kamu marah banget ya?"


"Kalo iya kenapa kalo engga kenapa?"


"aku kan cuma nanya."


"Pertanyaan Lo ga penting." Setelah mengatakan itu Gerald pergi meninggalkan Arania.


"GERALD!"


Gerald berhenti kemudian menoleh ke belakang. "Sebesar apapun masalah kita, kamu jangan pernah akhirin hubungan ini ya?"


"Gue gak janji Ra." jawab Gerald dalam hati lalu melanjutkan jalannya.


"Kenapa gak dijawab? Marah banget ya dia sama gue?" Gumam Arania.


...***...


Sepulang sekolah Arania langsung pergi ke rumah sakit tempat dimana abangnya dirawat.


Arania memandangi wajah Bryan dengan tatapan sendu. "Abang kapan bangun? Jangan lama-lama tidurnya." Ujarnya sambil menyeka air matanya.


Ceklek


"Oh udah dateng. Nih makan dulu, laper kan Lo?" Vanya menyodorkan kotak berisi nasi dan ayam geprek yang dibelinya tadi.


Arania menerimanya, "makasih kak."


"Iya. Lo kesini naik apa? Naik ojol atau di anter pacar lo?"


"Naik ojol, dia gak bisa nganter."


"Kenapa emang?"


Arania diam sejenak. "Dia sibuk,"

__ADS_1


"Ohh."


__ADS_2