Cowok Dingin VS Cewek Bar-Bar

Cowok Dingin VS Cewek Bar-Bar
12-Salah Paham


__ADS_3

Hari ini Arania pergi ke sekolah sendiri karena Gerald tak kunjung menjemputnya. Gerbang sekolah sudah ditutup oleh satpam, Arania langsung berlari dengan cepat.


"Pakk! bukain dong!" Arania berteriak agar satpam di sekolahnya mendengar.


"loh kok gak ada?" ujar Arania saat melihat pos satpam itu kosong. Arania memilih menunggu, jika satpamnya kembali ia minta dibukakan gerbangnya.


Setelah lama menunggu, satpam itu tak muncul juga. "ck, terpaksa gue harus balik lagi deh," gerutu Arania lalu berjalan meninggalkan sekolah.


Tinn Tinn!


Arania terkejut dengan suara klakson motor itu. "Kenapa balik?" sang pengendara motor itu membuka helmnya. Dia adalah Gerald.


"gerbang sekolah udah ditutup."


"ayo naik," perintah Gerald kepada Arania.


Arania berlari menuju Gerald lalu segera menaiki motor Gerald. "udah?" Tanya Gerald memastikan.


"udah," Setelah itu Gerald melajukan motornya.


"eh? kok kesini arahnya?" Arania kebingungan karena Gerald membawanya ke belakang sekolah.


"disini pagarnya ga terlalu tinggi, jadi kita bisa lewat sini." Ujar Gerlad.


"kalo ada guru lewat gimana?"


"guru jarang ada yang lewat sini."


"kata siapa?"


"kata Adit."


"Adit temen kamu?"


"temen kakek gue." sahut Gerald datar.


Arania tertawa sambil memukul lengan Gerald. "kamu mah gitu," Arania masih tertawa terbahak-bahak.


Gerald tersenyum tipis, sangat tipis, saat melihat Arania kembali tertawa. Tidak seperti kemarin.


"Ayo, siapa dulu yang manjat?"


"kamu dulu aja, nanti tungguin aku ya?" ujar Arania.


Gerald bergumam lalu segera memanjat pagar, sesampainya di atas Gerald langsung melompat.


"cepet naik,"


Arania mengangguk kemudian mulai menaiki pagar, "kaki aku gemeteran!"


"jangan panik, cepetan!"


Arania melanjutkan menaiki pagar itu. sampai atas ia diam sejenak. "aku takut!"


"gapapa, gue tangkep cepet lompat."


"jangan ngintip!


Gerald menghela napas lelah. "HEY SIAPA ITU!" Teriakan itu mengejutkan Gerald dan Arania.


"aduhh ada guru gimana dong?!" Arania ketakutan tak lama kemudian Pak Riza datang dengan kedua tangan dipinggang.


"KALIAN NGAPAIN DISINI?! SUDAH JAM PELAJARAN KENAPA MASIH DISINI?! MAU BOLOS YA??" Tuduh Pak Riza.


"ENGGAK KOK PAK!" Bantah Arania, ia masih di atas pagar.


"KAMU TURUN! KALIAN BERDUA LARI KELILING LAPANGAN 5 PUTARAN!"


...***...


Pada akhirnya Arania dan Gerald dihukum bersama. Pak Riza tetap mengawasi mereka berdua, Arania berharap Pak Riza pergi dari lapangan.

__ADS_1


"Pak! Tiga putaran aja ya? capekk..." Ujar Arania dengan napas tersengal.


"Mau nambah tiga putaran? yaudah gapapa."


Arania mendengus. "Ngeselin amat sih tu guru," gerutu Arania pelan.


"Udah lari aja," ujar Gerlad.


"iya-iya!"


"kalian tetap lari, saya mau ngawasin lantai atas dulu." Kemudian Pak Riza pergi dari lapangan.


Arania berhenti membuat Gerald mengerutkan dahi. "ayo lari, ngapain berhenti?"


"capek tau! emang kamu gak capek?"


"ga."


"KALIAN NGAPAIN BERHENTI?! CEPAT LARI LAGI!"


"Duhh pak Riza ngawasin Mulu deh," Arania lanjut berlari.


"Tinggal satu putaran doang. jangan ngeluh," ujar Gerlad membuat Arania cemberut.


...***...


"Tumben lu jam segini baru dateng," Adit menyenggol lengan Gerald.


"Kesiangan, terus dihukum ama pak Riza." jawab Gerald.


"dihukum ngapa dah?" Nathan gantian bertanya.


"tadi gue manjat pager ama Arania, tapi dia kelamaan jadi pas pak Riza kesitu kita berdua belom sempet kabur,"


"hahaha enak dong dihukum bareng pacar," ujar Adit.


"enak matamu," sahut Gerald.


...***...


Sarah mendorong muka Arania. "ihhh apa si Ra..."


"ihh muka gua ga item kan tapi?"


"enggak, masih cakep kok."


Arania tersenyum senang. "kalo cantik mah dari dulu," ujar Arania.


"Bang Bryan udah sadar?" Sarah bertanya.


raut wajah Arania berubah jadi sedih. "Abang koma," ujar Arania pelan.


Hati Sarah ikut sakit mendengarnya Karena Bryan selalu baik padanya. Selang beberapa detik bel istirahat pertama berbunyi. "yuk Sar,"


"Ra, gue pengen ngomong sama lo." Kafka memanggil Arania.


Arania menoleh. "iya ngomong aja sekarang,"


"ga bisa. gue maunya ngomong berdua." ujar Kafka.


Arania melirik Sarah, Sarah menganggukkan kepalanya. "mau ngomong dimana?" tanya Arania.


"taman belakang sekolah aja."


Arania berjalan di depan Kafka menuju taman. "Lo mau ngomong apa?" tanya Arania langsung.


"Gue suka sama lo." ujar Kafka tanpa basa basi.


"Tap–"


"Gue tau lo pacar Gerald. Tapi boleh ga? Lo lepas Gerald terus lo jadian sama gue?"

__ADS_1


"Apa sih Kaf? Gue ga mau." Arania marah sekarang.


"Lo inget pas lo bilang suka sama gue? disitu gue udah seneng Ra, seolah-olah Lo ngasih setitik harapan buat gue. tapi ternyata Lo malah bercanda."


"Iya. gue emang bercanda, harusnya lo ketawa, bukan jatuh cinta. Ada Naura yang suka sama lo, tapi kenapa lo harus suka sama gue? buka mata lo Kaf, Sekali aja lo lirik Naura, dia yang suka sama lo. bukan gue."


Tiba-tiba Kafka menarik Arania kedalam pelukannya. "Gue sukanya sama lo. Bukan Naura, ataupun yang lain." Saat itu juga Gerald melewati taman, Gerald tidak menghampiri Arania dan Kafka. Ia masih memperhatikan interaksi keduanya.


"tapi gue ga mau Kafka." Arania tidak memberontak saat dipeluk Kafka. ia masih terkejut.


"Ayolah Ra."


"Apasih?! kok maksa!" kini Arania berusaha melepas pelukan Kafka. "Lepasin Kafka!"


"Gue gak mau."


"lepasin cewek gue." Arania dan Kafka terkejut dengan suara itu sampai pelukan Kafka terlepas.


Gerald mendekat kemudian menghajar Kafka membabi buta. Arania jadi panik karena Gerald tidak berhenti. "Gerald! udah!" pekik Arania.


"Udah Gerald! nanti anak orang mati!" pekik Arania lagi.


Gerald berhenti kemudian menatap Arania sekilas, dari tatapannya Arania tahu kalau Gerald marah, Gerald kecewa. Kemudian Gerald pergi dari tempat itu tanpa mengucapkan sepatah katapun.


Arania mematung lalu melirik Kafka yang tersungkur di tanah. "Ayo bangun," Arania mengulurkan tangannya untuk membantu Kafka.


"Ga usah. Lo pergi aja," Kafka tidak menerima uluran tangan Arania.


"Yaudah kalo ga mau dibantu. gue pergi." Arania pergi mencari Gerald. Di lorong sekolah Arania bertemu dengan Naura. "Nau! Kafka di taman tuh. Abis berantem, tadi gue mau tolongin tapi dia ga mau." ujar Arania.


"Oh iya Ra, makasih ya."


Arania mengangguk kemudian meninggalkan Naura. Naura berlari menuju taman, ia melihat Kafka yang sedang bersandar pada pohon besar. "Ayo aku bantu," ujar Naura.


Kafka mendongak menatap Naura. "Ngapain disini?"


"Mau bantu kamu."


"Lo suka sama gue?" tanya Kafka.


Pipi Naura memerah seperti kepiting rebus. "kenapa emang?"


"jauhin gue."


senyum Naura luntur. "kenapa?"


"Gue ga suka cewek culun kayak lo. Jauhin Gue mulai sekarang, gue suka sama Arania bukan Lo."


"Ohh gitu ya? yaudah gapapa kalo kamu ga suka sama aku. Tapi tolong, jangan hancurin hubungan Arania dan Gerald."


"Gue ga peduli."


...***...


Pulang sekolah Arania langsung mencari Gerald di parkiran. Saat menemukan Gerald, Arania diam menahan sesak di dadanya. Gerald memasangkan helm pada Athaya. Gerald sempat melirik Arania sekilas, Arania tersenyum kemudian ia memilih mundur. Arania berjalan sesekali melirik kearah belakang, Gerald tidak mengejarnya. Mungkin lelaki itu terlanjur marah padanya.


Arania berdiri di depan gerbang sekolah, memandang ke arah depan dengan tatapan kosong. Saat mendengar suara motor Gerald, Arania segera menoleh ke samping, Gerald membonceng Athaya. Arania menoleh kedepan lagi, tidak ingin hatinya tambah sakit. Gerald juga tetap mendiamkan Arania.


Saat Gerald pergi, bahu Arania merosot kemudian ia mengambil ponselnya yang berada di dalam tas.


...Kak Vanya...


^^^kakak bisa jemput aku disekolah gak? hp aku lowbat jd ga bisa pesen ojol.^^^


...***...


Gerald telah sampai di rumahnya. Ia membuka pintu, namun Gerald berhenti di ambang pintu saat seorang laki-laki berdiri di depannya.


Jantung Gerald berdebar kencang. "Ra-Rangga?"


Laki-laki tadi tersenyum bahagia. "Abang." Gerald menganga tidak percaya, ia belum sempat mencari adiknya tetapi kini adiknya muncul di hadapannya.

__ADS_1


__ADS_2